Barometer Bali | Denpasar – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali meraih apresiasi dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia atas keberhasilan mengimplementasikan praktik bisnis hijau melalui Program Inovasi UMKM Hijau Bali Tahun 2026. Apresiasi tersebut diberikan dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026 di Jakarta.
Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan terhadap upaya BI Bali dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengedepankan inovasi ramah lingkungan serta pemberdayaan masyarakat. Program tersebut dinilai sejalan dengan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk apresiasi sekaligus percontohan bagi Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah lainnya, UMKM hijau binaan BI Bali, DINZ Handmade Bali, memperoleh fasilitas showcasing khusus di ajang ISEF 2026. Fasilitas ini dimanfaatkan untuk menampilkan produk-produk hasil pengolahan limbah produksi menjadi barang baru yang memiliki nilai komersial.
DINZ Handmade Bali menerapkan praktik bisnis ramah lingkungan melalui penggunaan pewarna alami dalam setiap produknya. UMKM ini juga berkolaborasi dengan UMKM binaan BI Bali lainnya untuk mengolah limbah produksi menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Selain berorientasi pada pelestarian lingkungan, DINZ Handmade Bali turut memberdayakan kelompok perempuan lokal. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja.
Partisipasi UMKM binaan BI Bali dalam ISEF 2026 menunjukkan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan pengembangan usaha dan peningkatan nilai ekonomi produk. Pemanfaatan bahan alami serta pengolahan limbah menjadi peluang bagi UMKM untuk menghadirkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Apresiasi tersebut juga menjadi momentum bagi BI Bali untuk memperluas penerapan praktik bisnis hijau di kalangan pelaku UMKM. Pengembangan usaha yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Sementara itu, dalam rangkaian ISEF ke-13 Tahun 2026, Bank Indonesia juga memperkuat sinergi pembiayaan dan perdagangan syariah melalui Business Deals Ceremony yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menyampaikan bahwa akses modal menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri halal. Penguatan pembiayaan syariah yang terhubung dengan sektor riil dinilai penting untuk memperbesar kontribusi ekonomi syariah terhadap pertumbuhan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam seremoni tersebut, total komitmen kesepakatan pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp27,43 triliun. Komitmen itu mencakup pembiayaan proyek strategis, pasar uang dan valuta asing syariah, pembiayaan korporasi halal, kerja sama perdagangan UMKM, pembiayaan UMKM dan startup halal, serta pembiayaan sosial berbasis syariah.
Penguatan akses pembiayaan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jangkauan pasar.
Ke depan, KPwBI Provinsi Bali akan terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem UMKM hijau di Bali. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat daya saing usaha lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga pertumbuhan ekonomi Bali agar tetap inklusif dan berkelanjutan. (rah/red)










