Kolaborasi HI FISIP UI dan HI FISIP Unud Ajak Siswa Wujudkan “Zero Food Waste”

Screenshot_20251108_074552_WhatsAppBusiness
Kegiatan edukasi dan kampanye “Zero Food Waste: Langkah Kecil, Dampak Global” diikuti oleh kurang lebih 100 siswa-siswi di SMA Negeri 7 Denpasar, Jumat (7/11/2025). (barometerbali/red)

Barometer Bali | Denpasar – Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (HI FISIP UI) dengan Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Udayana (HI FISIP Unud) menggelar kegiatan edukasi dan kampanye “Zero Food Waste: Langkah Kecil, Dampak Global” diikuti oleh kurang lebih 100 siswa-siswi di SMA Negeri 7 Denpasar, Jumat (7/11/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan juga sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 12: Responsible Consumption and Production.

Tujuan dari kampanye ini menurut pihak panitia, guna menumbuhkan kesadaran pelajar mengenai tingginya tingkat sampah makanan (food waste) di Indonesia, serta dampaknya terhadap ekonomi, ketahanan pangan, dan perubahan iklim.

Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan edukatif mulai dari sosialisasi, pemasangan poster kampanye SDGs 12 di perpustakaan sekolah, menjawab kuis interaktif, dan bernyanyi bersama lagu “SDGs Song” yang diciptakan oleh Dr. Gracia Paramita, Dosen Hubungan Internasional FISIP UI.

Kepala SMA Negeri 7 Denpasar, Cokorda Gede Anom, M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia pendidikan menengah.

Berita Terkait:  Wisuda Siswa Lansia, Wayan Diar: Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dari Departemen Hubungan Internasional FISIP UI dan Universitas Udayana yang telah menghadirkan kampanye edukatif seperti ini ke lingkungan sekolah. Kolaborasi semacam ini membuka wawasan siswa kami dan menanamkan nilai-nilai keberlanjutan sejak dini,” jelas Cokorda Anom dalam sambutannya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan dan tanggung  jawab sosial di kalangan generasi muda, serta berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Bali dan Indonesia.

Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Asra Virgianita, Ph.D.,yang hadir sebagai perewakilan Departemen HI sekaligus pemateri, menekankan bahwa di tengah krisis pangan global dan ancaman perubahan iklim, isu food waste menjadi semakin relevan.

Food waste merujuk pada makanan yang seharusnya masih layak konsumsi namun terbuang sia-sia, baik di rumah tangga, restoran, pasar, maupun industri. Dampaknya tidak hanya merugikan secara ekonomi dan lingkungan, tetapi juga menyingkap ketimpangan sosial yakni jutaan orang kelaparan, sementara jutaan ton makanan dibuang setiap tahun,” beber Asra.

Indonesia saat ini menjadi penyumbang sampah makanan terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 20 juta ton makanan terbuang setiap tahun. Ironisnya, angka ini muncul di tengah tingginya prevalensi stunting dan gizi buruk di berbagai wilayah Indonesia.

Berita Terkait:  Teknologi Jadi Benteng Budaya: Nusaheritage.id Raih Juara Nasional, Didukung Wamenbud RI

“Di sinilah peran siswa menjadi krusial. Sebagai generasi yang tumbuh dengan kesadaran digital dan sosial, siswa memiliki kekuatan untuk mengubah pola pikir dan perilaku di lingkungan sekitarnya. Kita bukan hanya konsumen, tetapi juga agen perubahan,” tandasnya.

Asra menekankan bahwa kampanye Zero Food Waste harus dimulai dari ruang-ruang pendidikan. “Bayangkan jika setiap siswa mulai membawa bekal secukupnya, menghabiskan makanannya, dan mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. Efeknya bisa berlipat ganda,” pungkas Asra mengingatkan.

Perwakilan Universitas Udayana, Ni Nyoman Clara Listia Dewi, M.A., menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi model kolaborasi kampus dengan sekolah dalam mendorong literasi keberlanjutan di Bali. Sinergi seperti ini penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap isu-isu global yang berdampak lokal, seperti food waste.

“Situasi food waste di Bali memiliki karakteristik yang unik. Sebagai daerah pariwisata dan pusat budaya, Bali menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah makanan. Salah satu sumber signifikan adalah sisa makanan dari upacara keagamaan, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali,” tutur Clara.

Berita Terkait:  Perkuat Sinergi Pendidikan, Dewan Pendidikan Bangli Gelar Evaluasi Tahun 2025

Upacara seperti odalan, galungan, dan ngaben sering kali menghasilkan limbah makanan dalam jumlah besar, terutama dari sesajen dan hidangan yang tidak dikonsumsi.

“Kegiatan kampanye seperti ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun jejaring aksi.  Ketika siswa SMA mulai memahami dan menyuarakan isu keberlanjutan, mereka bukan hanya belajar, tapi juga menjadi bagian dari solusi,” tutup Clara menegaskan.

Antusiasme siswa SMA Negeri 7 Denpasar begitu terasa sepanjang kegiatan Kampanye SDGs 12: Zero Food Waste. Mereka aktif menjawab dan merespons pertanyaan dengan penuh semangat, menunjukkan pemahaman yang mendalam dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap isu food waste dan peran yang mereka harus lakukan.

Tak hanya aktif di lokasi, para siswa juga menggaungkan pesan Zero Food Waste melalui unggahan di media sosial, menjadikan kampanye ini lebih berdampak dan menjangkau generasi muda lainnya. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI