Barometer Bali | Jimbaran – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan harapannya agar standar layanan pencarian dan pertolongan (SAR) di Indonesia dapat sejajar dengan standar internasional seperti IMO, ICAO, dan INSARAG. Menurutnya, pencapaian itu hanya bisa diraih melalui peningkatan kompetensi SDM, pemenuhan sarana dan prasarana berstandar global, pembentukan balai pelatihan wilayah timur–tengah–barat, serta penyelarasan regulasi di tingkat nasional, regional, dan internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja Kabasarnas ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Kamis (16/10)2025). Dalam kunjungan perdananya ini, Syafii didampingi Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Sistem Komunikasi, Sekretaris Utama, serta Kepala Biro Humas dan Umum. Turut hadir pula perwakilan tiga Kantor SAR wilayah tengah, yakni Mataram, Maumere, dan Kupang.
Kedatangan Kabasarnas disambut secara adat dengan tarian Hanoman dan simbolisasi pemakaian udeng serta selendang khas Bali. Dalam arahannya kepada seluruh pegawai, Syafii menegaskan pentingnya konsistensi terhadap program kerja Basarnas yang sejalan dengan Asta Cipta 2025–2029, antara lain pengembangan E-SAR platform digital, pembentukan Sistem SAR Nasional Terpadu, penguatan Unit Siaga SAR di wilayah terpencil, serta peningkatan kerja sama keselamatan pelayaran, penerbangan, dan sektor industri.
Syafii juga menyinggung sejumlah operasi SAR besar yang menjadi perhatian publik, seperti runtuhnya bangunan pondok pesantren empat lantai, kecelakaan kapal KMP Tunu Pratama, serta bencana banjir di Bali. Menurutnya, kondisi geografis Indonesia yang luas dan berciri kepulauan menuntut kesiapan SDM dan teknologi yang lebih kuat. “Keterbatasan yang ada harus kita jawab dengan penyesuaian dan inovasi agar tidak mengecewakan ekspektasi publik,” tegasnya.
Sepanjang tahun 2024, Basarnas mencatat 2.562 operasi SAR dengan 41.049 korban (38.871 selamat, 1.774 meninggal, dan 458 hilang). Sementara pada 2025, jumlah operasi menurun menjadi 1.865 kejadian dengan 8.430 korban (6.720 selamat, 1.327 meninggal, dan 383 hilang).
“Keberhasilan bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kejelian dalam merespons dan kepedulian dalam bertindak,” ujar Syafii, yang juga menekankan bahwa menyelamatkan satu nyawa adalah investasi negara bagi masa depan bangsa (ay/rah)











