Krisis BBM Bali Jadi Pelajaran, Ketua SMSI Bali Desak Pertamina Benahi Komunikasi Publik

Screenshot_20261022_091036_Gallery
KOMUNIKASI PUBLIK - Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali, Emanuel Dewata Oja (Edo) yang juga praktisi pers dan pengamat komunikasi publik, dalam program Sapa Pagi Kompas TV Bali bertema “Belajar dari Krisis BBM di Bali”, Rabu (21/10/2026). Program tersebut dijadwalkan tayang di Kompas Dewata TV Bali pada Jumat (23/10/2026). (Barometer Bali/Red/Ilustrasi AI)

Barometer Bali | Denpasar – Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali menjadi momentum bagi Pertamina untuk mengevaluasi tidak hanya sistem pasokan dan distribusi, tetapi juga strategi komunikasi publik dalam menghadapi situasi darurat.

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja alias Edo, menilai ketidakpastian informasi dari pihak Pertamina di tengah gangguan pasokan BBM berpotensi memperbesar keresahan masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya manajemen komunikasi krisis yang terencana, cepat, dan transparan.

Pandangan itu disampaikan Edo, yang juga praktisi pers dan pengamat komunikasi publik, seusai menjalani rekaman program Sapa Pagi Kompas TV Bali bertema “Belajar dari Krisis BBM di Bali”, Rabu (21/10/2026). Program tersebut dijadwalkan tayang di Kompas TV Bali pada Jumat (23/10/2026).

“Dalam situasi krisis BBM, kecepatan distribusi BBM sama pentingnya dengan kecepatan distribusi informasi. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kepastian ketersediaan BBM, tetapi juga informasi yang cepat, akurat, transparan, dan konsisten,” tegas Edo.

Berita Terkait:  Putra Widiastawa, Putra Bali Asal Singaraja Resmi Pimpin Kodam IX/Udayana

Ia menjelaskan, minimnya informasi mengenai kondisi pasokan, penyebab gangguan, serta langkah penanganan dapat menciptakan ruang ketidakpastian. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berisiko memunculkan spekulasi, meningkatkan kecemasan, dan menghambat masyarakat dalam menentukan langkah yang tepat.

Menurut Edo, tantangan komunikasi semakin besar ketika persoalan antrean BBM menyebar melalui platform digital. Foto, video, dan informasi yang dibagikan masyarakat dapat memperluas jangkauan kabar dalam waktu singkat. Tanpa informasi resmi yang memadai, penyebaran konten tersebut berpotensi memperbesar kepanikan.

“Coba perhatikan ketika antrean BBM sudah masuk ruang digital. Semua orang membangun komunikasi sendiri-sendiri dengan menyebarkan informasi, gambar, juga video. Jika tidak terkontrol, sangat besar potensinya masyarakat malah mengamplifikasi kepanikan. Ini bahaya sekali,” katanya.

Berita Terkait:  Tradisi Tepung Tawar Warnai Penyambutan Pangdam IX/Udayana di Bali

Edo menilai masyarakat Bali patut diapresiasi karena mampu menyikapi situasi tersebut dengan bijak. Namun, ia mengingatkan bahwa antrean panjang yang disertai ketidakpastian informasi dapat memicu ketegangan sosial, bahkan berpotensi menimbulkan tindakan anarkis apabila tidak ditangani secara tepat.

Selain berdampak terhadap masyarakat, Edo menyoroti bagaimana persoalan BBM turut menempatkan Pemerintah Provinsi Bali di tengah tekanan publik. Padahal, dalam penanganan krisis tersebut, peran pemerintah daerah antara lain berkaitan dengan koordinasi lintas pihak dan kebijakan darurat di tingkat daerah, termasuk penerapan sistem ganjil-genap.

“Jangan sampai otoritas yang bertanggung jawab atas pasokan dan distribusi BBM tidak cukup hadir dalam komunikasi publik, sementara pemerintah daerah justru menjadi sasaran tuntutan masyarakat. Pembagian kewenangan dan tanggung jawab harus dijelaskan secara terbuka agar publik memahami siapa melakukan apa,” tandasnya.

Karena itu, Edo menekankan bahwa komunikasi publik harus menjadi bagian utama dalam manajemen krisis, bukan sekadar pelengkap setelah persoalan terjadi. Pertamina dan seluruh otoritas terkait perlu membangun pola komunikasi yang lebih proaktif, berbasis data, serta menyampaikan perkembangan penanganan secara berkala.

Berita Terkait:  Rapat dengan Gubernur Koster, Pertamina Pastikan Stok Pertalite Bali 48 Juta Liter, 66 SPBU Buka 24 Jam

Informasi mengenai volume pasokan, jadwal kedatangan BBM, kondisi distribusi, hingga langkah pemulihan perlu disampaikan secara jelas dan konsisten sesuai data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, masyarakat memiliki pegangan informasi yang kredibel dan tidak hanya bergantung pada kabar yang beredar di media sosial.

Menurut Edo, pemulihan krisis tidak cukup diukur dari kembali normalnya distribusi BBM. Kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab juga menjadi bagian penting yang harus dipulihkan.

“Dalam krisis, keterlambatan informasi dapat memperpanjang krisis itu sendiri. Pasokan harus dipulihkan, tetapi kepercayaan publik juga harus dijaga,” tutup Edo. (red)

 

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI