Barometer Bali | Denpasar – Jenazah bule asal Brazil yang jatuh di Gunung Rinjani bernama Juliana Marins diserahkan ke pihak keluarga setelah proses otopsi selesai di RS Bali Mandara Bali, Jumat malam, 27 Juni 2025.
Penyerahan ke pihak keluarga dilakukan di RS Bali Mandara dan disaksikan langsung oleh keluarga, tim dokter, pihak kepolisian dari Polda NTB dan Polda Bali.
“Menurut informasi, jenazah bule asal Brazil tersebut bakal diterbangkan ke Brazil pada Minggu besok, 29 Juni 2025,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Ariasandy, saat dijumpai dalam acara HUT Bhayangkara, Sabtu siang, 28 Juni 2025.
Menurut Ariasandy, jenazah Juliana Marins telah diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga dan perwakilan konsulat pada Jumat malam, 27 Juni 2025.
Meski demikian, kepastian jadwal penerbangan jenazah dari Bali ke Brasil masih menunggu konfirmasi maskapai penerbangan.
“Kalau informasi laporan dari Bid Dokkes Polda Bali, semalam sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Rencana besok (Minggu) diterbangkan ke negara asal. Kita belum tahu waktunya karena masih menunggu jadwal penerbangan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa semula jenazah direncanakan dipulangkan hari ini, Sabtu, 29 Juni 2025, namun tertunda karena tidak ada penerbangan yang tersedia.
“Rencananya, hari ini dipulangkan, tapi tidak bisa karena tidak ada penerbangan. Jadi kemungkinan besok dan akan diantar menggunakan ambulans dari Polda Bali,” imbuh Ariasandy.
Pihak RSUD Bali Mandara membenarkan bahwa proses serah terima dokumen jenazah kepada keluarga dan pihak konsulat telah dilakukan. Pertemuan dilakukan pada Jumat malam, 27 Juni 2025 pukul 21.00 WITA.
“Pihak kepolisian dan pihak RS, dalam hal ini diwakili dokter forensik, telah bertemu dengan keluarga untuk serah terima dokumen dan jenazah,” ungkap salah seorang perwakilan rumah sakit Bali Mandara.
Sebelumnya, jenazah Juliana Marins menjalani proses otopsi di RSUD Bali Mandara pada Kamis, 26 Juni 2025.
Dokter forensik, dr. Ida Bagus Putu Alit, Sp.FM (K), DFM, menjelaskan bahwa penyebab kematian adalah kekerasan benda tumpul yang menyebabkan patah tulang di beberapa bagian tubuh serta kerusakan organ dalam yang memicu perdarahan hebat.
“Kematian disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Banyak ditemukan luka lecet geser di punggung, anggota gerak atas dan bawah, serta kepala. Yang paling parah di area dada bagian belakang yang merusak sistem pernapasan,” kata dr. Alit, didampingi Direktur RS Bali Mandara, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya.
Dari pemeriksaan, ditemukan banyak patah tulang, terutama pada dada bagian belakang, tulang punggung, dan paha. Cedera-cedera tersebut menimbulkan kerusakan pada organ-organ vital korban dan mengakibatkan perdarahan internal masif. (rian)











