Barometer Bali | Denpasar – Kompetisi bola basket pelajar Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026, resmi dimulai. Rangkaian panjang ajang ini dibuka di Provinsi Bali, dengan GOR Purna Krida, Kerobokan, Badung menjadi saksi dari pertarungan 35 tim dari sektor putra dan putri sejak 8 hingga 16 Agustus 2025.
Ajang ini merupakan bagian dari seri nasional yang akan digelar di 31 kota dan 22 provinsi di seluruh Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kompetisi ini menyedot perhatian pelajar dan masyarakat karena mengusung konsep student-athlete, di mana peserta dituntut tak hanya unggul di lapangan, tetapi juga berprestasi di bidang akademik.
Ketua KONI Provinsi Bali, IGN Oka Darmawan, menyambut positif pembukaan DBL musim ini di Bali. Ia mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan kompetisi yang kini telah memasuki dekade kedua.
“Saya salut dengan DBL. Kalau tidak salah, ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Itu luar biasa. Setiap tahun tentu harus ada evaluasi agar ke depan bisa lebih baik lagi,” ujar Oka Darmawan usai menghadiri pembukaan DBL Bali 2025 di GOR Purna Krida, Jumat (8/8/2025).
Lebih dari sekadar ajang olahraga, Oka menilai DBL memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan kualitas akademik pelajar. Ia menyebut DBL sebagai ajang seleksi alami bagi atlet muda potensial Indonesia.
“Dengan kejuaraan DBL ini, akan lahir atlet-atlet berprestasi, khususnya di cabang olahraga basket. Bahkan, sudah ada beberapa alumni DBL yang tampil di Liga Nasional,” ungkapnya.
Oka juga menyoroti pentingnya integritas akademik bagi peserta. Menurutnya, DBL menerapkan standar tinggi bagi para siswa agar bisa berkompetisi.
“Kalau nilainya rendah, tidak boleh direkomendasikan ikut DBL. Atlet yang baik itu biasanya juga berprestasi di sekolah. Kecerdasan itu penting. Kalau tidak cerdas, rasanya sulit jadi yang terbaik,” tegasnya.
Konsep student-athlete ini, lanjut Oka, sangat selaras dengan semangat Olimpiade yang menekankan prinsip keunggulan (excellence), baik dalam pendidikan maupun olahraga.
“Semangat olimpis itu yang utama adalah excellence. Jadi, ingin menjadi yang terbaik di sekolah dan di lapangan. Ini harus ditanamkan kepada seluruh siswa,” tambahnya.
Ia juga mendorong sekolah-sekolah di Bali untuk menjadikan DBL sebagai ajang pembinaan serius yang bisa memperkaya CV dan rekam jejak siswa.
“Main basket dan bisa juara di DBL itu luar biasa. Tidak semua orang bisa. Seleksinya ketat dan melalui proses panjang,” katanya.
Mengenai peran KONI Bali, Oka menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh melalui pembinaan dan regulasi, namun tetap mengingatkan bahwa pembinaan utama adalah tanggung jawab klub dan cabang olahraga masing-masing.
“Pembinaan itu tanggung jawab klub. Kalau karate di dojo, taekwondo di dojang, dan basket di klub. Kalau klubnya banyak dan solid, cabang olahraganya akan berkembang,” jelasnya.
Soal antusiasme, Oka mengakui bahwa DBL Bali selalu padat penonton. Bahkan ia sempat mengalami kemacetan panjang saat menuju lokasi kegiatan.
“DBL itu nggak pernah sepi. Tadi jalan sampai macet dua kilometer. Tapi karena cinta basket dan cinta DBL, saya tetap datang. Ini event yang selalu ditunggu-tunggu,” ucapnya.
Oka berharap penyelenggara terus meningkatkan kualitas teknis dan kenyamanan selama pertandingan berlangsung.
“Kalau bisa, panitia lebih memperhatikan jadwal pertandingan dan kebutuhan pendukung lainnya. Agar acara berjalan dengan baik dan aman. Jangan sampai ada insiden,”tutupnya.(rian)











