Dari Jalanan Bali ke Jayasabha, Gubernur Koster Tanggung Pendidikan untuk Tiga Anak Yatim

IMG-20260208-WA0153
Tiga anak yatim diterima Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Minggu, (8 /2/2026). Mereka datang dari daerah berbeda dan melalui peristiwa yang tidak sama. Namun ketiganya bertemu pada satu keputusan: pendidikan mereka dipastikan berlanjut. (barometerbali/red)

Barometer Bali | Denpasar – Tiga anak yatim diterima Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Minggu, (8 /2/2026). Mereka datang dari daerah berbeda dan melalui peristiwa yang tidak sama. Namun ketiganya bertemu pada satu keputusan: pendidikan mereka dipastikan berlanjut.

Dua anak pertama adalah Putu Tirta dan Gede Yuda Saputra, asal Buleleng. Sekitar dua bulan lalu, keduanya bertemu Koster secara tidak sengaja di sebuah pertamini. Saat itu Koster berhenti untuk mengisi bensin. Di tempat itulah ia melihat dua anak seusia SMP bekerja melayani pelanggan sepulang sekolah.

“Saya tanya, kenapa kalian kerja?” tanya Koster.

Jawaban yang ia terima sederhana, namun menghentak. Mereka bekerja untuk mencari uang agar bisa bertahan hidup dan tetap sekolah.

“Kami masih sekolah, Pak,” kata Putu Tirta.

Percakapan singkat itu berkembang menjadi cerita tentang kondisi keluarga mereka. Koster kemudian menanyakan keberadaan orang tua mereka.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Tekankan Percepatan Kinerja Usai Lantik Enam Pimpinan Tinggi Pratama Di Lingkungan Pemprov

“Orang tua kami sudah cerai,” ujar Gede Yuda Saputra.

Sejak itu, keduanya tidak lagi hidup bersama orang tua dan kini tinggal bersama kakek. Bagi Koster, cerita itu bukan sekadar pengakuan. Ia melihat kenyataan anak-anak yang secara sosial telah kehilangan orang tua.

“Mereka ini anak-anak yatim secara kondisi hidup. Orang tuanya sudah cerai, tidak hidup bersama lagi, dan sekarang diasuh oleh kakek,” kata Koster.

Ia mengaku sangat tersentuh. Bukan semata karena keterbatasan ekonomi, tetapi karena semangat hidup yang tidak runtuh.

“Saya sangat tersentuh melihat anak-anak ini. Dalam kondisi sangat sulit dan terbatas, mereka masih punya semangat juang yang tinggi. Mereka bekerja di pertamini untuk menolong hidupnya sendiri,” ungkapnya.

Peristiwa serupa terjadi di tempat berbeda. Dalam perjalanan menuju Denpasar, Koster bertemu Made Harta Dwi Putra, anak yatim asal Bangli, di perbatasan Bangli, wilayah Desa Satra. Saat itu Made Harta berjalan sendiri di pinggir jalan.

Berita Terkait:  Dituding Jadi Biang Banjir Pancasari, Handara: Kami juga Korban

Koster menghentikan kendaraan dan menyapanya. Dari percakapan singkat di pinggir jalan itu, terungkap bahwa Made Harta juga berjuang sendiri untuk tetap bersekolah.

“Saya anak yatim, Pak,” ucap Made Harta Dwi Putra.

Ia mengaku kini hidup tanpa orang tua dan tinggal bersama kakek. Kondisi keluarga yang terbatas memaksanya berjuang sejak usia sangat muda.

Pertemuan-pertemuan itu mengingatkan Koster pada masa kecilnya sendiri.

“Saya teringat waktu masih SD. Saya juga harus bekerja supaya bisa tetap sekolah, karena orang tua saya saat itu hidup dalam kondisi miskin ekstrem,” tandas Koster.

Menurutnya, ketiga anak itu sedang menghadapi fase hidup yang berat, namun menunjukkan daya juang yang kuat. .

“Mereka bertiga menghadapi kondisi kehidupan yang sulit. Tapi semangatnya tidak menyerah,” tandasnya.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Ajak Imigrasi Aktif dan Konsisten Libatkan Satgas Awasi WNA di Bali

Di akhir pertemuan di jalan, Koster hanya meminta nomor telepon keluarga mereka. Tidak ada janji yang diucapkan saat itu. Anak-anak tersebut kembali menjalani hidup seperti biasa, bekerja dan bersekolah dalam keterbatasan.

Hari ini, ketiganya kembali bertemu Koster di Jayasabha. Dalam pertemuan yang berlangsung sederhana, Pemerintah Provinsi Bali memastikan pendidikan Putu Tirta, Gede Yuda Saputra, dan Made Harta Dwi Putra dibantu dan dijamin agar mereka dapat melanjutkan sekolah dengan layak.

“Nanti pendidikan dibantu. Yang penting tetap sekolah, disiplin, dan rajin belajar,” pesan Koster.

Tak ada pidato panjang. Hanya keputusan administratif yang berdampak langsung pada hidup tiga anak. Peristiwa yang bermula di jalan di pertamini Buleleng dan di perbatasan Bangli bertemu kembali di Jayasabha. Bertemu pada satu titik, kehadiran negara melalui Gubernur Wayan Koster untuk memastikan sekolah anak tidak berhenti di tengah jalan. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI