Ancaman Kandungan Mikroplastik di Sayuran yang Kamu Makan!

BARO JUNE F 38
Ancaman kandungan mikroplastik di sayuran yang kita makan, hati-hati! (barometerbali/dok.net)

Barometer Bali | Denpasar –  Penelitian di laboratorium Universitas Murdoch, Perth, Australia, menunjukkan beberapa fakta terkait kandungan mikroplastik dalam bahan makanan, sebagai berikut:

Penelitian terbaru menyebutkan mikroplastik di tanah 23 kali lebih banyak dibandingkan lautan. Partikel kecil ini masuk ke tanaman dan berpotensi mencemari rantai makanan manusia.

Plastik yang terakumulasi di tanah mengandung 10.000 zat aditif kimia. Ini berdampak pada gangguan hormon, sistem syaraf hingga risiko penyakit kronis lainnya. 

Peneliti mengembangkan Smart Sprays Project, semprotan bioplastik yang mampu meningkatkan efisiensi pertanian. Inovasi ini dapat terurai secara alami tanpa meninggalkan residu.

Selain itu, penelitian tentang larva ulat lilin menunjukkan bahwa organisme ini memiliki potensi dalam membantu biodegradasi plastik berbasis fosil.

Tak hanya bagi lingkungan, sampah plastik juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.

Mikroplastik, ukurannya hanya kurang dari 5 mm mencemari lautan hingga lahan pertanian bisa masuk ke dalam tubuh manusia.

Riset tinjauan terbaru dari Universitas Murdoch menyebutkan ada 23 kali lebih banyak mikroplastik di lahan pertanian daripada lautan.

Berita Terkait:  Perkuat Layanan Kedaruratan, RSUD Singasana Kini Miliki Ambulans Senilai Rp301 Juta dari Program CSR BPD

“Mikroplastik ini mengubah lahan penghasil makanan kini justru berubah menjadi tempat pembuangan plastik,” ujar Joseph Boctor, kandidat doktor Universitas Murdoch, Australia yang memimpin penelitian ini.

Riset tinjauan yang dipublikasikan dalam Jurnal Environmental Sciences Europe juga menemukan bahwa plastik yang terakumulasi di tanah terpapar hingga 10.000 jenis zat aditif kimia.

Sebagian besar di antaranya, tidak diatur dalam pertanian.

Joseph Boctor adalah salah satu peneliti dari Bioplastics Innovation Hub, Universitas Murdoch, Australia.

Partikel mikroplastik hingga nanoplastik yang ada dalam tanah masuk ke rantai makanan melalui sistem akar.

Kontaminasi ini bisa terjadi mulai dari penggunaan mulsa plastik untuk menjaga kelembapan tanah, pupuk, hingga partikel yang jatuh bersama hujan dari awan.

Riset ini juga menunjukkan baik mikroplastik maupun nanoplastik ditemukan pada selada, gandum dan wortel.

Joseph Boctor menyebutkan zat aditif tersebut dapat mengganggu hormon manusia.

Ia juga menyoroti terkait transparansi industri plastik akan kandungan zat aditif yang terlalu banyak.

Meski tercantum keterangan BPA (Bisphenol A)-Free pada kemasan, itu bukan berarti bebas risiko.

Berita Terkait:  Harus Diwaspadai Dapur Jadi Sarang Mikroplastik, Begini Cara Cegah Masuk ke Tubuh

“Bahan kimia pengganti seperti BPF (Bisphenol F) dan BPS (Bisphenol S) menunjukkan aktivitas pengganggu hormon yang sebanding atau bahkan lebih tinggi,” jelasnya.

Penggunaan plastik pada lahan pertanian berpotensi menciptakan pencemaran pada tanah.

Lahan pertanian di pesisir Kulonprogo, Yogyakarta yang terancam tambang pasir.

Tantangannya, regulasi dalam menekan risiko ini tertinggal jauh di belakang ilmu pengetahuan.

Sementara itu, industri bergerak lebih cepat dari keduanya.

Selain mengganggu hormon, riset ini juga menyoroti aditif lain dalam tanah seperti Phthalates (masalah reproduksi) dan PBDEs (zat penahan api yang bersifat neurotoksik).

Keduanya terkait dengan penyakit neurodegeneratif, peningkatan risiko stroke dan serangan jantung, serta kematian dini.

“Hal ini membuat krisis plastik tidak terkendali dan kesehatan manusia terancam,” katanya.

Boctor bekerja sama peneliti lainnya di Bioplastics Innovation Hub menciptakan jenis plastik yang tak hanya aman, tapi terurai secara alami di tanah, daratan dan air.

Inovasinya bernama Smart Sprays Project, yakni semprotan berbasis bioplastik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam pertanian.

Berita Terkait:  RS Siloam Bali Luncurkan Program “Chest Pain Ready Hospital”, Respons Nyeri Dada Kini Ditangani dalam Hitungan Menit

Manfaat dari teknologi ini adalah dapat membentuk penghalang air di tanah untuk membantu menampung air hujan dan mengurangi penguapan.

Harapannya, mereka dapat memperkenalkan plastik ramah lingkungan ke pasar yang akan meminimalkan dan pada akhirnya menghilangkan kebutuhan akan produksi plastik yang tidak berkelanjutan di seluruh dunia.

Ulat Lilin Pemakan Plastik

Joseph Boscor juga sedang mengembangkan riset mengenai kemampuan larva ulat lilin (Galleria mellonella) memakan plastik.

Riset ini menunjukkan bahwa larva serangga ini memiliki kemampuan unik untuk mengonsumsi dan mencerna plastik berbasis fosil, seperti polietilena dan polistirena.

Kemampuan ini diyakini berkembang karena kebiasaan alami mereka memakan sarang lilin lebah, yang memiliki struktur kimia mirip dengan plastik.

“Larva ulat lilin ini dapat mengonsumsi dan memecah plastik, berkat enzim yang mirip dengan yang digunakan untuk mencerna lilin lebah,” katanya.

Kemampuannya ini berkat mikroorganisme yang terdapat di dalam usus mereka.

Mikroba dalam sistem pencernaan ulat lilin berkontribusi dalam memecah plastik menjadi senyawa yang lebih sederhana, mempercepat proses biodegradasi. (ari)

 

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI