Barometer Bali — Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu di Bali kembali memasuki momen sakral Hari Raya Kuningan, sebuah perayaan penuh refleksi, syukur, dan penguatan spiritual. Hari suci ini diperingati setiap 210 hari menurut kalender Pawukon, tepat pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
Makna dan Filosofi Kuningan
Nama “Kuningan” merujuk pada warna kuning, simbol kemakmuran, kesucian, kejernihan pikiran, serta cahaya kebijaksanaan dalam Hindu Bali.
Menurut rilis resmi Ditjen Bimas Hindu—Kementerian Agama RI, Hari Raya Kuningan merupakan saat bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para dewa. Pada hari ini pula umat meyakini para leluhur yang turun saat Galungan kembali naik ke alam suci (kahyangan).
Kuningan juga menjadi momentum umat untuk memperteguh komitmen menjaga kemenangan dharma atas adharma, tidak hanya dalam ritual, tetapi juga dalam laku kehidupan sehari-hari.
Pernyataan Pemuka Agama
Seorang sulinggih dalam sebuah wawancara budaya pernah menegaskan bahwa:
“Galungan adalah kemenangan kesadaran suci, sedangkan Kuningan adalah penyempurnaan. Pada hari ini umat memohon tuntunan terakhir, penyucian, serta restu leluhur untuk kembali menjalani dharma dalam kehidupan nyata.”
Beliau menambahkan bahwa Galungan–Kuningan mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas, moralitas, dan hubungan harmonis dengan alam semesta.
Ritual dan Tradisi
Sejak pagi, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan banten kuningan seperti nasi kuning, canang kuningan, endongan, hingga lambang-lambang perlindungan dan kemakmuran.
Rangkaian upacara biasanya selesai sebelum pukul 12.00, karena diyakini bahwa setelah tengah hari para leluhur kembali ke alam suci.
Makna Tamiang dalam Perayaan Kuningan
Salah satu ciri khas perayaan Kuningan adalah pemasangan tamiang di palinggih-palinggih, sanggah/merajan, dan pura.
Tamiang berbentuk lingkaran dengan hiasan janur berlapis, menyerupai perisai.
Dalam filosofi Hindu Bali, tamiang melambangkan:
Perlindungan dari kekuatan negatif
Kemenangan dharma atas adharma
Kesadaran hidup yang seimbang, agar manusia selalu ingat menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan
Cakra kosmis, simbol siklus hidup dan roda dharma yang terus berputar
Pemasangan tamiang menjadi pengingat bahwa kemenangan spiritual yang diperingati pada Galungan harus dipertahankan dan dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Relevansi Bagi Masyarakat Modern
Perayaan Galungan dan Kuningan bukan hanya tradisi leluhur, tetapi menjadi peneguh nilai-nilai luhur seperti kebenaran, kesucian hati, rasa syukur, dan keharmonisan dengan keluarga, lingkungan, dan alam.
Di tengah tantangan kehidupan modern, Kuningan mengingatkan bahwa kemakmuran sejati bukan hanya materi, tetapi ketenangan batin, kebijaksanaan, dan keutuhan spiritual. (red)











