Barometer Bali | Denpasar – Upaya meningkatkan kompetensi pendamping Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) terus digencarkan sebagai langkah strategis membentuk sumber daya manusia unggul (SDM) menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini mengemuka dalam diskusi bertema “SDM dan Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Selasa (4/11/2025).
Pelatihan ini berlangsung 5 hari dari tanggal 4 hingga 8 November 2025 ditujukan bagi penguatan dan optimalisasi peran Project Management Officer (PMO) dan Business Assistant (BA/Asisten Bisnis) KDKMP. Kegiatan ini menghadirkan narasumber penting, di antaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Tri Arya Dhyana Arya Kubon Tubuh, Rektor UNHI Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., serta Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Suwirta.
Dalam sambutannya, Tri Arya Dhyana Arya Kubon Tubuh menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pendamping koperasi agar mampu mendorong koperasi desa menjadi lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing di tengah perubahan ekonomi global.
“Pendamping koperasi adalah ujung tombak penguatan ekonomi rakyat. Mereka harus dibekali kompetensi manajerial, digital, dan sosial agar koperasi desa dapat tumbuh sehat, mandiri, dan menjadi bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045,” paparnya.
Tri Arya berharap pendamping BA (Business Advisor) dan PMO (Project Management Office) dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat kapasitas usaha koperasi. Saat ini dilaporkan sebanyak 716 KDKMP sudah terbentuk di Bali.
“Pendamping diharapkan tidak hanya memberikan bimbingan teknis, tetapi juga menjadi sparring partner yang mampu mendorong koperasi lebih inovatif, mandiri, dan berdaya saing,” tandas Tri Arya.
Koperasi Desa Merah Putih berharap pendampingan ini bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi menjadi proses pemberdayaan berkelanjutan agar koperasi mampu menjadi tulang punggung ekonomi desa.
“Goalsnya adalah memberdayakan masyarakat dan menggerakan ekonomi,” pungkas Tri Arya.
Sementara itu, Rektor UNHI Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan SDM unggul melalui pendidikan dan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“UNHI berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencetak talenta unggul. Dunia akademik harus hadir langsung di tengah masyarakat, termasuk dalam pemberdayaan koperasi yang berakar di desa,” beber Prof Damriyasa yang juga Koordinator Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali ini.
Pihaknya siap melakukan kerja sama di bidang pendidikan bagi pendamping koperasi melanjutkan ke jenjang S1.
“Kita siapkan program khusus untuk pendamping Koperasi Merah Putih untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas SDM Pendamping Koperasi Merah Putih,” harap Prof Damriyasa.
Sedangkan Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Suwirta, menyoroti perlunya kebijakan yang berpihak pada penguatan kapasitas pendamping dan ekosistem koperasi agar lebih terintegrasi dengan pembangunan daerah.
“Pemerintah daerah harus memastikan pendamping koperasi tidak hanya menjadi fasilitator, tetapi juga agen perubahan yang mampu memotivasi masyarakat desa. DPRD berharap pihak pemerintah pusat dan daerah turut membantu dalam hal anggarannya,” pinta Suwirta, yang juga praktisi koperasi ini.
Jiwa kewirausahaan juga menurutnya sangat penting dalam mengelola koperasi karena menjadi kunci untuk menciptakan inovasi, kemandirian, dan daya saing.
“Pengurus koperasi yang berjiwa wirausaha mampu melihat peluang pasar, mengelola risiko dengan cerdas, serta mengembangkan strategi bisnis yang berorientasi pada anggota. Dengan semangat kewirausahaan, koperasi tidak hanya menjadi wadah simpan pinjam, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat yang produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” urai Suwirta.
Ia juga menyarankan kepada pemerintah agar BUMDes, Bupda, dan Koperasi Merah Putih dilebur menjadi satu lembaga agar lebih fokus.
“Agar tidak pusing, sebaiknya pemerintah melakukan merger dan holding Koperasi Merah Putih,” pesannya.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga legislatif dalam memperkuat kualitas SDM koperasi desa. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan terbentuk pendamping koperasi yang profesional, berkarakter, dan berdaya inovatif sebagai fondasi menuju perekonomian rakyat yang tangguh dan berkelanjutan. (rah)











