Pentas Seni dan Diksi Dari Tribute To Kadek Suardana

IMG-20260210-WA0045
Foto: Perhelatan Tribute to Kadek Suardana, 7 Februari 2026 kemarin berlangsung hangat dan riang. (barometerbali/jon/rah)

Barometer Bali | Pancoran – Perhelatan Tribute to Kadek Suardana, 7 Februari 2026 kemarin berlangsung hangat dan riang. Kehangatan dan keriangan ini bukan saja ditandai oleh kehadiran yang membaur antara tokoh-tokoh publik dengan pengunjung dari berbagai kalangan  melainkan juga dari apa yang ditampilkan di panggung (kalangan) pentas, sebagai wujud persembahan.

Tokoh yang hadir itu dari budayawan hingga akademisi, antara lain Agung Rai (ARMA), Mangku Pastika, Prof Koen rektor ISI Denpasar, Prof IDG Palguna, Prof Dharma Putra, Prof Dibia, yang bahkan secara khusus tampil menari. Dari kalangan pengunjung terlihat menyambangi: aktivis Putu Suasta, Ngastawa, Pria Dharsana, Adnyana Ole, Kadek Jango Bogbog, tokoh pers Gde Hariwangsa, Rofiki Hasan hingga seniman-penyair  Yudane, Erawan, Tan Lioe Ie (Yoki), Sidia, Aryani, dan masih banyak lagi.

Hangat dan riang ini juga ditandai oleh pementasan yang sangat eksploratif dari para penampil yang secara luar biasa dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Dibuka oleh Prof I Wayan Dibia dengan tari  Topeng Tuan Tepis  dan oratori puisi dibawakan April Artison. Lewat langgam gerak yang “sederhana”, Topeng Tuan Tepis yang ditarikan langsung oleh Profesor Tari ini seperti mengingatkan nilai kebersahajaan atau kejujuran dalam berkesenian. Prof I Wayan Dibia memang salah satu tokoh yang intens bersinggungan dengan Kadek Suardana dalam berbagai proses keilmuan dan kreatif berkarya seni.

Berita Terkait:  Bikin Bangga! Mengenal 9 Tarian Bali yang Diakui UNESCO, Warisan Budaya Tak Benda

Setelah dibuka oleh “orang tua” sang Tuan Tepis itu, para mahasiswa dari Teater Warmadewa menyambung dengan Monolog Topeng-Topeng. Dinamika khas anak-anak kampus menyikapi problem kemanusiaan dan kebangsaan diramu sepenuh api dalam topeng, yang menggeliat senantiasa dari dialog menjadi monolog, atau bahkan sebaliknya.

Dilanjutkan dengan Kolaborasi Musik Ketut Lanus dan Mas Ruscita Dewi. Dua seniman ini men-teater-kan puisi berbahasa Bali karya Mas Ruscita Dewi yang dikenal juga sebagai pengajar sastra dan teater di berbagai komunitas. Sedangkan Ketut Lanus adalah Musisi etnik yang paling kerap berkolaborasi dengan Kadek Suardana. Teatrikal yang dimotori kedua alumni Sanggar Putih ini mengajak publik untuk bebas dari segala rupa kecemasan, baik individual maupun kolektif,  sebagai bentuk perjuangan tiada henti dengan retorika repetitive di bagian akhir puisinya: ayo “Mesolah! Mesolah! Mesolah!”.

Berita Terkait:  Tribute to Kadek Suardana, Merawat Api Visioner “Bali Berkesenian” ala Sanggar Putih

Ajakan ini seperti gayung bersambut dari Sanggar Bumi Bajra Sandhi. Sanggar yang terkenal dengan karya-karya eksploratif berakarkan rupa dan ruh Bali ini menampilkan Enggang Enggungf Nukilan Puisi Gambuh Masutasoma. Seperti biasa mereka tampil total layaknya orang Bali yang memandang berkesenian dan beribadah adalah laku-lakon yang sama satunya. Pegambuhan khas dan mistis, oleh sanggar yang dibegawani oleh Ida Made Dwipayana ini nampaknya berhasil menorehkan tanda seru bahwa betapa  keagungan taksu Bali  justru terletak pada ketika ada keberanian yang bertanggungjawab untuk mengeksplorasi sebebas-bebasnya. Garapan yang ditampilkan menjadi resonansi yang maha kuat terhadap laku berkesenian orang Bali kekinian seperti yang disemai Kadek Suardana.

Kemudian pentas bertajuk “pusaran-pilinan” (The Gyre), menjadi pamungkas. Repertoar ini dibawakan secara sublim oleh perupa Erawan dan komposer WG Yudane. Erawan, mungkin adalah satu-satunya pelukis yang bernyali untuk keluar dari pigura dan kanvas  yang inderawi ke dalam bentuk seni rupa yang lebih maknawi. Ia “melukis” ruang dengan langsung dirinya sendiri pengganti kuas, palet, kanvas dan pigura. Sedangkan WG Yudane, eksplorer mumpuni dunia suara adalah satu dari sedikit komposer “nak Bali” yang tak kalah bernyalinya mengarungi jumlah tak terhingga dari gelora gelombang yang dapat dihasilkan oleh melodi berbasis diatonic maupun pentatonic yang jumlah sebenarnya tak sampai lebih dari 7 nada itu. “The Gyre” yang juga menampilkan Robin Yuwell, Pranita Dewi dan Sophia Adnyana di lini oratori syair.Kolaborasi ini dapat disebutkan sebagai wujud “hibrida” seni berbasis akar tradisi dengan buah-buah kontemporer yang sesuai namanya tentu tak kenal berakhir selama hayat dikandung badan selama bumi belum kiamat.

Berita Terkait:  Koster Tegaskan Produk Lokal Tak Pakai Aksara Bali Tak Boleh Dipasarkan

Demikianlah “pentas diksi” yang sesungguhnya terjadi semalam, ketika semua yang hadir di Kalangan Ayodha larut dalam kehangatan dan keriangan mengenang tokoh bergelar “srenggi:, bernama Kadek Suardana. (jon/rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI