Menu Wajib! Ini Filosofi dan Makna Ketupat dalam Tradisi Lebaran 

BARO MAR F 39A
Ini filosofi dan makna ketupat dalam tradisi Lebaran. (barometerbali/dok.Freepik) 

Barometerbali.com | Denpasar – Ketupat merupakan hidangan ikonik yang sering hadir pada saat Hari Raya Idul Fitri pada 1 Syawal dan Lebaran Ketupat pada 8 Syawal.

Ketupat merupakan makanan tradisional khas Indonesia yang berbahan dasar beras dan dimasak dengan cara direbus.

Ketupat memiliki bentuk yang unik dan khas.

Di balik bentuknya yang unik, ketupat mempunyai makna filosofis untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan dengan melakukan tradisi sungkeman.

Filosofi Ketupat

Dilansir dari berbagai sumber, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, yang mengawali tradisi ketupat ini.

Berita Terkait:  6 Makanan dan Minuman yang Dikira Sehat Ini Ternyata Bisa Picu Masalah Kesehatan, Jangan Tertipu Label!

Sunan yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa itu menggabungkan filosofi, budaya Jawa, dengan prinsip Islam.

Di mana prinsip-prinsip Islam dipengaruhi oleh budaya Hindu yang menyebabkan akulturasi budaya antara keduanya.

Ketupat berasal dari istilah bahasa Jawa, yaitu ‘ngaku lepat’ (mengakui kesalahan dan laku papat, empat tindakan).

Tindakan yang dimaksud adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran diartikan sebagai berakhirnya waktu puasa Ramadan dan siap menyambut hari kemenangan Idul Fitri.

Sedangkan luberan memiliki makna berbagi kepada fakir miskin.

Berita Terkait:  Perkuat Komitmen Keberlanjutan, Ascott Indonesia Salurkan 6.500 Kotak Makan di 17 Kota di Indonesia

Leburan memiliki makna melebur dosa dan kesalahan, itulah mengapa di hari raya Idul Fitri ada tradisi saling memaafkan.

Sedangkan laburan bermakna menyucikan hati.

Labur dari arti kata kapur (bahasa Jawa, yang berarti putih), menyimbolkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.

Makna 3 Bahan Ketupat

Ketupat terbuat dari tiga bahan utama, yaitu janur kuning, beras, dan santan.

Setiap bahan-bahan tersebut juga memiliki filosofi dan makna masing-masing.

Janur kuning yang menjadi salah satu bahan untuk membuat ketupat juga diartikan sebagai penolak bala bagi orang Jawa.

Berita Terkait:  Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Penghargaan Indonesia Best CEO 2025

Janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani).

Sedangkan anyaman ketupat dianggap sebagai bentuk kesalahan-kesalahan yang diperbuat manusia.

Namun, ada juga yang mengartikan sebagai lambang kesatuan dan persaudaraan.

Kemudian untuk beras, sering diartikan sebagai simbol kemakmuran.

Beras di ketupat juga sebagai doa agar masyarakat diberi kelimpahan setelah hari raya.

Sementara itu, ada santan yang dalam bahasa Jawa santen, berirama dengan kata ngapunten yang berarti memohon maaf. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI