Caption: Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) membuka secara resmi acara Peluncuran dan Bedah Buku “Transformasi Digital Perbankan”, ditandai dengan pemukulan gong.
Denpasar | barometerbali – Direktur Utama BPR Kanti I Made Arya Amitaba mengatakan, pada setiap hari ulang tahunnya, Roberto Akyuwen selalu menerbitkan sebuah buku sesuai dengan profesinya di OJK. Kali ini buku yang diluncurkan dan dibedah terkait transformasi digital perbankan yang searah dengan roadmap OJK yaitu digitalisasi perbankan.
Buku tersebut merupakan buku ke-16 dan akan ada lagi buku-buku lain yang akan diluncurkan berjudul “Transformasi Digital Perbankan” karya Dr. Roberto Akyuwen di Aula Kampus Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Sidakarya, Denpasar Selatan, Kamis (27/1/2022) pagi.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) ditandai dengan pemukulan gong.

Ia menegaskan, pemanfaatan transaksi digital merupakan sebuah keniscayaan yang bukan semata diperuntukkan bagi kelompok pengusaha besar.
“Transaksi digital sangat berpeluang dimanfaatkan oleh pelaku UMKM karena hampir sebagian besar sudah memiliki hand phone. Lebih dari itu, merujuk pada data, tingkat penggunaan internet di Bali cukup tinggi. Transaksi digital juga memberi sejumlah keuntungan antara lain mengedepankan keterbukaan dan kejujuran karena seluruh prosesnya terekam dengan baik,” ucap Cok Ace.
Dalam sambutannya Arya Amitaba menyampaikan alasan utama seluruh stakeholder harus eksis di masa transisi era konvensional menuju era
digitalisasi.
Menyikapi kondisi ini, BPR Kanti mengambil peran dan berkontribusi pada acara bedah buku “Transformasi Digital Perbankan”.
“Sangat banyak yang bertanya, kenapa BPR Kanti menggelar bedah buku?,” ujarnya seraya menyebutkan sponsor utama acara ini adalah ASLI RI.
“Di era kolaborasi ini tentu kita tidak bisa sendiri. Untuk memenangkan persaingan kita harus berkolaborasi. Peluncuran buku ini dihadiri oleh para nasabah dan mitra kerja BPR Kanti,” jelas Amitaba yang juga Ketua Umum Alumni Mahasiswa Undiknas tahun 2006 itu.

Dalam era globalisasi, Amitaba menilai dibutuhkan cara berpikir yang out of the box. Hal itulah yang mendorong BPR Kanti kerap bergerak di luar koridor BPR pada umumnya. Di mana dalam masa pandemi Covid-19, BPR Kanti justru keluar dari komunitas. Amitaba menyebut hal itu dilakukan agar mampu melihat persoalan komunitas di lembaga keuangan, khususnya BPR, koperasi, dan LPD dengan lebih jernih.
“Kenapa ekonomi Bali tidak tumbuh karena lembaga keuangan daerah tidak mengucurkan kredit. BPR Kanti awal 2021 sudah bangkit dengan diluncurkannya Tabungan Bersama di Bali,” ungkap Amitaba.
BPR Kanti juga memberikan bantuan modal kerja bagi BPR dan koperasi. Selanjutnya membantu mengatasi kesulitan likuiditas dan membuatkan produk bersama. Terakhir, membantu mendidik SDM BPR dan koperasi.
“Yakin dengan niat membantu semua pasti akan berjalan dan ternyata puji Tuhan dana berlimpah menghampiri. Bank Mayapada menyiapkan Rp5 Triliun dan BPR Kanti menjadi salah satu dari 28 BPR se-Indonesia yang mendapatkan kesempatan memanfaatkan dana tersebut dan
sudah tanda tangan senilai Rp150 miliar, Jtrust Rp100 miliar dan siap tanda tangan Rp50 miliar, OK Bank Rp50 miliar, belum bjb, BNI, dan BPD Bali,” urai Amitaba.
Menariknya, Amitaba menyebut BPR Kanti yang didirikan tahun 1988 mengusung visi mulia. “Visi ayah saya selaku pendiri adalah BPR Kanti didirikan agar bila ada masyarakat kami yang tidak diterima bekerja di tempat lain diterima bekerja di BPR Kanti. Tentunya dengan syarat dan
ketentuan tertentu” tandasnya.
BPR Kanti didirikan sebagai perusahaan bisnis yang tidak profit oriented namun ia ingin membuktikan bahwa perusahaan yang tidak profit oriented adalah profit. Terbukti laba BPR Kanti meningkat lebih dari 100 %, Tabungan 60% kredit 12%, Aset 21%. “Demikianlah gagasan dan upaya yang dilakukan agar BPR Kanti tetap bisa hidup di tengah-tengah masyarakat dengan masuk berbagai lini kehidupan masyarakat,” pungkas Amitaba. (BB/501)











