Gugah Hubungan Baik Puri dengan Griya, Puri Gede Penebel Gelar Kegiatan Nyastra

Foto: Foto bersama di sela-sela kegiatan Nyastra di Puri Gede Penebel, Tabanan, Minggu (31/3/2024). (Sumber: BB/istimewa)

Tabanan | barometerbali – Kegiatan Nyastra yang biasanya dilakukan di Pura Pengastan Blayu, kali ini, atas pikarsan angga (prakarsa pihak, red) Puri Gede Penebel, acara digelar di Puri Gede Penebel, Kabupaten Tabanan, Minggu (31/3/2024).

Pangelingsir (Pinisepuh, red) Griya Gede Belayu, Ida Bagus Dalem Setiarsa dalam keterangannya kepada media menjelaskan acara pembukaan dilaksanakan di Puri Gede Penebel Saren Kelod, kemudian dilanjutkan acara makan siang dan Dharma Tula berlangsung di Puri Gede Penebel Saren Kaler.

“Sebelum mencapai Puri Gede Penebel Saren Kaler, para peserta diantar mececingak (meninjau, red) di Pura Batur Suci Puri Gede Penebel yang berada diantara Puri Gede Penebel Saren Kelod dan Saren Kaler juga ke Pura Pusar Tasik yang masih berada di wewidangan (wilayah, red) Puri Gede Penebel. Di sana peserta mendapat sekilas penjelasan mengenai keberadaan dan palinggih-palinggih yang ada di pura tersebut,” ungkap Setiarsa.

Acara ini seperti tertera di spanduk bertema, “Napak Tilas Kidung Yadnyeng Ukir” kidung ini dikarang oleh Ida Pedanda Ngurah asal Griya Gede Blayu pada tahun 1921.

“Suasana nyastra kali ini agak lain, biasanya di pura yang sunyi dan hening, kali ini di puri yang luas, megah dan asri, dihadiri tidak kurang dari 16 orang Ida Pedanda, seorang Ida Rsi sebagai tuan rumah,” ucapnya.

Berita Terkait:  Pohon Besar Tumbang di Tegalcangkring, Timpa Kendaraan dan Tutup Jalan

Hadir pula Angga puri-puri dari Puri Agung Tabanan, Pengurus Pasemetonan Ageng Pratisentana Sri Nararya Kenceng, Puri Kompyang Tabanan, Puri Oka Tabanan ring Jegu, Puri Oka Tabanan ring Biaung dan Puri Gede Belulang, angga griya, pemangku, seniman, mahasiswa, ibu-ibu angga puri, dan akademisi, antara lain Prof IBG Yudha Tri Guna dan Prof IBP Suamba sekaligus memandu acara ini.

“Sebenarnya acara nyastra ini sudah sejak lama dirintis atas pasuwecan Ida Bhatara- Bhatari acara bisa terlaksana dengan tata titi dan tata lungguh yang baik,” imbuhnya .

Nampaknya baik Ida Pedanda dan para raja menaruh perhatian yang sangat besar terhadap gunung-gunung yang sebagian besar di arah hulu kerajaan Tabanan.

“Judul Yadnyeng Ukir, kira-kira mendapat inspirasi dari sini. Betapa tidak, gunung (parwata) dan hutan (giri) merupakan sumber kehidupan, dari sana air mengalir untuk persawahan dan kehidupan. Juga disinggung bagaimana raja-raja di Tabanan walaupun dalam suasana sedang dalam penjajahan, masih juga melaksanakan tugas seorang raja, yaitu mengusahakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya secara sakala dan niskala dengan melaksanakan yadnya, yasa, dan kerti suatu konsep penting termuat di dalam lontar Agastia Parwa,” papar Setiarsa.

Ia menuturkan, Raja Penebel pada waktu itu, I Gusti Ngurah Ketut Pangseh menurut kidung ini diceritakan melakukan usaha-usaha membangun infrastruktur pemerintahan, seperti jalan, dam, saluran air, pasar, jembatan, dan lain-lain dan beliau gemar membangun pura dan nangun karya. Di samping itu, acara nyastra juga bertujuan menggugah kembali kesadaran hubungan baik griya dan puri di masa lalu.

Berita Terkait:  Bali-Inggris Perkuat Kerja Sama Transportasi, Sampah, dan Pendidikan

“Dengan membaca karya-karya sastra bermutu kita bisa mengambil banyak manfaat berupa nilai-nilai luhur kehidupan,” kata Setiarsa.

Dalam sambutannya ia memaparkan bahwa acara Nyastra ini bertujuan untuk napak tilas pamargi Bhatara Ida Pedanda Ngurah, pengawi Kidung Yadnyeng Ukir, bersama para raja di Tabanan, termasuk raja Penebel para tahun 1916 melaksanakan karya Agung Panca Balikrama di Pura Luhur Batukaru dan sejumlah pura di gunung termasuk Pura Pucak Padang Dawa, Gunung Beratan, dan lain-lain.

“Di sini disebutkan lima raja yang ikut berperan, Tabanan di tengah, Penebel di utara, Blayu di timur, Kediri di selatan, dan Kerambitan di barat,” jelas Setiarsa.

Setiarsa juga memperkenalkan karya-karya Ida Pedanda yang sempat dikenal, seperti Kakawin Gunung Kawi, Kakawin Kusuma Wicitra, Kidung Bhuwana Winasa, dan lain-lain.

Di tempat yang sama, Panglingsir Puri yang diwakili oleh I Gusti Ngurah Oka Sudarsana, menyambut baik acara ini karena merupakan kesempatan baik napak tilas perjalanan suci raja dewata di puri ngiring Ida Pedanda Bhagawanta Puri Blayu sebagai yajamana melaksanakan karya di Pura Luhur Batukaru.

Berita Terkait:  Kesepakatan Damai Pasca Pembakaran Kapal, Nelayan Ngemplakrejo Dilarang Gunakan Trawl dan Bondet

“Dari pembacaan karya sastra ini akan diketahui peran leluhurnya di dalam memerintah menyejahterakan rakyat,” tegas Sudarsana.

Dengan nuansa terharu, Oka Sudarsana juga sempat menjelaskan sekilas sejarah masa lalu Puri Penebel. Oka Sudarsana juga mengharapkan acara seperti ini bisa dilanjutkan ke depannya.

“Karena pihak puri merasa perlu tuntutan dan pencerahan dari Ida Pedanda,” pungkas Sudarsana.

Mengawali acara nyastra ditembangkan Kidung Yadnyeng Ukir oleh Ida Pedanda Gerya Kelodan Blayu dan diberikan arti oleh Ida Pedanda Kemenuh Griya Kalibalang. Pembacaan dilanjutkan oleh tiga mahasiswa dan mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Unud, dan diberi arti oleh dosen I Putu Eka Guna Yasa.

Menyambut para tamu/peserta berdatangan acara diisi oleh Pasraman GHANAPATI (Generasi Hindu Nasionalis Patriot Sejati) di bawah pimpinan Nyoman Suprapta, seorang pengarang geguritan menampilkan anak-anak melagukan geguritan. Pada acara makan siang dimainkan gender oleh yowana istri angga puri.

Pada acara Dharma Tula atas pertanyaan peserta dibahas mengenai cuntaka, sasana pamangku, dan peran puri dalam bidang agama dan budaya. Ida Pedanda Griya Kelodan Blayu Ida Pedanda Griya Kedampal memberikan hak pencerahan atas pertanyaan-pertanyaan ini. Bertindak sebagai MC (narawakya, red), angga Puri Cok Widyawaty. Acara diakhiri dengan foto bersama sebagai kenangan. (BB/215)

Editor: Ngurah Dibia

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI