Barometer Bali | Tabanan – Di tengah tantangan krisis pupuk kimia yang masih membayangi petani, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Kabupaten Tabanan mengambil langkah konkret dalam mendukung ketahanan pangan dan transformasi sektor pertanian ke arah yang lebih berkelanjutan.
Organisasi kemasyarakatan ini resmi menggandeng PT Wahyu Tri Buana Bakti untuk menghadirkan solusi alternatif melalui penyediaan pupuk organik cair. Produk ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas kebutuhan petani dan peternak yang selama ini terkendala mahalnya harga dan terbatasnya ketersediaan pupuk kimia.
Ketua DPW PEKAT IB Provinsi Bali, Drs I Ketut Putra Wijaya, CRBD, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan program Astacita Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah pusat dalam mewujudkan pertanian hijau melalui pemanfaatan pupuk organik berbahan dasar sampah organik.
“Sebagai organisasi masyarakat yang berlandaskan cinta tanah air, DPW PEKAT IB Bali berkomitmen untuk ikut mendukung program ketahanan pangan,” jelas Putra Wijaya didampingi Sekretaris DPD PEKAT IB Tabanan IGN Khismayana Wijanegara, SH, owner Taman Ganesha Resto & Gallery Willi Sari, Direktur PT Wahyu Tri Buana Bakti, Dinar Leni Marlina, dan lainnya saat pertemuan di Taman Ganesha Resto & Gallery, Jl Gunung Agung No. 130 Tabanan, Senin (12/5/2025).
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa upaya ini juga bertujuan untuk mengubah citra organisasi dan menunjukkan kontribusi positif dalam pengembangan potensi pertanian dan perkebunan.
“Di Tabanan baru mulai, melalui lahan percontohan,” imbuh Putra Wijaya.
Dalam kesempatan itu Sekretaris DPD PEKAT IB Tabanan, IGN Khismayana Wijanegara, SH, menambahkan pentingnya aspek pemasaran pascaproduksi hasil pertanian.
“Bicara pertanian tidak cukup hanya pada peningkatan produksi. Kita juga harus memikirkan bagaimana hasil pertanian bisa dipasarkan dengan baik. Di sinilah peran kami hadir untuk menjembatani,” ungkapnya.
Menurut pria yang akrab disapa Gung Khis ini, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen PEKAT IB dalam mendukung program pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan sistem pertanian hijau, sesuai visi besar Astacita yang menekankan pentingnya keberlanjutan, kemandirian pangan, dan pengelolaan sampah organik.
“Sebagai ormas yang berlandaskan cinta tanah air, kami ingin menunjukkan kontribusi nyata kepada masyarakat, salah satunya lewat sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian Tabanan,” jelasnya.
Gung Khis juga menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat citra positif organisasi masyarakat yang selama ini masih sering disalahpahami. Dengan terjun langsung dalam mendampingi petani dan menyediakan solusi nyata, PEKAT IB Tabanan berharap mampu membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat peran strategis ormas dalam pembangunan daerah.
Tahapan awal kerja sama ini telah dimulai di Kabupaten Jembrana dengan membuat lahan percontohan. Harapannya, program serupa dapat diimplementasikan di Tabanan dan merambah ke kabupaten lainnya di Bali.
Direktur PT Wahyu Tri Buana Bakti, Dinar Leni Marlina, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai bahwa sinergi antara ormas dan dunia usaha seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangun sektor pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Pupuk organik cair Cap Gunung Slamet yang kami hadirkan tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berfungsi sebagai komposter. Bisa digunakan dari awal masa tanam hingga menjelang panen,” terang Marlina.
Ia menambahkan bahwa pupuk tersebut terbuat sepenuhnya dari limbah organik, sehingga tidak hanya membantu meningkatkan hasil produksi, tetapi juga mengedukasi masyarakat soal pentingnya pengolahan sampah.
Melalui kerja sama ini, Marlina berharap bisa memberikan kontribusi yang lebih luas, tak hanya di sektor pertanian dan peternakan, tetapi juga sebagai bagian dari kegiatan sosial seperti membantu pondok pesantren dan panti asuhan dalam mengelola tanaman pangan dan hewan ternak secara mandiri.
Kabupaten Tabanan dipilih sebagai salah satu fokus awal karena potensinya yang besar di bidang pertanian, khususnya sebagai lumbung padi di Bali. Dengan dukungan dari berbagai pihak, program ini diharapkan bisa menjadi model sukses kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis lingkungan. (red)











