Harus Diwaspadai Dapur Jadi Sarang Mikroplastik, Begini Cara Cegah Masuk ke Tubuh

BARO FEB F 49
Ilustrasi merebus air, yang diyakini dapat menurunkan kadar nanoplastik dan mikroplastik dari air minum. (barometerbali/dok.© Shutterstock/Africa-Studio)

Barometerbali.com | Denpasar – Tanpa disadari, mikroplastik ada di segala penjuru dapur, mulai dari makanan, minuman, hingga peralatan masak.

Saat memasak menggunakan wajan panas, partikel plastik dari wajan akan mencair dan meresap ke dalam makanan, untuk kemudian kembali mendingin di piring, dan masuk ke dalam perut ketika kita mengonsumsinya.

Partikel plastik tersebut adalah mikroplastik dan nanoplastik, yang berukuran 5 mm atau bahkan 1-1.000 nanometer.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology tahun 2018 melakukan penelitian terhadap 109 negara.

Mereka menemukan bahwa jumlah plastik yang dikonsumsi masyarakat pada tahun 2018 enam kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun 1990.

Mikroplastik yang masuk ke dalam makanan bahkan dapat melalui tanaman atau hewan.

Tanaman tersebut telah menyerap mikroplastik melalui akar, sementara hewan mengonsumsinya dari pakan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mikroplastik telah masuk ke tubuh manusia melalui darah, otak, bahkan plasenta.

Meski dampak kesehatannya belum sepenuhnya jelas, para ahli menilai ada potensi gangguan pada sistem tubuh kita.

Lantas, dari mana saja mikroplastik berasal? dan bagaimana kita mengatasinya?

Mikroplastik dalam proses memasak hingga mencuci

Dikutip dari BBC, Senin (22/9/2025), mikroplastik hadir dalam setiap proses seseorang mengonsumsi makanan, mulai dari memasak hingga mencuci peralatan makannya.

Penelitian dari Journal of Hazardous Materials tahun 2021 bahkan menemukan orang-orang biasa mengonsumsi 3-4 mg plastik per porsi nasi rumahan, dan jumlah itu bisa meningkat hingga 13 mg pada nasi yang sudah dimasak.

Berikut berbagai sumber mikroplastik terbanyak yang didapatkan dari proses memasak hingga mencuci.

1. Air

Air merupakan salah satu sumber paparan mikroplastik yang sangat banyak, baik dari botol maupun keran.

Tindakan sederhana seperti memasang dan melepas tutup botol plastik bahkan dapat meningkatkan jumlah mikroplastik pada air di dalam botol secara drastis.

Berita Terkait:  Atur Pengeluaran! 5 Tips Hemat saat Bulan Puasa yang Bisa Kamu Terapkan

Setiap kali botol dibuka atau ditutup, air akan tercemar 553 partikel mikroplastik untuk setiap liternya.

Mikroplastik juga umum ditemukan dalam air keran.

Penelitian yang terbit dalam jurnal Emerging Contaminants tahun 2025 menemukan mikroplastik pada 177 sampel air keran yang diuji.

Temuan serupa juga ditemukan di China, Eropa, Jepang, Arab Saudi, dan Amerika Serikat, yang menunjukkan hal tersebut menjadi masalah global.

Selain itu, penggunaan teh kantong plastik yang dibuat dengan cara diseduh dapat melepaskan sekitar 11,6 miliar keping mikroplastik dan 3,1 miliar keping nanoplastik ke dalam minuman.

Plastik tersebut sering digunakan untuk menyegel kantong teh yang biasa terbuat dari kertas.

2. Garam

Garam mengandung banyak mikroplastik akibat kontaminasi di lokasi penambangan dan pemrosesan.

Garam laut memiliki kadar mikroplastik tertinggi, kemungkinan besar disebabkan tingginya tingkat polusi mikroplastik di danau, waduk, sungai, dan lautan di seluruh dunia.

Dalam mangkuk plastik, air dengan garam dapat melepaskan mikroplastik tiga kali lebih banyak daripada air tanpa garam. Hal itu disebabkan kristal garam bergesekan dengan permukaan mangkuk.

3. Kemasan dan wadah plastik

Kemasan atau wadah berbahan plastik yang biasa digunakan untuk membungkus atau membawa makanan juga menyumbang banyak mikroplastik.

“Makanan yang disimpan dalam plastik pasti mengandung mikroplastik. Itu juga termasuk kaleng aluminium berlapis plastik, seperti kaleng kacang,” kata pejabat program senior di tim ilmu plastik dan material di World Wildlife Fund, Annelise Adrian.

Bahkan, Adrian mengatakan, dengan membuka kemasan plastik saja sudah melepaskan banyak mikroplastik, baik menggunakan gunting, merobek kemasan dengan tangan, memotongnya dengan pisau, atau memutar tutupnya.

Berdasarkan penelitian yang terbit di Science Reports tahun 2020, proses tersebut dapat menghasilkan hingga 250 keping mikroplastik per sentimeter.

Berita Terkait:  Harga Fantastis! Berikut 10 Jenis Kurma Termahal dari Ajwa hingga Medjool

Usia wadah plastik juga dapat berpengaruh.

Mangkuk melamin yang digunakan setelah ratusan kali pencucian, diketahui melepaskan mikroplastik jauh lebih lebih tinggi daripada setelah mangkuk dicuci pertama kali.

Di China, penelitian tentang mikroplastik memperkirakan bahwa orang yang makan lima hingga 10 kali dalam sebulan mungkin mengonsumsi 145-5.520 keping mikroplastik dari wadah makanan mereka.

4. Peralatan memasak

Talenan merupakan alat penting yang digunakan dalam proses memasak.

Penelitian mengamati bahwa potongan-potongan individual yang dibuat di atas talenan menghasilkan antara 100 dan 300 partikel mikroplastik atau nanoplastik untuk setiap milimeternya.

Di UEA, para peneliti melaporkan pada tahun 2022 bahwa daging yang dibeli di tukang daging dan di supermarket mengandung mikroplastik yang berasal dari talenan plastik.

Mikroplastik tersebut nantinya akan meleleh saat daging dimasak, lalu memadat kembali saat makanan mendingin.

Peralatan masak antilengket yang tergores juga dapat melepaskan ribuan hingga jutaan partikel mikroplastik setiap kali digunakan.

Mangkuk adonan dan blender plastik juga melepaskan partikel setiap kali digunakan.

Mencampur es batu selama 30 detik, misalnya, dapat melepaskan ratusan ribu keping mikroplastik.

Sementara itu, saat memasak, semakin panas plastik yang digunakan, semakin banyak mikroplastik yang dilepaskannya.

Sebuah studi menemukan bahwa wadah plastik yang dipanaskan dalam microwave selama tiga menit dapat melepaskan hingga 4,22 juta mikroplastik dan 2,11 miliar partikel nanoplastik dari satu sentimeter persegi plastik.

Hal tersebut juga terjadi pada gelas yang diisi air panas. Kontaminasi akan lebih sedikit ketika isinya dingin.

5. Peralatan mencuci

Spons dapur merupakan alat mencuci yang sering dipakai dan merupakan sumber adanya mikroplastik dan nanoplastik.

Saat spons aus, spons dapur dapat melepaskan hingga 6,5 juta keping mikroplastik per gram.

Menambahkan produk permbersih lainnya ke dalam spons dapat membuat spons justru melepaskan lebih banyak mikroplastik.

Berita Terkait:  Mengenal Workcation, Metode Bekerja sambil Liburan yang Makin Ngetren

Upaya mengurangi mikroplastik dalam makanan

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi mikroplastik dalam makanan.

Para peneliti menemukan, mencuci beras sebelum dimasak dapat mengurangi kandungan mikroplastik hingga 20–40 persen.

Sementara itu, mencuci daging dan ikan juga membantu menurunkan jumlah mikroplastik, meskipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan mikroplastik.

Adrian dan Sathyanarayana juga mendorong masyarakat untuk beralih ke makanan segar dan utuh, dan menghindari makanan ultra-olahan.

“Semakin suatu makanan diolah, semakin besar kemungkinan makanan tersebut terkontaminasi plastik karena ada begitu banyak titik sentuh di pabrik yang memproduksi makanan tersebut,” ujar Sathyanarayana.

Pada penggunaan air, minum air keran juga bisa menjadi cara yang lebih baik untuk mengurangi paparan mikroplastik, selama persediaannya aman.

Adrian menyarankan penggunaan filter air karena dapat memberikan perbedaan nyata.

Bahkan filter karbon sederhana, seperti yang terdapat pada teko penyaring air, mampu mengurangi hingga 90 persen mikroplastik.

Penggunaan wadah silikon juga sering disarankan sebagai alternatif peralatan dapur plastik, tetapi Adrian menegaskan belum ada bukti konkret bahwa bahan ini benar-benar menekan jumlah mikroplastik.

“Meskipun silikon secara teknis lebih stabil dan tahan terhadap suhu tinggi dibanding plastik sekali pakai, masalah pelepasan mikroplastik belum sepenuhnya teratasi,” ujarnya.

Ahli biologi kelautan dan peneliti mikroplastik di Institut Penelitian Air Norwegia, Vilde Snekkevik mencatat bahwa silikon bisa terdegradasi pada suhu yang sangat tinggi.

“Jadi, ini jelas alternatif yang lebih baik, dan butuh waktu lebih lama daripada plastik untuk terfragmentasi. Tapi saya tidak akan merasa nyaman mengatakan untuk pilih silikon sepenuhnya,” kata Snekkevik.

Ia menambahkan, alternatif lain untuk peralatan dapur bisa berupa kaca dan baja tahan karat. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI