Barometer Bali | Denpasar – Bali bukan hanya soal pantai dan sunset.
Pulau Dewata juga punya banyak desa wisata yang menyuguhkan pesona budaya, alam, dan tradisi yang autentik.
Bahkan, salah satu desanya sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Penasaran? Yuk, intip 6 desa wisata terindah di Bali berikut ini:
1. Desa Penglipuran – Desa Tradisional Terbersih di Dunia
Terletak di Kecamatan Bangli, Desa Penglipuran adalah salah satu desa adat Bali yang sudah ada sejak 700 tahun lalu.
Nama “Penglipuran” sendiri berarti tempat untuk mengenang leluhur.
Desa ini dikenal dengan tata ruang yang sangat rapi, rumah-rumah seragam, serta arsitektur Bali klasik yang tetap lestari.
Keunikan Penglipuran tak hanya dari bentuk fisiknya, tapi juga nilai-nilai kearifan lokal yang dipegang teguh, seperti konsep Tri Hita Karana dan hukum adat awig-awig.
Udara sejuk dan suasana yang tenang membuat desa ini jadi favorit wisatawan yang ingin merasakan kedamaian khas Bali.
Desa Penglipuran sudah beberapa kali mendapat penghargaan, seperti: predikat Desa Wisata Terbaik Dunia dari UNWTO pada tahun 2023, dinobatkan menjadi Desa Terbersih Dunia (peringkat 3) oleh UNESCO, pada tahun 2024, selain itu juga menerima penghargaan Kalpataru Lestari pada tahun 2025, dan masuk dalam Top 100 destinasi wisata berkelanjutan terbaik dunia.
2. Desa Ubud – Jantung Seni dan Budaya Bali
Siapa yang tak kenal Ubud? Desa yang terletak di Kabupaten Gianyar ini merupakan pusat seni dan budaya Bali.
Dikelilingi sawah, hutan tropis, dan jurang alami, Ubud menawarkan pemandangan alam yang menenangkan dan inspiratif.
Sejak abad ke-8, Ubud sudah dikenal sebagai tempat spiritual.
Kini, desa ini dipenuhi galeri seni, museum, pertunjukan tari, serta pasar tradisional yang menjual aneka kerajinan lokal.
Ubud juga terkenal karena pernah menjadi tempat tinggal seniman dunia Walter Spies dan Rudolf Bonnet, yang membantu mempopulerkan seni lukis gaya Bali.
3. Desa Tenganan – Rumah Asli Bali Aga
Berbeda dari desa adat Bali pada umumnya, Desa Tenganan yang berada di Kabupaten Karangasem merupakan salah satu desa Bali Aga—yaitu komunitas asli Bali sebelum masuknya pengaruh Hindu dari Jawa.
Di desa ini, aturan adat masih sangat ketat.
Misalnya, warga hanya boleh menikah sesama penduduk desa.
Desa ini juga terkenal dengan tradisi Perang Pandan (Mekare-kare) sebagai bentuk penghormatan pada Dewa Indra, serta kain Gringsing—tenun ikat ganda yang hanya bisa ditemukan di sini.
Dengan tata desa yang unik dan kehidupan masyarakat yang masih sangat tradisional, Tenganan menjadi salah satu destinasi budaya yang autentik di Bali.
4. Desa Jatiluwih – Warisan Dunia dengan Sawah Terasering Menakjubkan
Inilah desa yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia—Desa Jatiluwih di Kabupaten Tabanan.
Daya tarik utamanya adalah bentangan sawah terasering hijau yang memanjakan mata, serta sistem irigasi tradisional Subak yang masih dijaga hingga kini.
Desa ini terletak di lereng Gunung Batukaru dan berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, sehingga suasananya sejuk dan asri.
Wisatawan bisa trekking atau bersepeda menyusuri jalur sawah, mengunjungi pura-pura, atau sekadar menikmati ketenangan alam pedesaan.
Tak heran jika Jatiluwih masuk daftar 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024.
5. Desa Trunyan – Misteri Pemakaman di Bawah Pohon Taru Menyan
Bagi kamu yang suka wisata budaya yang unik dan sedikit misterius, Desa Trunyan di tepi Danau Batur, Kintamani, adalah tempat yang wajib dikunjungi.
Desa ini terkenal dengan tradisi pemakamannya yang tidak biasa: jenazah diletakkan di bawah pohon Taru Menyan tanpa dikubur atau dikremasi.
Aroma harum dari pohon Taru Menyan membuat jenazah tidak berbau dan tidak mengundang lalat.
Desa ini juga masih memegang adat Bali Aga dengan pembagian area pemakaman berdasarkan jenis kematian.
Untuk menuju ke sana, pengunjung harus naik perahu dari Desa Kedisan—pengalaman yang tak terlupakan!
6. Desa Batubulan – Surga Ukiran Batu dan Seni Tari
Terletak di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Desa Batubulan terkenal sebagai pusat seni pahat batu dan pertunjukan tari khas Bali.
Nama “Batubulan” berasal dari kisah mitologis yang menggambarkan cahaya bulan di atas batu hitam—yang juga menjadi inspirasi dari banyak karya seninya.
Desa ini kerap menjadi tempat pertunjukan tari Barong dan Legong setiap harinya.
Selain itu, deretan galeri seni, workshop patung batu, serta para seniman lokal membuat Batubulan hidup dengan nuansa seni yang kuat.
Cocok buat kamu yang ingin membawa pulang hasil karya autentik khas Bali!
Keenam desa wisata ini membuktikan bahwa Bali punya lebih dari sekadar pantai dan resort mewah.
Dari desa dengan aturan adat ketat, pusat seni budaya, sampai desa dengan warisan dunia, semuanya menawarkan pengalaman autentik yang sarat makna.
Jadi, kalau kamu ke Bali, jangan lupa singgah ke salah satu (atau semua) desa ini—siapa tahu kamu menemukan sisi Bali yang belum pernah kamu lihat sebelumnya! (ari)











