Barometer Bali | Denpasar – Setelah Musda Partai Golkar Bali tertunda sejak 23 Mei 2025 akibat deadlock internal, sejumlah kader mendorong lahirnya tokoh alternatif yang mampu menjembatani dua kutub kekuatan politik di tubuh partai berlambang beringin itu.
Figur yang dimaksud adalah Dr. I Nyoman Diana, SE, MM—tokoh muda independen yang dianggap memiliki rekam jejak jelas, loyalitas tinggi, serta dedikasi penuh dalam membesarkan partai. Sosok ini digadang-gadang sebagai pilihan ideal di tengah perebutan antara dua senior Golkar Bali: Gede Sumarjaya Linggih (Demer) dan Dr. Nyoman Sugawa Korry (SGK).
“Golkar Bali butuh pemimpin visioner, berjiwa muda, dan mampu menyatukan semua kekuatan. Saya melihat itu pada sosok Dr. Nyoman Diana,” ungkap salah satu kader yang enggan disebut namanya.
Dukungan serupa juga muncul dari kader Golkar di Tabanan. Mereka menilai, sudah saatnya partai melakukan lompatan besar dan memberi ruang bagi generasi muda yang loyal, energik, serta terbukti bersih dalam rekam jejak politik.
“Ini momentum untuk menegakkan AD/ART, mengembalikan marwah partai, dan menjadikan Golkar kembali dicintai rakyat,” tegasnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Dr. Nyoman Diana menyatakan kesiapannya untuk mengikuti seluruh mekanisme internal partai.
“Sebagai kader, saya siap jika memang diberikan amanah untuk memimpin Golkar Bali,” ujar Diana yang juga dikenal sebagai pemilik Kampus Indiana dan pengusaha sukses di bidang penempatan tenaga kerja internasional melalui PT Lawu Agung/CTI Asia.
Selain aktif sebagai Ketua Badan Pelindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI) dan Ketua Koperasi SGK, Nyoman Diana juga dikenal sebagai tokoh yang memahami tata kelola organisasi dengan pendekatan manajerial modern. (red)











