Pansel Klaim Seleksi Rektor UNHI Bebas dari Bias dan Profesional

Screenshot_20251029_100708_Photo Editor
Ketua Pansel calon Rektor UNHI Prof Wayan Wita (kanan) dan anggota Pansel dari unsur Senat, Prof Putu Gelgel (kiri) menyebut proses seleksi berdasarkan prinsip multi assessor agar objektif dan bebas dari bias dengan 7 kriteria utama. (barometerbali/tv.unhi)

Barometer Bali | Denpasar – Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menegaskan komitmennya untuk menjadi kampus global berlandaskan Dharma melalui proses seleksi calon rektor yang transparan, profesional, dan berintegritas.

Seleksi ini menjadi bagian dari transformasi besar UNHI dalam mewujudkan visi pendidikan tinggi Hindu yang modern namun tetap berakar pada nilai-nilai spiritual Nusantara.

Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Calon Rektor UNHI, Prof. Dr. dr. I Wayan Wita, SpJP (K) FAsCC, menyebut proses seleksi dilakukan berdasarkan prinsip multi assessor agar objektif dan bebas dari bias. Pansel terdiri dari unsur Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan Pendidikan Widya Kerthi (YPWK), serta unsur Senat dan Alumni UNHI.

Anggota Pansel dari unsur Senat, Prof. Dr. I Putu Gelgel, S.H., M.Hum, menjelaskan penilaian dilakukan berdasarkan tujuh kriteria utama: nilai dan budaya, visi dan strategi, akademik, kepemimpinan, tata kelola, jejaring kemitraan, serta inovasi dan teknologi.

“Metode Assessment Centre kami terapkan agar penilaian lebih menyeluruh dan adil. Prosesnya melibatkan psikotes, studi kasus, diskusi kelompok, presentasi visi, hingga wawancara mendalam,” jelas Prof. Gelgel.

Sebanyak 10 bakal calon rektor dinyatakan lolos seleksi administrasi dan mengikuti uji kompetensi pada 20–22 Oktober 2025. Dari hasil pleno Pansel pada 23 Oktober, tiga nama terbaik dipilih untuk melaju ke tahap debat terbuka yang akan digelar pada 30 Oktober 2025.

Langkah ini sesuai Statuta UNHI yang menegaskan keterlibatan penuh Senat dalam memberikan rekomendasi akademik kepada Badan Penyelenggara YPWK sebelum penetapan rektor baru.

Sejumlah calon rektor pun menyambut positif proses seleksi yang dinilai transparan dan berintegritas. Prof. Dr. I Wayan Winaja, M.Si, menyebut ada perubahan mendasar menuju sistem seleksi yang lebih objektif dan meritokratis. Senada, Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si menilai proses ini disiplin dan profesional, mencerminkan semangat UNHI dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang akuntabel.

Berita Terkait:  Kasus Bonnie Blue, Polisi Sebut Tak Ada Unsur Pornografi, Kakanim: Salah Gunakan Izin Tinggal

Prof. Gelgel menegaskan, “Model seleksi berbasis assessment centre ini diharapkan menjadi contoh bagi perguruan tinggi Hindu lainnya dalam menjaring pemimpin akademik yang berintegritas dan visioner.”

Dengan langkah profesional ini, UNHI menapaki babak baru menuju kampus Hindu berkelas dunia, berpijak pada Dharma, berdaya saing global, dan berkontribusi bagi kemajuan umat serta bangsa.

Diberitakan sebelumnya, proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar memicu tanda tanya besar di kalangan akademisi dan alumni. Dari sepuluh calon yang mendaftar, tujuh orang tiba-tiba dieliminasi sebelum tahap debat publik tanpa penjelasan yang jelas dari panitia seleksi.

Salah satu Alumni UNHI, Dewa Putu Sudarsana mengungkapkan bahwa seluruh calon awalnya dinyatakan lolos seleksi administrasi. Namun, menjelang debat publik, tujuh kandidat mendadak dicoret tanpa alasan terbuka.

“Keputusan itu terkesan tergesa dan menimbulkan pertanyaan besar soal dasar penilaian. Seharusnya semua calon diberi kesempatan tampil agar publik dan sivitas akademika bisa menilai langsung,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Senin (27/10/2025) malam.

Menurutnya, proses pemilihan yang tidak terbuka berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap hasil seleksi.

“Transparansi penting agar hasilnya diterima semua pihak dan mencerminkan nilai moral serta integritas,” tambahnya.

Dewa Sudarsana menuturkan proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar periode 2026-2030 dinilai janggal. Pasalnya, sejumlah kandidat dengan gelar profesor dieliminasi sebelum tahap debat publik.

Berita Terkait:  Pakar Lingkungan Kritik Aksi Truk Sampah ke Kantor Gubernur: Ganggu Ketertiban dan Cederai Citra Bali

Dewa Sudarsana pun mempertanyakan dasar keputusan Pansel meloloskan para doktor dan eliminasi para profesor.

“Apa parameter seorang ketua pansel memilih doktor dan apa ukurannya mereka menolak profesor?” tanya salah satu Pendiri Fakultas Teknik UNHI Denpasar ini.

Sementara kandidat dengan gelar doktor diloloskan oleh panitia seleksi (Pansel) ke tahap selanjutnya.

“Pertanyaannya itu, kenapa dari sekian profesor tidak ada yang lolos? sekarang pansel bilang tidak memilih rektor, tapi memilih calon, nah calon-calon itu yang harus memiliki kapabilitas untuk menjadi calon seorang rektor terpilih,” pungkas Dewa Sudarsana.

Hal senada disampaikan Prof. Dr. I Wayan Winaja, salah satu calon yang tersingkir. Ia menilai mekanisme seleksi UNHI kali ini janggal dan rawan subjektivitas.

“Semua ditentukan oleh panitia tanpa ukuran yang jelas, seolah-olah berdasarkan faktor suka dan tidak suka,” ungkapnya.

Prof. Winaja juga menyoroti struktur panitia seleksi yang dinilai kurang berpengalaman. Dari tujuh orang, hanya satu yang pernah menjabat rektor.

“Lucu saja, yang menilai calon rektor malah sebagian besar belum pernah jadi rektor,” sentilnya.

Meski menerima hasil seleksi, ia berharap ke depan ada perbaikan menyeluruh agar mekanisme lebih transparan dan objektif.

“Syarat dan mekanisme perlu ditinjau ulang agar rektor yang terpilih punya bekal kompetensi yang kuat,” harap Prof Winaja.

Sementara itu, Ketua Panitia Seleksi Rektor UNHI, Prof. dr. I Wayan Wita, menegaskan bahwa seluruh proses sudah sesuai dengan statuta universitas.

“Penilaian dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk tes psikometrik dan studi kasus oleh pihak independen,” beber Prof Wita.

Namun, klarifikasi tersebut belum cukup menjawab kejanggalan yang disoroti publik dan para calon.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Terima Pengaduan Krama Adat Soal Akses Pura di Kawasan PT Jimbaran Hijau

Nama-nama Calon Rektor UNHI

(1) Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT.

(2) Prof. Dr. Ir. I Wayan Muka, ST., MT., IPU, ASEAN, Eng.

(3) Prof. Dr. I Gede Putu Kawiana, SE., MM.

(4) Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si.

(5) Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si.

(6) Dr. Dewa Nyoman Benni Kusyana, SE., MM.

(7) Dr. Drs. I Putu Sarjana, M.Si.

(8) Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si.

(9) Dr. Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi, SE., MM

(10) Prof. Dr. Drs. I Wayan Winaja, M.Si.

Hasil Seleksi Calon Rektor UNHI

Berdasarkan hasil seleksi dari Panitia Seleksi yang diketuai Prof Wayan Wita, terhadap 10 Calon Rektor dengan menggunakan multi metode yang terdiri dari test Psychometry Emotional Intelligence (EI) yang dilaksanakan pada Jumat 10 (sepuluh) Oktober 2025, Self-Description Assessment (Penilaian Deskripsi Diri), Case Study (Studi Kasus), Leaderless Group Discussion (LGD) yang dilaksanakan pada Senin 20 Oktober 2025, Presentasi Visi Misi, Strategi Pengembangan, Program Kerja dan Komitmen Memajukan UNHI yang dilaksanakan dua hari yakni Selasa 21 Oktober 2025 dan Rabu 22 Oktober 2025, Panitia Seleksi Calon Rektor UNHI memutuskan 3 (tiga) nama Calon Rektor yang berhak mengikuti Debat Terbuka di hadapan Senat dan unsur Civitas Akademika.

Tiga nama Calon Rektor terpilih adalah:

(1) Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si.

(2) Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT.

(3) Dr. Drs. I Putu Sarjana, M.Si.

Jadwal Debat Terbuka

Kamis, 30 Oktober 2025, Pukul 09.00 – 12.00 Wita di Aula Taman Asoka UNHI. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI