Barometer Bali | Denpasar – Dugaan persoalan dalam praktik arisan online kembali mencuat di Bali. Kali ini, puluhan anggota grup WhatsApp arisan Twins_SJ mengaku mengalami kerugian dengan nilai yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Para member pun mulai bersiap menempuh langkah hukum setelah dana mereka disebut tidak kunjung dicairkan.
Berdasarkan keterangan sejumlah korban, arisan tersebut pada awalnya berjalan lancar dan menarik minat banyak peserta karena menawarkan keuntungan cepat dalam setiap putaran. Selain skema arisan, pengelola berinisial NNS (31) alias SJ juga diduga menawarkan program investasi tambahan di luar arisan dengan imbal hasil puluhan juta rupiah.
Salah satu korban, ND (28), mengaku telah bergabung sejak 2024 hingga 2025. Pada tahap awal, sistem berjalan normal sehingga menumbuhkan kepercayaan peserta.
“Bahkan saya sempat mengikuti program investasi senilai Rp80 juta dan memperoleh pengembalian Rp100 juta pada putaran awal,” ungkapnya di Denpasar, Minggu (29/3/2026).
Namun, ketika hendak menarik dana berikutnya, pencairan disebut terus tertunda dengan berbagai alasan hingga ND mengaku mengalami kerugian sekitar Rp300 juta.
Menurut ND, jumlah anggota grup arisan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 150 orang. Dari jumlah itu, sekitar 85 anggota diduga mengalami kerugian dengan total nilai kolektif yang diperkirakan menembus Rp10 miliar.
Aktivitas arisan ini disebut tidak hanya berlangsung di Bali, tetapi juga menjangkau wilayah lain seperti Surabaya.
Seiring munculnya keluhan dari para peserta, ND mengungkapkan bahwa pengelola arisan diduga keluar dari grup WhatsApp. Kondisi tersebut memicu keresahan anggota yang merasa hak mereka belum dipenuhi.
Ia mengaku memilih bersuara agar tidak muncul korban baru. Terlebih, menurutnya, ketika sejumlah member menanyakan kejelasan dana, sempat muncul dugaan adanya ancaman maupun intimidasi.
“Pernah salah satu usaha teman kami didatangi preman,” katanya.
Korban lainnya, SN (26), juga mengaku mengalami kerugian setelah mengikuti arisan tersebut kurang dari satu tahun. Ia menyebut pada awalnya sistem berjalan lancar, namun belakangan banyak anggota kesulitan menarik dana.
“Saya belum ada ikut setahun, memang selama awal ikut lancar. Tapi seiring waktu banyak member yang mengaku dirugikan. Termasuk kerabat dekat saya juga. Saya sempat diminta menunggu gate berikutnya, atau kalau ingin ambil hari itu harus dipotong 50 persen. Saya pilih dipotong 50 persen, tapi saat ditagih tetap tidak ada dengan berbagai alasan,” tuturnya.
Dalam operasionalnya, pengelola arisan disebut tidak bekerja sendiri. SJ diduga dibantu suaminya berinisial WAEW, dengan transaksi penyetoran dana arisan maupun investasi menggunakan rekening pribadi keduanya.
Para korban kini berencana melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian guna memperoleh kepastian hukum atas kerugian yang mereka alami.
Sementara itu, upaya konfirmasi awak media kepada SJ melalui pesan maupun panggilan WhatsApp belum mendapat tanggapan. Hingga berita ini ditayangkan, nomor yang bersangkutan diketahui tidak aktif. (red)











