Kurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas, Benarkah? Ini Penjelasan Pakar

BARO JUNI F 13
Obesitas menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. (barometerbali/dok.©shutterstock/Fuss Sergey)

Barometerbali.com | Denpasar – Obesitas dapat menjadi bahaya tersendiri karena dapat menyebabkan munculnya penyakit lain seperti diabetes, kadar kolesterol yang tinggi, dan tekanan darah tinggi.

Namun, tanpa disadari banyak hal yang dapat memicu obesitas pada remaja, salah satunya yaitu kurangnya waktu tidur.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Dr Nur Aisiyah Widjaja dr Sp A(K), menyebut bahwa kebiasaan jam tidur yang kurang dapat meningkatkan risiko obesitas.

“Perlu regulasi jam tidur yang tepat, maksimal pukul 21.00, yang mana hormon melatonin yang mengatur regulasi tidur akan meningkat perlahan dari pukul 20.00,” kata Nur Aisiyah.

Berita Terkait:  9 Pilihan Makanan dan Minuman yang Bantu Mengatasi Rasa Lesu di Siang Hari, Apa Saja?

“Apabila tidur melebihi pukul 21.00, maka hormon melatonin akan digantikan dengan hormon leptin yang dapat memberikan rasa lapar dan keinginan untuk sekedar ngemil atau makan meningkat,” ujarnya lagi.

Dia menyebut bahwa kebiasaan tidur larut malam biasanya dibarengi dengan kegiatan makan cemilan yang kurang baik dimakan saat malam hari.

Menurut dia, banyak remaja yang mengonsumsi mie instan dan terkadang ditambah telur sebagai campurannya saat malam hari.

Berita Terkait:  Waspada! 7 Kesalahan Diet yang Berbahaya bagi Kesehatan, Nomor 6 Sering Tak Disadari

Tidak jarang juga, remaja memakan gorengan sebagai cemilan saat malam hari.

“Tambahan tersebut juga akan menambah asupan kalori yang masuk pada tubuh, terlebih saat malam hari tubuh tidak terlalu aktif bergerak sehingga berisiko besar munculnya obesitas,” katanya.

Stres Pengaruhi Waktu Tidur

Selain berkaitan dengan obesitas, kurangnya waktu tidur juga dapat dipengaruhi oleh stres.

Nur Aisiyah mengatakan, tubuh dapat melepaskan hormon kortisol saat sedang stres.

Padahal, menurut dia, peningkatan hormon kortisol akan mengganggu pelepasan melatonin yang mengatur tidur.

Berita Terkait:  Terbiasa Minum Air Putih Sebelum Tidur, Apa Saja Manfaatnya untuk Kesehatan?

Oleh karena itu, Nur Aisiyah menekankan pentingnya menjaga stres tubuh, tidak hanya menjaga pola makan.

Dia menyebut durasi tidur yang kurang dapat memicu terjadinya obesitas yang nantinya dapat berdampak pada peningkatan Sindrom Metabolik (risiko diabetes, penyakit jantung koroner dan penyakit yang berhubungan dengan penyakit non communicable disease/NCD).

“Usahakan tidur di jam 9 malam dan makan terakhir di jam 7 (malam), serta hindari pengerjaan tugas kebut semalam. Perhatikan durasi tidur karena dapat memicu terjadinya obesitas yang berdampak,” pungkasnya. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI