Kolase foto: Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) Dr I Dewa Gede Palguna, SH, MHum (kiri) dan logo Presidensi G20 (kanan). (dok/sg/db)
Denpasar | barometerbali – Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) Dr I Dewa Gede Palguna, SH, MHum menilai perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20) sangat penting bagi Indonesia dalam hubungan internasional.
“Bayangkan dalam keadaan negara yang saling bermusuhan seperti saat ini, masih mampu menyelenggarakan kegiatan, apalagi nanti ini berlangsung lancar dan aman. Dan begitu kaya dengan agenda dan diskusi. Apapun nanti hasilnya, dalam dunia yang ‘saling intip’, dan lomba unjuk kekuatan dan sebagainya, tapi kita mampu melaksanakannya dengan damai. Itu akan luar biasa. Dari aspek leadership itu akan membuat Indonesia dalam hubungan internasional menjadi sangat signifikan,” beber mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (Hakim MK) masa jabatan periode pertama 2003 – 2008 dan periode kedua 2015 – 2020 ini.
Palguna menekankan lagi, alasan pertama, bisa mengenalkan Indonesia sebagai negara besar yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya dalam hal pengertian pluralisme.
“Ini luar biasa, sukunya, bahasanya budayanya, kuliner dan alamnya,” sebutnya saat dihubungi Kamis (10/11/2022).
Ia menambahkan salah satu efeknya adalah sisi promosi. Walau sering dikatakan orang disebut Presidensi Indonesia di G20 tidak lebih dari sekadar koordinator mempertemukan dan sebagainya, tetapi menurutnya sangat penting karena bagaimanapun kemudian akan terlihat kepemimpinan Presiden Jokowi di G20.
“Apakah akan teruji. Karena ini adalah dunia multipolar, atau kepemimpinan yang sulit, tetapi inilah kesempatan untuk membuktikan bahwa Presiden Jokowi bisa memimpin dalam situasi yang sulit,” urai pria kelahiran Bangli, Bali, 24 Desember 1961 ini.
Kedua imbuh Palguna, dalam konteks hubungan internasional yang kaitannya dengan hukum internasional, andaikata berhasil dilakukan dengan baik oleh Presiden Republik Indonesia Jokowi, akan memposisikan dalam hubungan internasional dalam posisi sangat terhormat.
“Secara ekonomi, tidak saja dilihat dalam jangka pendek, kalau itu sekarang hanya bisa dihitung dari keterisian hotel dan sebagainya. Harus juga dilihat dampak jangka panjangnya, bila dilihat sekian negara hadir, termasuk kepala negara yang sudah memastikan hadir. Nantinya bukan sekadar akan hadir di acara resmi, tetapi juga akan mengabarkan apa yang dialaminya selama berlangsungnya konferensi ini dan apa yang dialaminya pada masyarakat di negaranya,” rincinya.
Para delegasi dan pimpinan negara lainnya, akan bercerita tentang Indonesia, akan bercerita tentang Bali.
“Ini dampak ekonominya akan luar biasa ke depannya, walaupun orang mengatakan Bali sudah dikenal, tapi pertanyaannya di segmen mana keterkenalan Bali itu,” tegas Palguna yang kerap menjadi narasumber seminar dan lokakarya ini.
Hal hal seperti itu patut digarisbawahi. Kata pria yang sebelumnya kerap bermain teater ini, masyarakat Bali harus bersyukur acara G20 ini berlangsung di Bali. Selain itu bersyukur pula Presiden Republik Indonesia dipercayai sebagai presiden yang akan membawa dampak sangat besar bagi Indonesia ke depannya dalam konteks hubungan internasional.
Ini juga menurutnya kesempatan Bali bila ingin bergeser dari mass tourism ke quality tourism karena akan ada juga culture forum, di mana delegasi diajak berkunjung ke desa desa dan melihat alam Bali.
“Ini kan dalam tanda petik adalah promosi Bali, di sini kalau Bali mau bergeser ke quality tourism, harus ada skenario agar para delegasi lebih banyak tahu apa sesungguhnya Bali itu. Sehingga membuat mereka datang dan datang lagi ke Bali sebagai turis berkualitas,” ungkapnya
Ditanya tentang gaya kepemimpinan Presiden Jokowi, Dewa Palguna menjawab mungkin gaya seperti itu yang dibutuhkan dunia sekarang, yang sudah dalam dan tanda petik lelah dengan kepemimpinan yang konfrontatif, dengan kepemimpinan yang model konservatif dan terjebak dalam pembelahan.
“Ternyata gaya kepemimpinan yang slengekan diterima oleh pemimpin dunia lainnya. Kita saja yang sering tidak bisa terima,” singgungnya.
“Ini bisa dilihat dari penerimaan pemimpin negara negara lainnya di G20, bahkan oleh negara-negara yang sering menekan agar Jokowi tidak mengundang Rusia. Belum pernah ada komentar negatif tentang Jokowi,” lanjutnya
Ditegaskan Palguna, hal tersebut adalah capaian yang tidak mudah diraih, oleh siapapun yang menjadi presidensi G20.
“Saya melihat dari Presiden Jokowi tidak ada rasa minder, dia tenang saja. Ada semacam spirit Bung Karno dalam diri Jokowi. Saya ini Presiden dari negara besar lho. Dia tidak merunduk-runduk di hadapan negara besar, yang selama ini disebut negara super power,” tandasnya.
Dewa Palguna bisa melihat dari bahasa tubuh Jokowi bila ada di antara pemimpin G20 lainnya, ada kata.
“Anda negara negara maju tidak boleh sombong, karena anda membutuhkan Indonesia dan saya adalah Presiden dari Republik Indonesia,” pungkas Palguna mengakhiri percakapan. (BB/501/tim)











