Barometer Bali | Denpasar – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Bali pada Minggu, 13 Juli 2025, dinamika internal partai kian memanas. Sorotan tajam kini datang dari Gede Indria, tokoh senior Golkar asal Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, yang menyuarakan keprihatinan terhadap arah politik Golkar Bali.
Meski tak lagi aktif secara struktural, Gede Indria merasa bertanggung jawab secara moral untuk menyuarakan suara nurani kader akar rumput. Ia menilai Golkar Bali tengah berada di persimpangan berbahaya: antara idealisme partai dan politik transaksional.
“Saya tidak punya kepentingan pribadi. Tapi saya tidak ingin Golkar menjadi kendaraan politik untuk kepentingan kelompok, apalagi dijadikan tameng atas kasus hukum,” ujar Indria.
Menurutnya, semua kandidat ketua Golkar Bali memiliki potensi. Namun, dua nama menjadi sorotan: Nyoman Sugawa Korry yang dinilainya etis dan responsif terhadap kader, serta Gede Sumarjaya Linggih (Demer) yang justru ia kritik keras karena dinilai belum mumpuni.
Gede Indria mengingatkan bahayanya pola permainan politik kotak kosong dalam Pilkada, yang menurutnya disutradarai oleh elite partai untuk mengamankan “deal-deal” politik.
“Kalau calon kuat tak direkom lalu dibiarkan melawan kotak kosong, ini jelas bukan politik sehat. Ini strategi penuh kepentingan,” katanya.
Tak hanya itu, ia mengkritik track record Demer yang disebutnya lebih disebabkan faktor keberuntungan politik, bukan ketokohan tulen. Bahkan, ia menyinggung laporan dugaan korupsi yang kini tengah mengarah ke Demer dan keluarganya.
“Lebih baik fokus menyelesaikan masalah hukum dulu. Jangan sampai Golkar dipimpin oleh figur yang sedang dikejar laporan ke KPK dan Kejagung,” ujarnya tegas.
Gede Indria pun meminta seluruh pemilik suara di Musda berpikir jernih. Ia menegaskan bahwa memilih pemimpin yang keliru akan merusak masa depan partai sekaligus mencoreng nama Bali di panggung nasional.
“Golkar bukan rumah dagang. Ini rumah perjuangan. Kalau salah memilih, bukan cuma partai yang hancur, tapi masyarakat Bali juga terbebani citra buruknya,” tutupnya. (red)











