Mengintip Keunikan Desa Trunyan: Wisata Budaya dan Tradisi Mistis di Bali

BARO AGUS F 6
Tradisi "mepasah" yang dilakukan masyarakat Desa Trunyan bertujuan menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. (barometerbali/dok.net)

Barometer Bali | Bangli –  Bali, selain terkenal dengan pantainya yang memukau dan tarian tradisionalnya yang memikat, juga memiliki sisi lain yang penuh dengan kekayaan budaya dan tradisi unik.

Salah satu tempat yang menawarkan pengalaman berbeda adalah Desa Trunyan, yang terletak di tepi timur Danau Batur, Kintamani.

Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang menarik perhatian karena tradisinya yang berbeda dari kebanyakan adat Bali.

Desa Mistis di Tengah Kedamaian

Desa Trunyan dikenal dengan tradisi pemakaman unik yang menggunakan pohon taru menyan sebagai elemen utamanya.

Nama “Trunyan” sendiri diambil dari pohon ini, yang memiliki aroma wangi khas dan dianggap mampu menghilangkan bau dari jasad manusia.

Berita Terkait:  Pesona Keindahan Bukit Desa Pinggan, Sunrise Spot Terbaik di Kintamani

Tidak seperti pemakaman pada umumnya, masyarakat Trunyan tidak mengubur atau membakar jenazah.

Sebagai gantinya, jasad diletakkan di atas tanah, tepat di bawah pohon taru menyan, dan dikelilingi oleh pagar bambu.

Tradisi ini, yang dikenal sebagai “Mepasah”, dilakukan untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Menariknya, meskipun jasad dibiarkan di alam terbuka, tidak ada bau busuk yang tercium, berkat pengaruh mistis pohon taru menyan.

Perjalanan Menuju Desa Trunyan

Mengunjungi Desa Trunyan membutuhkan perjalanan yang cukup menantang, tetapi pengalaman yang ditawarkan sepadan.

Wisatawan dapat mencapai desa ini dengan menyewa perahu dari Dermaga Kedisan, melintasi Danau Batur yang dikelilingi pemandangan gunung yang megah.

Berita Terkait:  Diterpa Isu Negatif, Pariwisata Bali Tetap Kokoh, Wisman Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Setibanya di Trunyan, suasana sunyi dan mistis langsung terasa, berpadu dengan keindahan alam yang asri.

Pengalaman Budaya yang Tak Tergantikan

Selain pemakaman unik, Desa Trunyan juga menawarkan pengalaman mendalam tentang kehidupan masyarakat Bali Aga, penduduk asli Bali yang masih memegang erat tradisi nenek moyang mereka.

Rumah-rumah di desa ini memiliki arsitektur tradisional yang sederhana, dengan pola hidup masyarakat yang lekat dengan alam.

Wisatawan dapat belajar tentang adat istiadat lokal, mendengar cerita-cerita mistis, hingga merasakan makanan tradisional yang otentik.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Karena Desa Trunyan adalah tempat sakral bagi penduduk lokal, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh wisatawan.

Berita Terkait:  10 Penangkaran Penyu di Bali untuk Agenda Liburan Seru dan Mengedukasi 

Pengunjung diharapkan berpakaian sopan, menjaga ketenangan, dan menghormati tradisi setempat.

Sebelum mengunjungi area pemakaman, biasanya akan ada pemandu lokal yang memberikan penjelasan tentang aturan-aturan yang berlaku.

Menyentuh Jiwa Wisatawan

Bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang lebih dari sekadar keindahan visual, Desa Trunyan adalah destinasi yang wajib dikunjungi.

Di sini, wisatawan diajak untuk merenungkan hubungan antara manusia, tradisi, dan alam.

Perpaduan antara keindahan alam Danau Batur dan keunikan budaya Trunyan menjadikan tempat ini sebagai salah satu permata tersembunyi di Bali yang patut untuk dijelajahi. (ari)

 

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI