Barometer Bali | Gianyar – Dikenal sebagai Monkey Forest Ubud, The Sacred Monkey Forest Sanctuary merupakan salah satu destinasi ikonik Bali yang terletak di Desa Padangtegal, Ubud.
Kawasan hutan seluas 12,5 hektare ini menjadi rumah bagi lebih dari 1.200 ekor kera ekor panjang yang hidup bebas di habitat alaminya.
Laman Monkey Forest Ubud melansir kawasan ini bukan hanya sekadar ruang konservasi bagi masyarakat Bali, juga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang mendalam.
Sejak abad ke-14, hutan itu dipercaya sebagai tempat suci yang menaungi kekuatan spiritual serta roh pelindung.
Kehadiran monyet di dalamnya pun dimaknai sebagai simbol perlindungan sekaligus bahaya.
Dari situlah terbentuk relasi unik antara manusia dan satwa liar.
Memasuki abad ke-20, kawasan ini semakin mendapat pengakuan penting sebagai lokasi konservasi.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian alam, mengembangkan pariwisata berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya dan lingkungan.
Kini, Monkey Forest Ubud berdiri sebagai salah satu suaka alam paling berharga di Bali.
Di tempat ini wisatawan bisa merasakan kedekatan dengan alam, menyaksikan kelincahan monyet, dan ikut mendukung program konservasi yang dijalankan.
Mengenal Lebih Dekat Monyet di Monkey Forest Ubud
Saat ini terdapat sekitar 1.260 ekor monyet yang mendiami hutan ini yang terbagi dalam 10 kelompok besar: Kelompok Pura, Kelompok Selatan, Kelompok Hutan Baru, Kelompok Ashram, Kelompok Tengah, Kelompok Timur, Kelompok Michelin, Kelompok Utara, Kelompok Pemakaman, dan Kelompok Atap.
Masing-masing kelompok terdiri dari 110 hingga 230 individu dengan kategori usia mulai dari bayi, remaja, hingga dewasa.
Memahami Filosofi dan Kebudayaan Bali
Tak hanya menawarkan interaksi dengan satwa liar, kawasan ini juga menyuguhkan kekayaan budaya Bali.
Di dalam hutan, pengunjung dapat menyaksikan beragam tarian tradisional.
Salah satunya adalah Tari Lubdaka, yang berakar dari epos Mahabharata dan menuturkan kisah Lubdaka lewat gerakan anggun, gestur penuh makna, serta kostum yang meriah.
Ada pula Tari Katak, sebuah tarian unik yang terinspirasi dari kelincahan katak.
Lewat gerakan lincah para penarinya, tari ini menggambarkan energi serta dinamika kehidupan yang hidup dalam kebudayaan Bali.
Menapaki Pura Bersejarah dan Jejak Spiritual
Hutan Monyet Ubud juga dikenal dengan pura-pura bersejarahnya.
Berdasarkan catatan Pura Purana yaitu naskah kuno dari daun lontar, kuil-kuil di dalam kawasan ini dibangun pada pertengahan abad ke-14, saat Bali berada di bawah pemerintahan Dinasti Pejeng, yang kemudian berkembang menjadi Dinasti Gelgel.
Pura-pura tersebut menyimpan keindahan arsitektur khas Bali sekaligus nilai spiritual yang mendalam.
Beberapa di antaranya adalah Candi Terbelah, Patung Dewi Dhurga, Simbol Aspek Empat Persaudaraan, hingga Gua Durgama yang kaya makna.
Tak heran jika banyak wisatawan yang merasa pengalaman berkunjungnya begitu berkesan.
Seorang pengunjung bernama Bernie F menuliskan ulasannya di Tripadvisor, “Tempat yang luar biasa. Bisa dekat dan mengenal monyet-monyet nakal ini secara langsung dan merasakannya di habitat aslinya. Layak dikunjungi” tulisnya. (ari)











