Barometer Bali | Denpasar -Pengelola Desa Wisata Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna mengatakan bahwa alih fungsi lahan pertanian Jatiluwih menjadi unit usaha tak semata karena kepentingan bisnis. Salah satu faktor yang kerap luput dari perhatian adalah krisis air.
Ia mengatakan, kekurangan pasokan air di kawasan subak Jatiluwih membuat lahan menjadi kering dan tidak produktif. Akibatnya, lahan-lahan itu dialifungsihkan menjadi unit usaha seperti kafe.
“Sebenarnya alih fungsi lahan di Jatiluwih itu bukan untuk keperluan bisnis semata-mata. Tapi banyak sekali, saya ngomongnya hektaran tanah di Jatiluwih itu beralih fungsi karena kekurangan sumber air,” ujar Jhon saat rapat koordinasi bersama Pansus TRAP DPRD Bali dan Pemkab Tabanan, Kamis (8/1/2026).
Ia kemudian meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) mengoptimalkan sumber air di kawasan Jatiluwih. Dengan penataan dan pengelolaan yang tepat, debit air yang mengalir ke sistem subak diyakini dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat dari kondisi saat ini.
“Saya minta tolong (BWS) juga bahwa sumber air yang sebenarnya di Jatiluwih bisa didua kalipatkan,” ucap Jhon.
Ia mengusulkan pembangunan bendungan kecil sebagai solusi mengatasi krisis air di Jatiluwih. Menurutnya, langkah tersebut tidak memerlukan biaya besar.
Hal itu menurutnya efektif untuk menahan laju alih fungsi lahan sekaligus menjaga kelestarian sawah ikonik Bali.
“Kalau kita bisa membuat sejenis bendungan kecil saja itu biayanya tidak mahal. Saya yakin ada dana sampai 500 juta itu, debit air yang masuk ke subak Jatiluwih itu bisa mencapai dua kali lipatnya,”jelasnya.***










