Kolase foto: Festival Muda Berbudaya menampilkan berbagai atraksi budaya seperti Tari Oleg Tamulilingan, Wayang Subak, Bondres Rare Kual, Orkestrasi Gus Teja, Gong Kebyar, dan Tarian Api Sumpah Pemuda di kawasan Monumen UNESCO, Subak Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Senin (28/10/2024) malam. (barometerbali/213)
Tabanan | barometerbali – Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI menyelenggarakan pagelaran kebudayaan bertajuk “Festival Muda Berbudaya” menampilkan berbagai atraksi budaya seperti Tari Oleg Tamulilingan, Wayang Subak, Bondres Rare Kual, Orkestrasi Gus Teja, Gong Kebyar, dan Tarian Api Sumpah Pemuda di kawasan Monumen UNESCO, Subak Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Senin (28/10/2024) malam.
Turut hadir dalam acara tersebut Plt. Bupati Tabanan yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra, Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si.; Dr. Ali Akbar, SS., M.Hum, Panglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Smaraputra Sri Soma Kepakisan, Panglingsir Puri Agung Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan yang diwakili oleh I Gusti Ngurah Mayun dari Puri Agung Singasana Tabanan, Panglingsir Puri Agung Jembrana, Anak Agung Bagus Hari Sutedja, Romo Suharto, dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan Kepala OPD Kabupaten Tabanan dan Kapolres Tabanan, Kapolsek Penebel, Camat Penebel, Danramil 1619-08/Penebel atau yang mewakili, Kepala Desa Jatiluwih, Bandesa Adat Jatiluwih, Manajer Daya Tarik Wisata Jatiluwih.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Abi Kusno dalam sambutannya menuturkan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV merupakan satuan kerja di bawah Kementerian Kebudayaan yang memiliki visi untuk melestarikan warisan budaya dan memajukan kebudayaan di wilayah Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat.
“Tugas utama BPK Wilayah XV mencakup pelestarian cagar budaya, pengembangan objek pemajuan kebudayaan, pelindungan terhadap warisan budaya, fasilitasi pemanfaatan cagar budaya, serta
pembentukan kemitraan dengan berbagai pihak. BPK Wilayah XV juga aktif dalam pendataan dan pendokumentasian cagar budaya sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan budaya Indonesia,” terang Abi.
Sebagai salah satu pihak dalam proses pemajuan kebudayaan, BPK Wilayah XV berkomitmen untuk terus mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan, serta mengajak kita semua untuk berperan aktif dalam pelestarian dan pemajuan budaya menuju Indonesia Emas 2045.
“Hari ini kita hadir di acara dan tempat ini untuk memperingati salah satu peristiwa bersejarah bangsa Indonesia. Kongres Pemuda 2, 27-28 Oktober 1928 telah
mengikrarkan Sumpah Pemuda yang kala itu telah menyepakati untuk menyatukan putra dan putri Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa,” ungkapnya.
Pada momentum kali ini, pihaknya mengajak bersama-sama menengok kembali bahwa hakikatnya Sumpah Pemuda lahir dari semangat sekumpulan orang terpelajar yang sadar akan cita-cita kebangsaan Indonesia sebagai bangsa berdaulat. Sumpah Pemuda melampaui sebuah ikrar yang dituliskan dan dituturkan, karena ia juga merupakan buah kesadaran para kaum terpelajar di tengah kerasnya zaman untuk menciptakan
kebaruan serta menguatkan persatuan dan rasa kebangsaan menuju satu ke-Indonesia-an hingga terwujudnya Indonesia sebagai sebuah negara pada 17 Agustus 1945.
“Seperti halnya Kongres Pemuda 2, BPK Wilayah XV menginisiasi serangkaian acara di area Subak Jatiluwih bertajuk Jalma Rasa, Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya selama dua hari pada tanggal 27-28 Oktober 2024. Lebih dari sebuah peringatan seremonial, dalam Jalma Rasa kita bersama-sama menapaki jejak rasa, semangat, dan cita setelah 96 tahun berlalu,” jelas Abi.
Ia menambahkan dalam kegiatan Jalma Rasa, Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya terdiri dari serangkaian kegiatan Berpacu Berbudaya Run, Kulakan Budaya, dan Muda Berbudaya Fest.
“Berpacu Berbudaya Run kami rancang sebagai sebuah event lari mengelilingi rute persawahan untuk merefleksikan perubahan dunia yang begitu cepat di tengah hamparan Subak Jatiluwih, sedangkan Kulakan Budaya kami kreasikan sebagai titik kumpul bagi ekosistem kebudayaan sehingga memunculkan kebaruan dalam proses berkebudayaan. Muda Berbudaya Fest sebagai puncak rangkaian kegiatan merupakan sebuah persembahan orkestrasi kebudayaan Indonesia dimana kita menghimpun cipta dan karya dari asa, rasa, dan cita, memanifestasikan keragaman sebagai amplifikasi kekuatan
budaya Indonesia,” papar Abi.
Lebih lanjut Abi menerangkan Jalma Rasa, Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya menjadi sebuah renungan kolektif bahwa
setelah Indonesia menemukan bentuk sebagai sebuah negara.
“Hari ini kita sebagai bangsa berada
di tengah dinamika zaman yang terus berkembang dan berubah cepat, sebagaimana halnya subak yang telah mengalami perkembangan dan perubahan selama lebih dari satu milenia,” ucapnya.
Selain itu ia menjelaskan Jalma Rasa, Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya menjadi sebuah pengingat bagi kita semua untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan keragaman suku, ras, bahasa, dan budaya, untuk membangun kesadaran atas pentingnya proses kebaruan demi masa depan kebudayaan Indonesia menuju puncak peradaban dunia.
Jalma Rasa, Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya imbuhnya, merupakan sebuah
gagasan untuk menjadi tonggak menuju 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 sebagai jembatan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat, kuat, cerdas, dan berbudaya menuju Indonesia Emas 2045.
“Sebagai penutup, saya mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini,” pungkas Abi.
Plt. Bupati Tabanan yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra, Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si.; dalam sambutannya menyatakan pelaksanaan kegiatan Festival Muda Berbudaya pada momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2024 ini sejalan dengan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Tabanan dan Bali.
“Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana di Kabupaten Tabanan untuk menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani di mana salah satu prioritasnya adalah pelestarian di bidang seni, adat, dan budaya” jelasnya.
Festival ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kecintaan terhadap budaya yang sangat kental karena dilaksanakan di tempat yang sarat dengan wilayah budaya.
“Subak Jatiluwih, adalah ikon warisan budaya dunia dirayakan bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selain itu event ini menjadi motor penggerak perekonomian melalui UMKM dan menjadi ruang interaksi sosial,” tandas Agus.
Sebelumnya Manajer Daya Tarik Wisata Jatiluwih, I Ketut Purna, juga mengungkapkan dukungannya terhadap kegiatan ini.
“Kami menyadari bahwa mempertahankan warisan budaya ini tidaklah mudah, tetapi dengan adanya acara ini kami berharap dapat lebih menjangkau dan mengenalkan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia,” sebutnya.
Purna juga menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk mempromosikan potensi wisata Jatiluwih.
“Kami ingin orang-orang mengetahui bahwa wisata Bali tidak hanya identik dengan pantai. Keindahan sawah terasering Jatiluwih dan budaya lokal juga merupakan daya tarik yang tak kalah menarik,” ungkapnya.
Acara ini diharapkan tidak hanya untuk memperkenalkan warisan budaya tetapi juga untuk mendorong pelestarian budaya dan pariwisata di Jatiluwih.
“Sebelum ada festival digelar, kunjungan di DTW Jatiluwih sudah meningkat sangat signifikan hampir 60 persen. Namun, kami berharap melalui event ini, kunjungan bisa terus meningkat hingga 100 persen,” harapnya.
Manifesto Kebudayaan
Hari ini, 96 tahun telah berlalu sejak para Pemuda mengikrarkan sumpah kebangsaan menuju satu rasa Ke-Indonesia-an pada tanggal 28 Oktober 1928. Sebuah sumpah yang menjawab tantangan zaman, sumpah untuk sebuah cita-cita yang menyatukan rasa kebangsaan Indonesia. Sebuah sumpah yang terlahir sebagai sebuah kebaruan dari persemaian panjang rasa kebangsaan yang berserak pada jiwa-jiwa manusia terdidik dan berkesadaran maju.
Hari ini, kita berkumpul disini, di Jatiluwih, di atas hamparan Tanah Subak, yang dialiri oleh air dari bumi pertiwi. Kita berdiri di atas hamparan sawah yang dipahatkan di atas bumi manusia. Subak, lebih dari warisan yang dihibahkan leluhur kepada kita hari ini. Subak merupakan sebuah mahakarya budaya yang selama satu milenia terus berkembang, berkreasi ulang dan terus menemukan kebaruan. Subak telah tersemai sejak Dinasti Warmadewa, dijaga oleh Sang Maharaja Udayana, di atas pangkuan Sang Ratu Gunapria Dharmapatni. Subak, telah membersamai kejayaan Dwipantara di bawah panji Majapahit. Subak merupakan bukti ketangguhan peradaban, yang mampu bertahan di tengah tekanan kuasa kolonial. Subak juga melewati ujian peradaban di tengah perubahan besar pertanian dunia melalui Revolusi Hijau pada akhir sepertiga abad 20. Subak merupakan sebuah bukti nyata bahwa kebudayaan hanya bisa bertahan dan terus berkembang melewati perubahan zaman karena selalu mampu menemukan kebaruan. Sebagai sebuah mahakarya budaya Subak bukan barang yang bersedekap diam, beku, dan ajeg dari masa ke masa. Dari Subak, kita belajar bahwa untuk menuju puncak kebudayaan, kita harus mengasah rasa, menangkap semangat zaman yang terus bergerak, menemukan kebaruan, dan terus memajukan.
Hari ini, pada tanggal 28 Oktober 2024, tepat delapan hari dari pemerintahan baru, kita berkumpul di sini untuk menyerukan kepada dunia bahwa Harimau telah bangun dan bangkit, dan kita adalah maharaja di belantara kebudayaan dunia. Kita menyadari bahwa latar belakang suku, ras, bahasa, dan budaya kita berbeda, namun kita menginsyafi telah menyatukan diri dalam rasa pada dharma sebagai manusia Indonesia. Kita sepenuhnya sadar bahwa untuk menuju puncak peradaban dunia, menata jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya bersedekap diam. Lebih dari sekedar pewaris, yang hanya bisa berebut hasil karya para leluhur, kita harus menjadi pencipta dunia baru pada arus balik perubahan zaman.
Saat ini, di atas tanah Dwipa Nusantara, kita menghimpun cipta dan karya dari asa, rasa, dan cita. Dari kata yang terukir dari bara Sang Agni, kita menancapkan tonggak peradaban baru. Menjadi manusia Indonesia yang sehat, kuat cerdas dan berbudaya, dan bukan para pandir yang gagal berpikir. Hari ini kita akan menapak pada jejak-jejak peradaban. Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, hari ini kita akan mencetak jejak-jejak baru kebudayaan untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Jatiluwih, 28 Oktober 2024
Dibacakan oleh Dr. Ali Akbar, S.S., M.Hum (213)
Editor: Ngurah Dibia











