Barometer Bali | Denpasar – Badan Karantina Indonesia (Barantin) menegaskan peran strategisnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan biosekuriti nasional saat mendampingi Komisi IV DPR RI dalam kunjungan kerja ke Provinsi Bali, Senin (4/8/2025). Kunjungan ini membahas sektor pangan, pertanian, kehutanan, kelautan-perikanan, dan perkarantinaan, dengan agenda utama memperkuat sinergi lintas sektor di daerah.
Rombongan Komisi IV DPR RI yang dipimpin Ketua Tim Kunjungan Alex Indra Lukman disambut langsung oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster. Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa pembangunan Bali berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, menjaga kesucian dan keharmonisan alam beserta isinya demi terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, berakar pada ajaran Sad Kerthi yang menekankan keseimbangan manusia, alam, dan spiritualitas.
Alex Indra Lukman menilai sektor pangan, kehutanan, kelautan-perikanan, dan perkarantinaan adalah penopang utama negara kepulauan seperti Indonesia.
“Ketahanan pangan, hutan yang lestari, kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, serta sistem perkarantinaan yang kuat merupakan fondasi penting dalam menjamin masa depan ekonomi dan keseimbangan lingkungan. Perkarantinaan menjadi garda depan sistem pertahanan negara,” tegasnya.
Deputi Bidang Karantina Ikan Barantin, Drama Panca Putra, menjelaskan peran vital karantina dalam mengawasi lalu lintas media pembawa HPHK, HPIK, dan OPTK demi memastikan komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan memenuhi standar keamanan dan kesehatan.
“Peran karantina mendukung ketahanan pangan dan biosekuriti nasional melalui pengawasan di tiga lapis perlindungan, yaitu pre-border, at-border, dan post-border,” ungkapnya.
Drama memaparkan berbagai inovasi seperti Sertifikasi Kesehatan Ikan berbasis CKIB, digitalisasi layanan, penguatan laboratorium, serta harmonisasi regulasi dengan kementerian dan otoritas ekspor. Ia juga mengusulkan penyesuaian regulasi status penyakit hewan seperti ASF, rabies, dan flu burung di Bali yang kini mulai membaik, serta pembangunan fasilitas fumigasi oleh Pelindo untuk memperlancar ekspor.
“Kami berharap Pelindo membangun depo petikemas dengan fasilitas fumigasi agar proses ekspor dari Bali lebih cepat,” jelasnya.
Kepala Karantina Bali, Heri Yuwono, menambahkan bahwa periode Januari–Juni 2025 mencatat 10.280 kali frekuensi ekspor, naik dari 10.039 kali di periode yang sama 2024. Komoditas unggulan Bali antara lain benih bandeng, tuna, cumi-cumi, manggis, vanili, reptil, kumbang, dan kepompong.
Kunjungan ini turut dihadiri Direktur Tindakan Karantina Ikan Barantin, perwakilan Kementerian Pertanian, KKP, Kementerian Kehutanan, Bapanas, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, ID Food, serta jajaran Pemprov Bali. (red)











