Bali Tourism Review 2025 dan Outlook 2026 Bahas Strategi Daya Saing Pariwisata Bali

Screenshot_20251105_222755_InCollage - Collage Maker
Seminar Bali Tourism Review 2025 dan Tourism Destination Outlook 2026, di MICE Widyatula, Poltekpar Bali, pada 5–6 November 2025 (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Nusa Dua – Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata nasional melalui penyelenggaraan Seminar Bali Tourism Review 2025 dan Tourism Destination Outlook 2026, yang berlangsung pada 5–6 November 2025 di MICE Widyatula, Poltekpar Bali.

Acara berskala nasional bertema “Bali Tourism Review 2025 and Outlook 2026: Talks and Responses” ini dikemas dalam bentuk seminar dan diskusi interaktif, menghadirkan akademisi, pelaku industri, pemerintah, asosiasi, dan komunitas pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia. Selama dua hari, peserta diajak merefleksikan capaian pariwisata Bali sepanjang 2025 serta membahas arah pengembangannya menuju 2026.

Forum ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk menelaah tantangan yang dihadapi Bali sebagai destinasi global dan mencari solusi inovatif yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga menegaskan peran aktif Poltekpar Bali dalam menjembatani dunia akademik dengan industri pariwisata, sekaligus memperkuat posisinya sebagai center of excellence pendidikan vokasi pariwisata di Indonesia.

Dalam sambutannya, Direktur Poltekpar Bali, Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes., menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri.

“Poltekpar Bali tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga mitra strategis dalam riset, kebijakan, dan inovasi pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menegaskan, forum ini menjadi wadah untuk mengidentifikasi isu-isu krusial seperti infrastruktur, investasi, kebijakan, dan pengembangan SDM. Hasil diskusi akan dirangkum dalam dokumen Bali Tourism Review and Outlook 2026 berisi rekomendasi strategis bagi pemerintah dan industri.

Berita Terkait:  Rasanya Autentik! Rekomendasi 14 Tempat Makan Ayam Betutu di Bali

Delapan Sesi Bahas Tren dan Tantangan Pariwisata 2026

Rangkaian seminar diisi dengan delapan sesi tematik melibatkan enam narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan, di antaranya:

Dr Drs I Wayan Sumarajaya, MSi (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali),

Agus Gede Hendrayana Hermawan, SE, MSi (Kepala BPS Provinsi Bali),

Prof Dr I Gusti Bagus Rai Utama (Rektor Universitas Dhyana Pura/Undhira/Ketua Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia/Hildiktipari Bali)

Prof Dr Ida Bagus Gede Manuaba, ST, MT, IPU ASEAN Eng dan Prof Dr I Nyoman Darmaputra, MLitt (Universitas Udayana),

serta I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, SE, MBA (Ketua PHRI Badung).

Setiap sesi membahas isu strategis seperti kinerja pariwisata 2025, tren pasar 2026, pengembangan destinasi cerdas berbasis energi terbarukan, dan pembangunan pariwisata berbudaya. Diskusi dimoderatori oleh Ratna Eka N Soebrata dari PATA Bali Nusra Chapter untuk merumuskan rekomendasi konkret dalam bentuk policy brief.

Prof Rai Utama: Empat Dimensi Utama Pengembangan Destinasi Wisata

Dalam pemaparannya, Prof Dr I Gusti Bagus Rai Utama menjelaskan bahwa pengembangan destinasi pariwisata perlu dianalisis secara komprehensif melalui empat dimensi utama yang dikenal sebagai model “4A”, yakni Access, Attractions, Amenities, dan Activities.

Berita Terkait:  Terhimpit Masalah Finansial, WN Rusia Akhiri Hidup di Muding Indah

“Empat dimensi ini menjadi kunci daya saing destinasi wisata. Tanpa akses yang baik, wisatawan tidak akan datang. Tanpa daya tarik, mereka tidak tertarik. Tanpa amenitas, mereka tidak akan tinggal lama. Dan tanpa aktivitas, mereka tidak akan kembali,” ungkap Prof. Rai yang juga Ketua Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildiktipari) Bali ini.

Ia menambahkan bahwa Bali harus memperkuat keempat aspek tersebut secara seimbang. “Aksesibilitas perlu terus ditingkatkan, baik transportasi darat, laut, maupun udara. Daya tarik harus dijaga agar tetap otentik dan berbasis budaya lokal. Fasilitas pendukung atau amenitas mesti berstandar global, sementara aktivitas wisata harus mampu menghadirkan pengalaman yang unik dan berkesan,” ujarnya.

Menurutnya, dengan memperhatikan 4A tersebut, Bali akan mampu mempertahankan posisinya sebagai destinasi kelas dunia yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis kearifan lokal.

Perubahan Tren Wisata dan Tantangan Keberlanjutan

Dalam sesi lain, Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengungkapkan bahwa preferensi wisatawan kini mengalami pergeseran.
“Kalau dulu wisata sejarah dan religi lebih diminati, kini wisata kuliner dan wisata desa seperti adventure dan wisata perkotaan lebih digandrungi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kunjungan wisatawan ke Bali telah mendekati 7 juta kunjungan, namun perlu dipastikan aspek keberlanjutan dan inklusivitasnya.

Berita Terkait:  Melegenda! 5 Kuliner Khas Bali yang Populer Sepanjang Masa

“Pariwisata harus sustainable dan bisa dinikmati semua pihak. Dua PR besar kita adalah sustainability dan quality tourism,” tegasnya.

Evaluasi Peringkat dan Tantangan Kebersihan

Sementara itu, Prof. Eka Mahadewi selaku keynote speaker menyoroti penurunan peringkat Bali sebagai destinasi terindah dunia ke posisi enam.
“Di tahun 2026 kita harus mengambil langkah-langkah strategis agar Bali kembali menjadi destinasi terbaik dunia,” tandas Prof Eka yang juga Dosen Poltekpar Bali ini.

Menurut Prof. Eka, faktor penurunan ini antara lain disebabkan oleh persoalan kebersihan dan infrastruktur.

“Berdasarkan survei, masalah utama yang dikeluhkan wisatawan adalah sampah, kemacetan, dan infrastruktur yang belum memenuhi ekspektasi,” sebutnya.

Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar Bali mampu menjaga citra dan kualitas destinasi globalnya.

Sinergi untuk Masa Depan Pariwisata Bali

Melalui penyelenggaraan Bali Tourism Review 2025 dan Tourism Destination Outlook 2026, Poltekpar Bali berharap terjalin sinergi baru antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membangun pariwisata yang berkualitas, inklusif, dan berdaya saing global.

Hasil akhir kegiatan ini akan dituangkan dalam dokumen Bali Tourism Review & Outlook 2026, yang menjadi panduan pengembangan pariwisata masa depan Bali. Dengan semangat inovasi dan kolaborasi lintas sektor, Poltekpar Bali berkomitmen memperkuat posisi Bali sebagai destinasi unggulan dunia yang berlandaskan nilai budaya dan keberlanjutan lingkungan. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI