Dibalik Misteri Pohon Bersarung di Bali: Harmoni Alam dan Spiritualitas

BARO AGUS F 5
Tradisi memberi sarung pada pohon, adalah bentuk penghormatan, pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, serta perlindungan terhadap pohon dari kerusakan. (barometerbali/dok.gettyimages)

Barometer Bali | Denpasar – Saat mengunjungi Bali, Anda mungkin sering melihat pohon-pohon yang dihiasi sarung bermotif kotak-kotak hitam putih atau berwarna kuning.

Pemandangan ini memancing tanya: mengapa pohon-pohon tersebut diberi sarung?

Tradisi ini bukan sekadar estetika, melainkan cerminan filosofi masyarakat Bali yang menghormati alam dan spiritualitas.

Makna di Balik Sarung Pohon

Sarung kotak-kotak, dikenal sebagai kain poleng, melambangkan keseimbangan dualitas (Rwa Bhineda), yakni baik-buruk, gelap-terang, yang saling melengkapi.

Sementara itu, sarung kuning melambangkan kesucian dan penghormatan kepada dewa.

Berita Terkait:  Rayakan Tumpek Krulut Bersama Ribuan Masyarakat di Art Centre, Gubernur Koster: Pererat Persaudaraan dan Kasih Sayang

Pohon-pohon yang diberi sarung sering dianggap sakral, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh atau energi suci.

Pohon Sebagai Bagian Kehidupan Spiritual

Di Bali, pohon bukan sekadar flora, tetapi makhluk hidup yang dihormati.

Tradisi memberi sarung adalah bentuk penghormatan, pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, serta perlindungan terhadap pohon dari kerusakan.

Relevansi Tradisi di Era Modern 

Meski arus globalisasi semakin deras, tradisi ini tetap lestari.

Berita Terkait:  Buka Pasamuhan Agung MDA Bali, Koster Tegaskan Desa Adat Fondasi Abadi Bali

Selain menjadi simbol spiritual, pohon bersarung kini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang unik.

Tradisi ini menyampaikan pesan penting tentang pelestarian lingkungan di tengah modernisasi.

Pohon-pohon yang disarungi kain di Bali bukan sekadar pemandangan unik, tetapi cerminan filosofi hidup masyarakatnya yang menghormati keseimbangan, alam, dan spiritualitas.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga hubungan harmonis dengan alam dan menghargai setiap elemen kehidupan di sekitar kita.

Berita Terkait:  Hentikan Tragedi Bunuh Diri, Upacara Parisudha Jagat Digelar di Jembatan Tukad Bangkung

Seperti pohon yang berdiri tegak dengan sarungnya, kita pun diingatkan untuk kokoh menjaga akar tradisi sambil menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.

Dengan tradisi ini, Bali kembali mengingatkan kita bahwa kemajuan bukan berarti melupakan akar budaya, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari identitas dan warisan untuk generasi mendatang.

Merawat tradisi ini, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan penghormatan kepada alam yang terus menjadi sumber kehidupan. (ari)

 

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI