Barometer Bali | Denpasar – Insiden yang viral di media sosial, pada Senin 8 Desember 2025 oleh warga NTT di traffic light (lampu merah) perempatan Pesanggaran-Benoa, Denpasar Selatan mencoreng nama baik para pendatang di Pulau Dewata.
Pelaku bernama Yulius Moruk menjadi sorotan publik setelah videonya yang ugal-ugalan di jalan, jumping motor, berkendara mabuk tanpa helm dan tanpa TNBK, serta diduga berniat menabrak petugas lalu lintas. Ia kini telah diamankan Polresta Denpasar.
“Tindakannya sangat memalukan dan merusak nama baik pendatang di Bali,” kata Yusdi Ketua Rumah Besar Flobamora Indonesia (RBFI) Pembina Flobamora Bali, Yusdi Diaz di Denpasar, Selasa (9/12/2025).
“Kami minta diproses. Jika terpenuhi unsur pelanggarannya, silakan ditahan,” tegas Yusdi.
Yusdi juga menyarankan agar setelah proses hukum selesai, pelaku dipulangkan ke daerah asal untuk mencegah kemungkinan aksi lain dari sesama pendatang asal NTT di Bali.
Selain itu Yusdi juga mengingatkan para pegiat media sosial dan masyarakat di Bali agar tidak membangun narasi yang menggeneraliskan pendatang sebagai sumber masalah.
“Kami imbau agar tidak melakukan framing menjurus rasis. Kualitas literasi kita dipertanyakan kalau mudah terprovokasi oleh informasi sepihak,” ujarnya.
Yusdi menekankan pentingnya memperkuat literasi digital agar tidak terjadi persepsi liar.
Menurutnya, di era informasi cepat seperti saat ini, distorsi bisa menimpa siapa saja, termasuk kalangan terdidik.
Pembina Flobamora lain, Ardy Ganggas, mengaku bersyukur karena Polresta Denpasar bergerak cepat mengamankan pelaku sebelum anggota Satgas Flobamora menemukannya.
“Kami sempat mengarahkan anggota untuk mencari pelaku agar diberi pelajaran. Atas kejadian ini, kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat,” ucapnya.
Ardy juga menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pembinaan bagi seluruh warga NTT di Bali, baik yang terdaftar maupun tidak terdaftar.
Namun Ardy menolak anggapan bahwa warga pendatang selalu menjadi penyebab masalah. Ia menegaskan banyak warga NTT justru berkontribusi positif bagi Bali.
“Kontribusi positif warga kami di Bali jarang disorot, tapi ketika ada satu dua oknum bermasalah, langsung digeneralisasi,” tandas mantan Sekretaris BPBD Kota Denpasar tersebut.
Menurutnya, tindakan oknum tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai seluruh warga pendatang seperti itu. (rian)











