Barometer Bali | Gianyar – Dalam momen penuh spiritual di Wantilan Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan pesan tegas dan emosional kepada para perbekel, lurah, dan bandesa adat se-Bali: selesaikan masalah sampah atau siap menghadapi konsekuensi niskala (alam spiritual/maya).
Dalam arahannya pada kegiatan bertema “Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain”, Koster menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam mengimplementasikan Surat Edaran Gubernur Nomor 09 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah. Ia bahkan secara khusus memohon bantuan spiritual dari Ida Bhatara Mpu Kuturan untuk menguatkan tekad para pemimpin desa dalam menangani sampah.
“Amen ye sing seken kanti sing berhasil dalam waktu setahun, titiang nunas Ratu Bhatara yang muputang,” tegas Koster, menyiratkan kesungguhan komitmennya hingga ke ranah niskala.
Koster menyadari peran gubernur tidak cukup kuat tanpa dukungan konkret dari para kepala wilayah. Karena itu, ia memohon agar para lurah, perbekel, dan bendesa benar-benar serius bekerja.
“Kalau hanya Gubernur dan Bupati saja tidak cukup. Jeg tiang nunas Ratu Bhatara tulungin nyak bandesane, perbekele, lurahne. Kalau enggak berhasil, puputang (selesaikan, red)!”
Ia memilih Wantilan Pura Samuan Tiga bukan hanya karena sejarah, tapi juga nilai spiritual tempat tersebut. Di sinilah Mpu Kuturan dahulu menyatukan berbagai sekte di Bali. Nilai itu kini ingin ia tanamkan dalam misi penyatuan tekad menyelesaikan krisis sampah Bali.
Sebelum acara dimulai, Gubernur Koster melakukan persembahyangan memohon restu kepada Ida Bhatara Mpu Kuturan agar program ini berjalan lancar.
“Tempat ini bukan soal kenyamanan fisik, tapi soal spiritualitas dan ujian komitmen. Kalau dari Jembrana dan Buleleng bisa datang ke sini, berarti mereka sungguh-sungguh,” ucapnya.
Melalui Surat Edaran No. 09/2025, pengelolaan sampah berbasis sumber dan pembatasan plastik sekali pakai kini menjadi tanggung jawab bersama. Kebijakan ini menyasar enam sektor, dari lembaga pemerintahan hingga tempat ibadah.
Dengan semangat “Desaku Bersih”, Koster mengajak seluruh lapisan desa bergerak bersama. Jika tidak, ia sudah menyiapkan langkah spiritual pamungkas — puputang — sebagai bentuk tanggung jawab moral tertinggi. (rah)











