Bali-Toba Bersatu dalam Seni Pameran di Griya Santrian Denpasar

IMG_20250723_191643
Pembukaan pameran seni Bali - Toba dalam pameran di Griya Santrian, pada Jumat (11/7/2025) (barometerbali/rian)

Barometer Bali | Denpasar – Sebuah pameran lukisan bertajuk ‘Weaving the Colours of the Archipelago’ Pertiwi Negeriku, Toba – Bali Art Project 2025 digelar di Griya Santrian Gallery, Denpasar, pada (11/7/2025)

Kolaborasi seniman perupa asal Toba, Kabupaten Toba, Sumatera Utara (Sumut) bersama dengan perupa Bali ini digelar pada 11 Juli hingga 30 Agustus 2025. Total sebanyak 30 karya yang dipamerkan mulai dari lukisan hingga ukiran khas Toba.

Owner Griya Santrian, Ida Bagus Gede Sidhartha Putra berharap kegiatan ini bisa menjadi event tahunan. Tak hanya itu, ia juga berharap pameran bisa menjadi momentum yang menghubungkan  Sumatera Utara dan Bali.

Berita Terkait:  Kadek Suardana dan Taksu dalam Sejarah Teater Bali Modern

“Kami berharap bola salju dari kegiatan ini bisa bergulir lebih deras dari dua komunitas. Mungkin Bali bisa menjadi hub seni maupun hub pariwisata dan kita juga berharap Danau Toba biaa menjadi hub di Indonesia bagian barat,” ungkap Gede Sidhartha Putra.

Ia optimistis, dengan adanya kolaborasi seniman Bali dan Batak melalui pameran di Griya Santrian Sanur ini akan membuat pariwisata di Toba akan berkembang pesat seperti di Bali.

“Pariwisata Bali mulai berkembang diawali dari Sanur. Sekitar tahun 1930 terdapat pelukis dari Eropa yang menetap di Bali. Tapi memang sebelumnya di tahun 1902, Bali juga sudah mulai dikenal. Pariwisata Bali berawal dari Sanur melalui seni rupa,” ungkapnya lagi.

Berita Terkait:  Pentas Seni dan Diksi dari Tribute To Kadek Suardana

Sementara, kurator pameran Wayan Seriyoga Parta menyebut, karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi ketat dari berbagai karya yang masuk. “Ada banyak karya, namun kami simpan sebagian, dan sebagian kecil kami pamerkan di sini,” tuturnya.

Seriyoga Parta menambahkan, karya-karya ini merupakan representasi dari budaya Bali dan Toba. “Karya yang dipamerkan tidak hanya seni lukis saja, namun juga ada ukiran, fotografi, dan juga keindahan Danau Toba,” sebutnya

Di sisi lain, fotografer keturunan Batak Charis Martin Purba berharap pengalaman berpameran di Bali dapat menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan seniman Toba, yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan.

Berita Terkait:  Putri Koster Minta Para Seniman Lukis Terus Ajegkan Gaya Lukisan Bali Asli

“Di Toba sendiri dukungan pemerintah terhadap seni belum maksimal, kendatipun galeri sudah ada. Sepulang dari Bali, kami juga berencana akan menggelar pameran,” tandasnya.

Pernyataan Charis ini diamini oleh Ni Ketut Ayu Sri Wardani. Ia mengakui bahwa di Toba saat ini kesenian dipandang sebelah mata. Selain itu, di Toba juga susah mencari bahan-bahan untuk melukis, misalnya  kanvas.

“Karena (kesenian) dianggap tidak punya masa depan. Padahal bakat mereka sangat tinggi. Banyak seniman Batak di Indonesia, namun mereka tidak tinggal di Toba,” kata Ni Ketut Ayu Sri Wardani. (rian)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI