Barometer Bali | Bentuyung, Ubud — Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana melaksanakan program pemberdayaan bertajuk “Empowering Community Through Standardized Jamu Innovation, Cultural Preservation, and International Student Collaboration,” yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam produksi jamu berkualitas sekaligus pelestarian pengetahuan tradisional.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ni Kadek Warditiani bersama Ni Made Widi Astuti dan Putu Sanna Yustiantara berlangsung pada Senin (10/11/2025) di Kebun Tanaman Obat Bentuyung, Desa Ubud, dengan dukungan aktif dari pemilik kebun, kelompok Ibu PKK, serta mahasiswa nasional dan internasional.
“Pelatihan ini mengajak masyarakat untuk mengenali tanaman obat yang tumbuh di lingkungan mereka, memahami khasiatnya, serta mengolahnya menjadi produk jamu yang higienis dan memenuhi standar mutu,” ungkap Warditiani.
Peserta mempraktikkan pembuatan empat jenis jamu populer, yaitu jamu kunyit asem, kunyit jeruk nipis, kunyit daun beluntas, dan beras kencur, yang seluruh bahan bakunya berasal dari kebun lokal.
“Salah satu bahan yang paling menarik perhatian adalah daun beluntas, yang secara tradisional digunakan sebagai penghilang bau badan dan penyejuk tubuh. Masyarakat menyampaikan antusiasme tinggi karena pelatihan ini membuka peluang pengembangan jamu sebagai produk unggulan desa,” tandas Warditiani.
Kegiatan ini juga memberikan pengalaman lapangan yang sangat berharga bagi mahasiswa Universitas Udayana. Mereka terlibat langsung dalam pengamatan organoleptis berbagai tanaman obat, termasuk mencicipi, meraba, dan mencium aroma tanaman segar untuk mengenali karakteristik biofarmasetiknya.
Pengalaman praktis seperti ini menjadi pelengkap penting dalam pembelajaran fitofarmasi karena memberi pemahaman nyata terhadap simplisia segar, sesuatu yang tidak selalu dapat diperoleh melalui teori di kelas.
“Kehadiran mahasiswa internasional turut memperkaya proses pembelajaran dengan terjadinya dialog budaya dan perspektif global tentang pengobatan tradisional Indonesia,” kata Warditiani.
Selain pelatihan teknis, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai standar higienitas, teknik pemrosesan yang baik, hingga strategi pengemasan dan branding jamu agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Pendekatan komprehensif ini dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mempertahankan identitas budaya Bali sebagai pusat pengetahuan herbal tradisional.
Warditiani menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada praktik pembuatan jamu, tetapi juga pada upaya pelestarian tradisi melalui transfer pengetahuan lintas generasi.
“Kami ingin masyarakat Bentuyung tidak hanya terampil memproduksi jamu, tetapi juga memahami nilai budaya yang menyertainya. Keterlibatan mahasiswa internasional pun menunjukkan bahwa jamu Bali memiliki daya tarik global dan relevansi dalam tren kesehatan modern,” ujarnya.
Program pengabdian ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi berkelanjutan antara universitas, masyarakat lokal, dan mitra internasional dalam mengembangkan jamu sebagai produk unggulan yang berbasis kearifan lokal namun tetap memenuhi standar ilmiah. Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk memajukan ekonomi kreatif desa sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali di tengah perkembangan zaman. (red)











