Memaknai ARMAFest: Semangat Kesetiaan ARMA terhadap Budaya

Screenshot_20260205_230646_InCollage - Collage Maker
Sebuah cuplikan pementasan dari pengisi acara saat digelarnya ARMAFest 2025. (barometerbali/arma/red)

SEBUAH peristiwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah “ritus” penyambung nalar masa lalu dengan kegelisahan masa depan.

ARMAFest bukanlah sebuah bangunan yang tiba-tiba berdiri. Ia adalah pohon yang tumbuh dari akar sejarah panjang Agung Rai Museum of Art (ARMA) yang resmi dibuka sejak 9 Juni 1996. Namun, sebagai sebuah festival khusus yang mengusung nama “ARMAFest”, perhelatan ini secara konsisten mulai tahun 2023 mengukuhkan eksistensinya sebagai agenda tahunan yang krusial dalam beberapa tahun terakhir (terutama pasca-pandemi sebagai simbol kebangkitan spiritual dan kreatif).

Hingga saat ini, ARMAFest telah menjadi ajang yang dinanti, dengan beberapa tonggak penting yang pernah dihadirkan dalam tema-temanya yang sangat menggugah:
ARMAFest 2023 (“Preserving Heritage, Igniting Creativity”): Menjadi sebuah jembatan yang kuat antara masa lampau dan masa kini. Di sini, publik tidak hanya menonton, tapi “mengalami”. Workshop pembuatan instrumen Genggong  oleh I Made Griyawan berikut pentas Genggong Kutus dan pembuatan suling oleh Made Pindah, menunjukkan bahwa kurasi ARMA berfokus pada transfer of knowledge (perpindahan pengetahuan), bukan sekadar tontonan.

ARMAFest 2024 – “Tradition Reimagined”: Mempertegas posisi museum sebagai laboratorium. Penekanan pada “imajinasi ulang” menunjukkan keberanian kuratorial untuk menampilkan kolaborasi musik kontemporer tanpa kehilangan pijakan pada gamelan klasik.

ARMAFest 2025 – “Preserving Culture” : boleh dikata tema ini adalah kata kerja aktif ARMA sebagai museum Pendidikan tentang ke-adiluhung-an seni warisan leluhur. ARMAFest mengajak publik untuk mengenal dan mengalami langsung misalnya cara melukis gaya Batuan, sebuah tonggak penting dalam seni Lukis tradisional Bali

Berita Terkait:  Darah Kering Caracas, Hantu Kutub Utara

Di tengah riuhnya arus pariwisata yang terkadang hanya menyentuh permukaan kulit, Agung Rai Museum of Art (ARMA) berdiri layaknya sebuah oase yang menjaga kedalaman sumur tradisi. ARMAFest bukan sekadar festival tahunan yang terjadwal dalam kalender pariwisata; ia adalah sebuah pernyataan sikap. Ia adalah perayaan atas ketahanan sebuah ekosistem budaya yang digagas oleh Anak Agung Gede Rai—seorang penjaga gawang kebudayaan yang setia dan memahami bahwa museum tidak boleh menjadi sekadar “gudang artefak” yang dingin.

Ruh Pewarisan: Melampaui Sekadar Estetika

Semangat utama ARMAFest terletak pada pewarisan (inheritance). Namun, pewarisan di sini bukan berarti menyalin masa lalu secara buta. ARMA memahami bahwa budaya adalah organisme yang bernapas. Melalui festival ini, terjadi dialog lintas generasi. Maknanya sangat dalam: memastikan bahwa taksu—energi spiritual seni Bali—tidak menguap ditelan modernitas.

Di panggung-panggung ARMA, kita melihat para belia menarik pelatuk kipas tari Legong dengan presisi yang sama dengan guru-guru mereka yang telah sepuh. Ini adalah upaya memandikan kembali jiwa-jiwa muda dengan air suci tradisi, agar mereka tidak kehilangan arah di tengah belantara globalisasi.

Sepanjang perhelatannya, ARMAFest telah menjadi muara bagi berbagai ekspresi yang luhur. Kita pernah menyaksikan:
Revitalisasi Tari Tradisional: Penampilan tari-tari klasik yang mulai langka, dikembalikan ke pusat perhatian untuk mengingatkan kita pada akar. Penampilan Legong Lasem Peliatan yang magis hingga Tari Kecak Sang Hyang Jaran yang sarat akan nuansa ritus purbani.

Berita Terkait:  Didi Sungkono: Wacana POLRI Dibawah Kementerian Adalah Kemunduran Negara Demokrasi

Kolaborasi Lintas Batas:

Pertemuan antara musisi kontemporer dunia dengan gamelan Bali, menciptakan harmoni yang membuktikan bahwa tradisi kita sangat inklusif.

Workshop Literasi dan Kriya:

Ruang di mana narasi-narasi tentang lukisan gaya Kamasan hingga Batuan dibedah, memberikan nutrisi intelektual bagi para pengunjung. Pelatihan menulis aksara Bali di atas lontar hingga teknik pewarnaan alami dalam lukisan gaya Batuan

Seni Visual:

Eksibisi kuratorial yang membedah narasi lukisan gaya Kamasan (abad ke-17) hingga karya-karya modernis seperti milik Walter Spies dan Rudolf Bonnet, yang diletakkan dalam konteks dialog dengan seniman muda Bali masa kini.

Kurasi: Menjaga Nalar dan Rasa

Fungsi kurator seni budaya yang dijalankan ARMA selama ini melampaui tugas teknis memilih karya. Kurasi di ARMA adalah sebuah laku budaya. Mereka tidak hanya memilih mana yang “indah” secara visual, tetapi mana yang memiliki integritas naratif.

ARMA bertindak sebagai “penyaring” yang teliti. Mereka memberikan ruang bagi eksperimen, namun tetap memegang teguh pakem-pakem yang menjadi fondasi.

Fungsi kuratorial ini berperan sebagai jembatan yang menghubungkan seniman dengan publiknya, memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak terdistorsi menjadi sekadar komoditas hiburan murah. Di tangan ARMA, kurasi adalah upaya menjaga martabat seni itu sendiri.

Berita Terkait:  Obituari I Gusti Ngurah Arimbawa Jejak Kejujuran, Kerja Keras, dan Warisan Nilai Kehidupan

ARMAFest menjadi pengingat bahwa kebudayaan adalah rumah yang harus terus dihuni dan diperbaiki, bukan sekadar didirikan. Melalui festival ini, ARMA Museum and Gallery telah membuktikan diri bukan hanya sebagai penyimpan memori, melainkan sebagai generator yang terus memproduksi energi kebudayaan untuk masa depan.

Menyongsong ARMAFest 2026: Sebuah Prediksi

Tahun 2026 ini, ARMAFest diprediksi akan semakin memperdalam tema “Eco-Art” atau hubungan manusia dengan alam (bagian dari Tri Hita Karana) yang kian tergerus. Dari pola kurasi sebelumnya, kita bisa mengharapkan, misalnya:

Revitalisasi Seni Pertunjukan Berbasis Ritual: Menampilkan kembali sendratari yang bertema pelestarian alam, seperti Barong Prakpak (?)

Simposium Budaya:

Pertemuan para pemikir budaya untuk merumuskan posisi Bali di tengah kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi global.

Ruang Inklusif:

Panggung bagi seniman muda dari pelosok desa di Bali untuk menampilkan “temuan” estetika mereka di museum kelas dunia.

Di ARMA, rupanya kurator tidak bekerja di balik meja kaca. Mereka adalah “penyuluh” yang turun ke komunitas-komunitas seni. Fungsi kurator seni budaya yang dijalankan ARMA selama ini adalah Fungsi Validasi dan Edukasi. Mereka memvalidasi bahwa sebuah karya memiliki kedalaman filosofis, lalu mengedukasikannya kepada dunia agar tidak terjadi misinterpretasi. ARMA tidak hanya meng-kurasi benda, mereka meng-kurasi “semangat”.

Kita tunggu kejutan ARMAFest 2026..!

Prambanan, 5/02/2026
I Gede Joni Suhartawan

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI