Foto: Ketua Umum Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara (PDPN) Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia saat menyampaikan sambutan di Wantilan Pura Sakenan, Denpasar, Sabtu (23/3/2024). (Sumber: BB/213)
Denpasar | barometerbali – Serangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Isaka Warsa 1946/2024, Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara (PDPN) Cabang Denpasar menggelar Dharma Santhi mengusung tema, “Malarapan Dharma Santhi Panyepian Isaka Warsa 1946, Ngiring Sareng Sareng Mulat Sarira Angulati Dharma Agama-Negara Anggen Dasar Pikukuh Panunggalan Semeton”, menghadirkan Ida Pedanda Gede Rai Gunung Ketewel selaku Narawakya di wantilan Pura Sakenan, Denpasar, Sabtu (23/3/2024).
Ketua Umum Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara (PDPN) Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia dalam sambutannya menyampaikan umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi yang jatuh setiap setahun sekali dimaknai sebagai harmonisasi alam semesta melalui ajaran agama Hindu. Hal ini juga sebagai upaya untuk introspeksi diri dalam menjalani kehidupan.
“Pasemetonan Dharmopadesa agar fokus atau sentralisasi harmonisasi itu tidak harus menunggu datangnya setahun sekali, namun harmonisasi itu harus datang setiap saat,” tegas Dunia yang juga mengklaim dirinya sah sebagai Ketua Umum PHDI Pusat hasil Mahasabha Luar Biasa di Samuan Tiga, Gianyar ini.

Pada kegiatan yang diawali prosesi Mejaya-jaya pengurus Dharmopadesa Pusat Nusantara cabang Denpasar ini, Dunia berharap Pasemetonan Dharmopadesa selalu memaknai prinsip “ngulat tikeh mas” (menganyam tikar emas, red).
“Yang mana untuk kata ‘ngulat’ memiliki makna untuk menyatukan agar selalu bersatu. Sedangkan, untuk ‘tikeh’ memiliki arti, supaya menjadi tempat yang nyaman untuk duduk, untuk tidur. Jadi, tikeh yang dimaksud, agar bisa duduk bersama melayani pasemetonan umat,” kupas Dunia.
Secara filosofis dari kata “mas” memiliki makna sebagai barang yang memiliki nilai. Dalam hal ini, kita semua harus mempunyai nilai, sebagai upaya meningkatkan nilai kualitas diri.

Dharmopadesa merupakan organisasi pasemetonan wangsa Brahmana Siwa-Budha, yang merupakan bagian dari masyarakat umat hindu dharma di Indonesia dan di Bali khususnya. Ke depan pihaknya berharap, perkumpulan ini bisa memberikan sumbangsih kepada budaya, tradisi, adat, dan agama di Bali dan Indonesia.
“Tujuan Dharma Santhi ini tentunya bagaimana untuk bisa mengharmonisasi kehidupan yang terkandung di dalam konsep Tri Hita Karana, yakni hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam,” pungkas Dunia.
Memasuki sesi Dharma Wacana pada Dharma Santhi ini, Ida Pedanda Gede Rai Gunung Ketewel selaku Narawakya memaparkan, hari raya Nyepi memiliki makna penyucian pembersihan jagat. Hal itu dilakukan melalui pelaksanaan pemelastian. Setelah usai pamelastian, dilanjutkan dengan tatanan upacara lain seperti mecaru, pengerupukan, ogoh ogoh.
“Pada puncak penyepian, dilaksanakan sipeng, tingkahing surya dan tingkahing sunia melalui Catur Brata Panyepian yakni Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan,” tandasnya.

Ida Pedanda menekankan agar ajaran Tri Kaya Parisudha dicamkan baik-baik dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari demi kedamaian dunia dan alam semesta.
“Ingat fokuskan satu per satu, dari pikiran, dari perkataan, dan dari perbuatan, baru dipadukan dengan alam semesta. Tubuh yang sudah dalam kondisi tenang, maka akan dapat memasukkan aura yang ada di alam semesta dalam kondisi yang sangat tenang,” tandas Ida Peranda.
Turut hadir dalam Dharma Santhi Perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara (PDPN) Cabang Denpasar ini, Walikota Denpasar yang diwakili Sekda Kota Denpasar sekaligus menyerahkan dana punia, para Sulinggih Dharmopadesa di kabupaten/kota se-Bali, Angga Panglingsir Puri Kesiman dan Puri Satria, Kerta Upadesa, Dharma Gosana masing-masing kabupaten, serta seluruh pengurus dari perkumpulan Dharmopadesa Pusat Nusantara, Dharmopadesa seluruh kabupaten/kota di Pulau Dewata. (213)
Editor: Ngurah Dibia











