Asal Usul dan Sejarah Isyarat Jari Tengah “F*ck Y*u”

Screenshot_20250822_064115_InCollage - Collage Maker
Filsuf Aristophanes dalam naskah komedinya The Clouds (423 SM) menyebutkan isyarat ini sebagai simbol yang kasar dan merendahkan. (barometerbali/red)

ISYARAT mengacungkan jari tengah atau yang dikenal luas dengan sebutan “fuck you” gesture merupakan salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang paling kontroversial di dunia. Gerakan ini dipahami secara universal sebagai ekspresi penghinaan, kemarahan, atau penolakan keras, namun di balik itu terdapat sejarah panjang yang menarik.

Berikut penjelasan yang dirangkum dari berbagai sumber terkait asal-usul dan sejarah isyarat “jari tengah” (fuck you).

Akar Sejarah di Dunia Kuno

Jejak pertama penggunaan jari tengah dapat ditelusuri hingga Yunani Kuno. Filsuf Aristophanes dalam naskah komedinya The Clouds (423 SM) menyebutkan isyarat ini sebagai simbol yang kasar dan merendahkan. Dalam konteks Yunani, jari tengah dianggap sebagai representasi alat kelamin pria, sementara jari-jari lain melambangkan buah zakar. Dengan demikian, gerakan ini sejak awal sudah berkonotasi seksual sekaligus hinaan.

Berita Terkait:  Demokrasi Menyimpang dan Kekuasaan yang Menghalalkan Segala Cara

Tradisi ini berlanjut ke Romawi Kuno, yang menyebut jari tengah sebagai digitus impudicus atau “jari tidak senonoh.” Catatan dari sejarawan Romawi, Martial, menunjukkan bahwa gesture ini digunakan untuk mengusir roh jahat, namun sekaligus menjadi cara menghina orang lain.

Perjalanan ke Dunia Modern

Masuknya simbol ini ke dunia Barat modern kemungkinan melalui warisan budaya Latin dan kemudian menyebar di Eropa. Pada abad pertengahan hingga awal modern, isyarat ini masih dianggap tabu dan identik dengan pelecehan.

Legenda populer, meski diragukan keasliannya, menyebutkan bahwa pada Perang Agincourt (1415), para pemanah Inggris memperlihatkan jari tengah kepada tentara Prancis sebagai ejekan, menandakan mereka masih bisa menarik busur panah. Walaupun cerita ini tidak didukung bukti kuat, kisah tersebut ikut memperkuat mitos sejarah jari tengah di Eropa.

Berita Terkait:  Menuju 2026: Alarm Zaman, Refleksi Media, dan Tanggung Jawab Wartawan bagi Bangsa

Populer di Amerika

Penggunaan jari tengah sebagai makian modern mulai tercatat jelas di Amerika Serikat abad ke-19. Salah satu bukti tertua adalah foto tahun 1886 yang menampilkan pemain bisbol Boston Beaneaters, Charles Radbourn, dengan terang-terangan mengacungkan jari tengah ke kamera. Dari sinilah simbol ini semakin diasosiasikan dengan ejekan vulgar.

Dalam budaya populer, khususnya musik rock, hip-hop, hingga film Hollywood, jari tengah kerap digunakan sebagai simbol pemberontakan, ekspresi kemarahan, atau bentuk perlawanan terhadap otoritas.

Berita Terkait:  Bali Tak Kekurangan Aturan, Tapi Kekurangan Aparat yang Bekerja

Makna Kontemporer

Kini, isyarat jari tengah dipahami secara global dengan makna utama:

Penghinaan langsung: ekspresi “fuck you” atau “screw you.”

Simbol perlawanan: sering dipakai sebagai penolakan terhadap aturan, otoritas, atau tekanan sosial.

Ungkapan bercanda: dalam lingkaran pertemanan, kadang digunakan tanpa makna serius, lebih sebagai gurauan.

Meskipun begitu, di banyak negara, termasuk Indonesia, gesture ini tetap dianggap kasar dan tidak pantas dalam ruang publik.

Jadi, jari tengah bukan hanya sekadar simbol modern, melainkan warisan panjang dari dunia kuno yang masih dipertahankan hingga kini sebagai ekspresi universal penghinaan dan perlawanan. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI