I Gusti Ngurah Arimbawa berpulang ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada 28 Januari 2026, dalam usia 84 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus kenangan tentang sosok sederhana yang menjalani hidup dengan kejujuran, ketekunan, dan pandangan jauh ke depan. Almarhum adalah figur pekerja keras dan visioner, yang perjalanan hidupnya menjadi teladan nyata bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Salah satu babak paling menentukan dalam hidup almarhum terjadi pada tahun 1972. Dengan keberanian dan tekad besar, ia memutuskan pindah dari Klungkung ke Denpasar bersama anak-anaknya yang masih kecil. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas dan tanpa pekerjaan tetap, almarhum mengambil keputusan yang tidak mudah: menjual perhiasan keluarga demi membeli sebidang tanah di kawasan Kereneng, yang kini dikenal sebagai Jalan Tunjung, Desa Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara.
Hari-hari awal kepindahan itu dipenuhi kebingungan dan ketidakpastian. Almarhum berkeliling mencari pekerjaan ke berbagai tempat, hingga suatu hari langkahnya terhenti di sebuah rumah yang sedang dibangun. Pemilik rumah membutuhkan pasir dan bahan bangunan lainnya. Dari kebutuhan sederhana itulah, I Gusti Ngurah Arimbawa melihat peluang. Ia mencari pemasok dan mengantarkan bahan bangunan kepada pemesan. Usaha kecil yang berangkat dari kepekaan dan kejujuran itu perlahan tumbuh, dipupuk oleh kerja keras dan konsistensi.
Seiring waktu, aktivitas sederhana tersebut berkembang menjadi toko bahan bangunan dan material yang ditekuni almarhum selama puluhan tahun hingga memasuki usia senja. Usaha itu bukan hanya menjadi penopang kehidupan keluarga, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Kepercayaan pelanggan tumbuh seiring reputasi almarhum sebagai pedagang yang jujur dan dapat diandalkan.
Di luar dunia usaha, almarhum juga meninggalkan warisan sosial dan budaya yang tak kalah berharga. Ia dikenal sebagai tokoh adat yang disegani di lingkungan tempat tinggalnya. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.
Keluarga almarhum pun dikenal sebagai keluarga seniman. Salah satu warisan budaya tersebut terwujud melalui grup band XXX (Triple X) yang berdiri pada tahun 2003 dan telah melahirkan sejumlah karya musik populer. Hingga kini, grup band tersebut tetap eksis dan diterima luas oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satu putra almarhum, I Gusti Ngurah Murthana yang akrab disapa Rah Man, merupakan anak ketiga dan berperan sebagai manajer grup band XXX (Triple X). Ia juga dikenal melalui bendera Jaya Giri Production, sebagai pengusaha sukses di bidang advertising, production house, dan event organizer, dengan kiprah yang luas di industri kreatif.
Almarhum dikaruniai sembilan orang anak. Anak pertama dan kedua telah berpulang mendahului beliau. Anak-anak yang masih hidup yakni Rahman, Rahtut, Rahtwo, Rahde, Rahmink, Rah Alit, dan Ary Maya. Ary Maya dikenal sebagai vokalis lagu Denpasar Kotaku. Hingga kini, anak-anak almarhum tergolong telah berhasil dan mapan dalam kehidupan masing-masing, baik di bidang usaha maupun profesi yang mereka tekuni.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan almarhum sejak dini: kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, serta keberanian menghadapi tantangan hidup. Nilai-nilai itulah yang kini menjadi warisan paling berharga—jejak kehidupan yang terus hidup dalam langkah anak-anaknya, keluarga besar, dan masyarakat yang pernah disentuh oleh keteladanan almarhum.
Selamat jalan, I Gusti Ngurah Arimbawa. Terima kasih atas jejak hidup yang bermakna dan warisan nilai yang akan terus dikenang. (red)











