Barometerbali I Denpasar – Sebanyak 241 atlet dari 32 negara berpartisipasi dalam ajang IFSC Climbing World Cup 2025 yang digelar di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali. 30 atlet Indonesia turut ambil bagian dalam laga tersebut, dua di antaranya berasal dari Bali. Mereka bertanding dalam dua kategori utama, yaitu lead dan speed.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, mengapresiasi perkembangan pesat atlet nasional, meski belum berada di papan atas.
“Atlet Indonesia saat ini memang belum berada di papan atas, tapi ini sesuai prediksi. Kita masih fokus di kategori lead,” ujar Yenny di sela-sela acara, pada Jumat (2/5/2025).
Menurutnya, sejak ia mulai memimpin FPTI, peringkat atlet Indonesia terus menunjukkan kemajuan signifikan.
“Dulu saat saya mulai memimpin, peringkat kita masih di angka 100 dan 80. Kini sudah bisa masuk ke 20 besar. Ini lompatan yang sangat besar,” ungkapnya.
Meski demikian, Yenny mengakui butuh waktu dan proses panjang agar atlet Indonesia bisa menembus tiga besar dunia. Target realistis saat ini adalah mempersiapkan keikutsertaan di Olimpiade Los Angeles mendatang.
“Kita berharap mereka bisa ikut Olimpiade Los Angeles. Minimal, mereka bisa menjadi peserta,” tambahnya.
Lebih lanjut, Yenny menyoroti tantangan yang tidak hanya bersifat fisik. Ia menyebut hal tersebut karena sistem pendidikan Indonesia belum mendukung terbentuknya kemampuan berpikir kritis.
“Indonesia ini sistem pendidikannya belum mengajarkan cara berpikir kritis. Jadi atlet kita sering kesulitan menganalisis jalur yang dirancang oleh pembuat rute,” jelas Yenny.
Ia menambahkan, kemampuan berpikir kritis sangat krusial dalam pengambilan keputusan cepat saat berlaga dikategori lead.
“Kategori lead itu menuntut kecepatan dan ketepatan menganalisis jalur panjatan. Itu bukan hanya soal kekuatan otot, tapi juga strategi,” ujarnya.
Yenny juga mengungkapkan bahwa fasilitas panjat tebing di Indonesia, terutama untuk kategori lead, masih sangat terbatas. Ia berharap pemerintah bisa mendukung lebih jauh dari sisi infrastruktur.
“Saya sudah melobi pemerintah agar bisa membantu penyediaan prasarana yang lebih mutakhir lagi,” pungkasnya. (rian)











