Barometer Bali | Badung – Diskusi Publik “Sang Pewahyu Rakyat” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PM Universitas Udayana berlangsung demokratis dan partisipatif. Ribuan mahasiswa memadati Aula Auditorium Widya Sabha, Jimbaran, Rabu (18/2), dalam forum dialog terbuka bersama Gubernur Bali, Wayan Koster.
Kegiatan yang menjadi ruang evaluasi setahun kepemimpinan Pemprov Bali/DPRD ini menghadirkan dialog dua arah. Mahasiswa menyampaikan pandangan kritis, sementara Gubernur Koster memaparkan arah kebijakan strategis Bali periode 2025–2030.
Dalam pemaparannya, Koster menegaskan pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan.
“Selain memberi manfaat positif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat Bali, pembangunan Bali juga menimbulkan permasalahan terhadap Alam, Manusia, dan Kebudayaan Bali,” jelasnya.
Ia merinci berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan sawah, persoalan sampah dan kerusakan ekosistem, ancaman ketersediaan air bersih, kemacetan, hingga kesenjangan ekonomi wilayah Sarbagita dan luar Sarbagita.
Selain itu, ia juga menyoroti meningkatnya praktik pembelian aset atas nama masyarakat lokal, kasus narkoba, prostitusi, hingga munculnya komunitas asing eksklusif yang dinilai berdampak pada keorisinilan budaya Bali.
Program 1 Keluarga 1 Sarjana
Dalam forum tersebut, Koster turut menyoroti fenomena langkanya anak ketiga (Nyoman) dan keempat (Ketut) di Bali yang menurutnya berimplikasi pada keberlanjutan budaya dan demografi Bali ke depan.
Untuk mengantisipasi potensi defisit penduduk pada 2050, Pemprov Bali mendorong perubahan paradigma kependudukan dengan kebijakan KB empat anak atau lebih.
“Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 dan ke-4 akan dibantu dari sejak hamil hingga melahirkan, dibantu sekolahnya sampai dengan Sarjana melalui program 1 Keluarga 1 Sarjana sehingga terwujud sumber daya manusia (SDM) Bali unggul,” imbuhnya.
Program tersebut menjadi bagian dari Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, yang menekankan pelestarian geografis Bali, perlindungan gunung, laut, danau, sungai, mata air, hingga pengendalian alih fungsi lahan dan kepemilikan tanah.
Kampus sebagai Mitra Strategis
Rektor Universitas Udayana, Prof. I Ketut Sudarsana, mengapresiasi inisiatif BEM dalam menghadirkan ruang diskusi kritis yang substansial.
“Sebagai Perguruan Tinggi, Universitas Udayana tidak boleh menjadi menara gading, melainkan kampus harus menjadi ruang refleksi kritis dan mitra strategis pemerintah daerah,” ungkapnya.
Ia menegaskan, forum seperti ini penting untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis akademik serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas pemerintahan.
Diskusi “Sang Pewahyu Rakyat” menjadi bukti bahwa ruang demokrasi kampus tetap hidup, dengan mahasiswa aktif mengawal kebijakan publik secara konstruktif. Forum ini juga memperlihatkan sinergi antara pemerintah daerah dan kalangan akademisi dalam merumuskan masa depan Bali yang berkelanjutan dan berkeadaban. (red)











