Barometer Bali | Denpasar – Lingkungan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali kini tampil lebih hidup dengan hadirnya Teba Modern, inovasi pengelolaan sampah organik yang berakar dari tradisi Bali yang merupakan bagian dari gerakan pengolahan sampah berbasis sumber.
Konsep ini lahir dari pengembangan metode teba tradisional, lubang tanah sedalam 2 hingga 2,5 meter untuk menimbun sampah yang kini diperkuat dengan beton, diberi penutup, dan difungsikan sebagai komposter.
Yang membuatnya istimewa, Teba Modern di ISI Bali dibalut karya seni rupa penuh warna. Permukaan beton dihiasi motif flora dan fauna tropis, menciptakan kesan artistik sekaligus menyampaikan pesan ekologis. Dari kejauhan, bentuknya tampak seperti instalasi seni kontemporer yang mempercantik kampus, namun sejatinya menjadi sarana pengolahan sampah ramah lingkungan.
Mahasiswa seni rupa ISI Bali berperan aktif dalam melahirkan ide ini. Mereka menjadikan sarana pengolahan sampah sebagai media edukasi visual, memperlihatkan bahwa seni dapat berjalan beriringan dengan kesadaran lingkungan. Para akademisi menilai langkah tersebut sebagai integrasi nyata antara seni dan sains yang mampu menginspirasi masyarakat luas.
Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi langkah kreatif ISI Bali. Ia menegaskan, Teba Modern merupakan bagian dari gerakan pengolahan sampah berbasis sumber yang saat ini gencar digalakkan di seluruh Bali.
“Saya mengajak masyarakat, baik di kota maupun desa, untuk ikut menerapkan Teba Modern. Mari kita balut fasilitas ini dengan karya seni sehingga tempat pengolahan sampah tidak hanya fungsional, tetapi juga eksotik dan indah dipandang,” ujar Koster, Rabu (27/08/2025).
Hadirnya Teba Modern Kreatif di lingkungan kampus ISI Bali sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, indah, dan inspiratif. Dari tradisi lokal lahir solusi berkelanjutan, memperkuat gerakan Bali menuju pulau bersih dan berbudaya. (rah)











