Kolase foto: Nuanu Creative City melalui Nuanu Social Fund berkolaborasi dengan Karang Taruna GAPERA dalam mendukung tradisi pembuatan Ogoh-Ogoh di 13 Banjar di Desa Beraban menyambut Perayaan Nyepi 1947 Saka. (barometerbali/rah)
Tabanan | Barometer Bali – Hari Raya Nyepi, momen sakral bagi umat Hindu di Bali, bukan hanya sekadar waktu untuk refleksi spiritual, tetapi juga menjadi ajang memperkuat hubungan sosial dan budaya. Tahun ini, Nuanu Creative City melalui Nuanu Social Fund berkolaborasi dengan Karang Taruna GAPERA dalam mendukung tradisi pembuatan Ogoh-Ogoh di 13 Banjar di Desa Beraban.
Kolaborasi ini merupakan wujud nyata dari semangat ngayah, sebuah nilai luhur dalam budaya Bali yang menekankan kerja sama dan gotong royong. Sejak awal Februari hingga akhir Maret 2025, Nuanu memberikan kontribusi sebesar Rp 61.050.000 melalui Karang Taruna GAPERA untuk mendukung proses pembuatan Ogoh-Ogoh, termasuk penyediaan bahan, dokumentasi, serta konsumsi bagi komunitas.
Puncak Perayaan: Parade Pengerupukan Ogoh-Ogoh
Puncak dari kolaborasi ini adalah Parade Pengerupukan Ogoh-Ogoh yang akan digelar pada 28 Maret 2025 di Lapangan Umum Desa Beraban. Dalam parade ini, karya seni Ogoh-Ogoh dari setiap Banjar akan ditampilkan, melambangkan makna spiritual yang dalam serta filosofi kehidupan bagi masyarakat Bali.
“Budaya Bali memiliki pengaruh yang kuat bahkan di luar pulau ini,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director Nuanu. “Melalui ngayah, kami ingin membangun pemahaman dan rasa memiliki yang lebih dalam terhadap warisan budaya ini.”
Ogoh-Ogoh: Refleksi Budaya dan Filosofi Kehidupan
Setiap Banjar di Desa Beraban menciptakan Ogoh-Ogoh dengan tema yang unik, mencerminkan berbagai aspek kehidupan dan nilai filosofis Hindu. Beberapa karya yang menarik perhatian tahun ini antara lain:
Sakshi Lila Maya (Banjar Batugaing Kaja) – Menggambarkan Dewi saksi perubahan zaman yang mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam ilusi duniawi.
Catur Datu (Banjar Beraban) – Melambangkan empat elemen utama kehidupan: Api, Air, Tanah, dan Udara, sebagai pengingat pentingnya keseimbangan alam.
Layon Sari lan Jaya Prana (Banjar Ulundesa) – Mengisahkan legenda cinta dan pengorbanan Jaya Prana serta Layon Sari, melambangkan kesetiaan dan tragedi akibat keserakahan.
Mahesa Sura (Banjar Batan Buah Kaja) – Mengangkat kisah raksasa berkepala kerbau dalam mitologi Hindu yang melambangkan kesombongan dan nafsu yang harus ditaklukkan oleh kebaikan.
Selain sebagai bentuk ekspresi seni, Ogoh-Ogoh juga menjadi cerminan kondisi dunia, pengingat tentang keseimbangan yang harus dijaga, serta jembatan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat untuk saling memahami dan menghargai perbedaan.
Seni sebagai Perekat Budaya
Partisipasi aktif Nuanu dalam tradisi Nyepi menunjukkan komitmen untuk mendukung pelestarian budaya Bali sekaligus mengajak komunitas global untuk memahami filosofi mendalam di balik ritual ini.
“Kami ingin menegaskan bahwa Nuanu adalah bagian dari Bali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara budaya dan spiritual,” kata I Made Deny Arsana Putra, Arsitek Utama Sakshi Lila Maya dan Artis dari Nuanu Art Village.
Melalui semangat gotong royong dan integrasi budaya, kolaborasi ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan peluang untuk membangun keharmonisan. Tradisi dapat terus berkembang dan membawa pesan mendalam bagi generasi mendatang. (rah)











