Film Kolosal Puputan Badung 1906 Siap Tayang Perdana di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung

Screenshot_20260916_214759_InCollage - Collage Maker
PROSES SHOOTING - Film dokudrama Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah akan tayang perdana di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9/2026) pukul 19.00 WITA. (Barometer Bali/Red)

Barometer Bali | Denpasar – Kisah heroik perjuangan rakyat Badung melawan kolonial Belanda akan dihadirkan kembali melalui film dokudrama bertajuk Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah. Film berdurasi 50 menit tersebut dijadwalkan tayang perdana di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Minggu (20/9/2026) pukul 19.00 WITA.

Film yang diproduksi Dinas Kebudayaan Kota Denpasar itu menjadi bagian dari peringatan 120 tahun Puputan Badung. Selain menyajikan rekonstruksi sejarah, film tersebut disiapkan sebagai arsip digital agar perjalanan perjuangan rakyat Badung tetap dikenal generasi mendatang.

Disutradarai I Gusti Made Aryadi, film ini digarap secara kolosal dengan melibatkan ratusan pemain dari kalangan seniman lokal hingga sejumlah warga asing. Kehadiran pemain asing diperlukan karena cerita yang diangkat turut menggambarkan keterlibatan pihak Belanda dalam peristiwa Puputan Badung 1906.

Produser Jayagiri Production, I Gusti Ngurah Murthana alias Rahman, mengatakan proses penggarapan film berlangsung sekitar enam bulan, mulai dari riset sejarah hingga tahap produksi. Film tersebut sebenarnya telah selesai beberapa bulan lalu, tetapi penayangan perdananya menunggu momentum yang dinilai paling tepat.

Berita Terkait:  Tak Boleh Kampanye, Bandesa Adat Sukawati Dipilih Berdasarkan Rekam Jejak

“Dari tahap riset hingga film selesai digarap, prosesnya memakan waktu sekitar enam bulan. Film ini sebenarnya sudah rampung beberapa bulan lalu, tetapi kami menunggu momen yang paling tepat untuk penayangan perdananya,” ungkap Rahman, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, pembiayaan dan produksi film dilakukan langsung oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Sementara Jayagiri Production dipercaya sebagai rumah produksi yang menangani pemain, kru, kostum, properti, serta berbagai kebutuhan teknis perfilman.

Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung dipilih sebagai lokasi pemutaran perdana karena memiliki hubungan erat dengan sejarah Puputan Badung. Tempat tersebut menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Badung melawan kolonialisme.

Rahman menjelaskan, Mati Tan Tumut Pejah disusun berdasarkan penelusuran berbagai sumber tertulis dan lisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tim produksi menggali informasi dari sejumlah pihak yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Puputan Badung.

Proses riset melibatkan wawancara dengan Panglingsir Puri Agung Denpasar, Panglingsir Puri Agung Pemecutan, Panglingsir Puri Agung Kesiman, ahli sejarah, hingga tokoh seni Marmar Herayukti.

Berita Terkait:  Tandatangani Prasasti Karya di Bualu, Bupati Adi Arnawa: Budaya Adalah Garda Pariwisata Bali

“Ini merupakan sebuah rekonstruksi dari peristiwa sejarah yang didapat dari penelusuran berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan, yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Sejumlah tokoh penting dalam sejarah Puputan Badung turut dihadirkan dalam film ini, antara lain Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Agung, Raja Pemecutan, serta Raja Kesiman I Gusti Ngurah Mayun.
Pengambilan gambar dilakukan di berbagai lokasi di Bali, seperti Puri Kesiman, Puri Jro Kuta, Puri Klungkung, Bali Heritage Hotel, Pantai Saba, Pering Gianyar, Tukad Unda, Desa Negari di Klungkung, serta sejumlah kawasan di Kota Denpasar.

Produksi film didukung kru profesional dan perangkat perfilman, mulai dari kamera sinema, tata cahaya, tata suara, hingga penataan rias lokal. Untuk memperkuat suasana cerita, Jayagiri Production menggandeng komposer asal Denpasar, Ary Palawara, dalam penggarapan ilustrasi musik.

Selain menggunakan properti kuda, produksi film juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada sejumlah bagian.

Rahman berharap film tersebut tidak berhenti sebagai tontonan dalam rangkaian peringatan 120 tahun Puputan Badung. Film ini diharapkan menjadi media edukasi sejarah yang mampu mendekatkan generasi muda dengan perjuangan para leluhur.

Berita Terkait:  Nuanu Creative City Kembali Hadirkan Art & Bali 2026, Libatkan 23 Galeri dan Lebih dari 300 Seniman

“Sesuai dengan harapan Pemerintah Kota Denpasar, melalui produksi film ini, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar kini memiliki arsip dokumen digital tentang perjalanan kisah Perang Puputan Badung,” bebernya.

Menurut Rahman, penyajian sejarah melalui media visual menjadi langkah penting agar nilai perjuangan Puputan Badung tetap hidup dan tidak terputus dari generasi ke generasi.

“Edukasi sejarah sangat penting disuguhkan melalui media visual seperti film agar masyarakat luas, khususnya generasi muda, tidak melupakan sejarah bangsa,” pungkas Rahman.

Informasi Film
Judul: Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah
Durasi: 50 menit
Produksi: Dinas Kebudayaan Kota Denpasar
Rumah produksi: Jayagiri Production
Sutradara: I Gusti Made Aryadi
Produser: I Gusti Ngurah Murthana alias Rahman
Proses penggarapan: Sekitar enam bulan
Pemain: Ratusan orang
Pemutaran perdana: Minggu, 20 September 2026, pukul 19.00 WITA
Lokasi: Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar (Red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI