Barometer Bali | Denpasar – Saat mengunjungi Bali, Anda mungkin sering melihat pohon-pohon yang dihiasi sarung bermotif kotak-kotak hitam putih atau berwarna kuning.
Pemandangan ini memancing tanya: mengapa pohon-pohon tersebut diberi sarung?
Tradisi ini bukan sekadar estetika, melainkan cerminan filosofi masyarakat Bali yang menghormati alam dan spiritualitas.
Makna di Balik Sarung Pohon
Sarung kotak-kotak, dikenal sebagai kain poleng, melambangkan keseimbangan dualitas (Rwa Bhineda), yakni baik-buruk, gelap-terang, yang saling melengkapi.
Sementara itu, sarung kuning melambangkan kesucian dan penghormatan kepada dewa.
Pohon-pohon yang diberi sarung sering dianggap sakral, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh atau energi suci.
Pohon Sebagai Bagian Kehidupan Spiritual
Di Bali, pohon bukan sekadar flora, tetapi makhluk hidup yang dihormati.
Tradisi memberi sarung adalah bentuk penghormatan, pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, serta perlindungan terhadap pohon dari kerusakan.
Relevansi Tradisi di Era Modern
Meski arus globalisasi semakin deras, tradisi ini tetap lestari.
Selain menjadi simbol spiritual, pohon bersarung kini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang unik.
Tradisi ini menyampaikan pesan penting tentang pelestarian lingkungan di tengah modernisasi.
Pohon-pohon yang disarungi kain di Bali bukan sekadar pemandangan unik, tetapi cerminan filosofi hidup masyarakatnya yang menghormati keseimbangan, alam, dan spiritualitas.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga hubungan harmonis dengan alam dan menghargai setiap elemen kehidupan di sekitar kita.
Seperti pohon yang berdiri tegak dengan sarungnya, kita pun diingatkan untuk kokoh menjaga akar tradisi sambil menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.
Dengan tradisi ini, Bali kembali mengingatkan kita bahwa kemajuan bukan berarti melupakan akar budaya, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari identitas dan warisan untuk generasi mendatang.
Merawat tradisi ini, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan penghormatan kepada alam yang terus menjadi sumber kehidupan. (ari)











