Pesaluk: Prosesi Pergantian Pemucuk Desa Adat Bungaya

Kolase foto: Plt Bupati Karangasem, Ketua DPRD Tk 2 Karangasem, MDA Madya dan Alit, Pak Camat dan unsur Perangkat Desa Adat Bungaya, Perbekel Bungaya Induk dan Sekdes Bungaya Kangin menghadiri Upacara Pesaluk tahun 2024 di Desa Adat Bungaya puncaknya dilaksanakan pada Jumat (4/10/2024) pukul 00.00 Wita. (barometerbali/stm)

Karangasem | barometerbali – Pesaluk tahun 2024 di Desa Adat Bungaya puncaknya dilaksanakan pada Jumat (4/10/2024) pukul 00.00 Wita (tengah malam). Prosesi pesaluk ini diawali dengan upacara ngalang/Nyengker Desa yang dilaksanakan pada tanggal 13 September 2024, pada saat ngalang ini seluruh krama desa adat tidak diperkenankan melaksanakan upacara Manusia, Pitra, Dewa dan Bhuta Yadnya selama 5 minggu kedepan sampai pelaksanaan serah terima pemucuk desa adat pada tanggal 17 Oktober 2024 di Pura Agung Besakih.

Humas Desa Adat Bungaya sekaligus Penyarikan Desa, I Wayan Sutama, SH menjelaskan adapun urutan upacara pesaluk ini dimulai dari Nyengker Desa, merupakan lekita dresta (awig desa) yang belum tertulis tetapi diyakini dan dipatuhi oleh masyarakat yang disebut ngalang (pengalang). Yaitu mulai tidak boleh diadakannya upacara manusia, dewa, bhuta dan pitra yadnya di wewidangan Desa Adat Bungaya. Ngalang/ngerampak dilakukan pada tanggal 13 September 2024, serta tiga berikutnya dilaksanakan usaba emping di Pura Beji Saga.

“Nerag dimaksudkan mencari atau menunjuk anggota dari banjar muwed atau murwa, untuk didudukkan sebagai paduluan desa enamlikur. Proses peneragan diperintahkan oleh pemucuk paduluan dalam hal ini ialah De Kebayan Wayan kepada De Baan Nyoman,
kemudian diperintahkan kepada ‘saya’ menjalankan peneragan ke bakal calon yang sudah ditentukan dalam paruman desa tegak,” terang Sutama, Sabtu (5/10/2024).

Kemudian “saya” mendatangi satu-persatu calon yang akan di-terag diminta kesanggupannya menjadi anggota paduluan desa enamlikur. Berikutnya ngemping adalah bagian dari tahapan ngelinggihang paduluan desa di mana pelaksanaannya dilakukan pada pasaran beteng, tanggal 19 September 2024 di Pura Ulun Toya dengan tujuan memohon restu kepada Ida Bhatara kemakmuran dan kelancaran pelaksanaan proses ngalinggihang.

Berita Terkait:  Teknologi AR Hidupkan Sejarah Majapahit di Tanah Lot, Kadek Yuliantara: Sejarah Kini Hadir Lebih Interaktif dan Imersif

“Dalam ritual ini hadir seluruh paduluan desa dengan tugas dan kewajibannya masing-masing; dari pemucuk paduluan desa yaitu De Kebayan Wayan, De Kebayan Nyoman memundut sebuah penyenengan ke Pura Beji Dedari untuk mengisi air suci di pura itu. De Baan Wayan, De Baan Nyoman dan De Tunda Wayan, De Tunda Nyoman mengatur anggotanya untuk membuat kekaosan,” tuturnya.

Selanjutnya ngempel, adalah suatu rangkaian acara ritual sebagai proses lahirnya generasi baru pada ririgan paduluan, pada tanggal 22 September 2024. Dalam inisiasi ini krama yang baru diterag disebut tamiu. Bersama De Kebayan Nyoman sekitar pukul 5 pagi berangkat bersama, dan diwajibkan mandi ke “Beji Pisaga”, kemudian menuju Pura Uma Desa.

Tiba di Balai Gede, duduk sesuai urutan di-terag, sambil menunggu De Kebayan Nyoman selesai melaksanakan puja ‘ngendagin’, selanjutnya prosesi dilaksanakan di Pura Ulun Toya,” ucapnya.

Pesaluk sebagai acara puncak dari prosesi Ngalinggihang paduluan desa digelar beteng, Jumat wage wuku kuningan, tanggal 4 Oktober 2024. Di pagi hari sekitar pukul 08.00.Wita, De Kebayan Nyoman, De Baan Wayan, De Baan Nyoman dan De Bakal, berangkat ke pertigaan “Pesaga” untuk menjalani ritual yang diatur oleh semua Dadong Mangku.

“Proses ritual layaknya sepasang penganten mebiakala dan melis. Selesai upacara di pertigaan dilanjutkan di rumah De Kebayan Nyoman, sekitar pukul 13.00 Wita, De Kebayan Nyoman menjalani ritual potong rambut (megotra) oleh De Mangku Puseh,” sebut Sutama.

Kurang lebih pada pukul 18.00 Wita, para pengayah dan teruna yang diberikan tugas membantu jalannya inisiasi upacara pesaluk telah siap sedia. De Kebayan, De Baan dan De Bakal, mereka memulai upacara dari Pura Maospait, kemudian tahap kedua dilanjutkan di Pura Penataran, tahap ketiga di Pura Gaduh, dan tahap keempat di Pura Puseh. Proses upacaranya sama dan berdasarkan ririgan.

Berita Terkait:  Ny Putri Koster Saksikan Drama Blanjong, Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah Bali

Pada proses terakhir, De Kebayan Nyoman berganti pakaian sebagai De Kebayan Wayan (Pesaluk: merupakan proses pergantian Pucuk pimpinan dari De Kebayan Wayan ke De Kebayan Nyoman, De Kebayan Nyoman berganti pakaian/saput dari warna hijau ke warna merah). Setelah itu De Kebayan Wayan, kemudian bergeser lewat belakang pesimpenan Ida Bhatara Gede Puseh dan berjejer di selatan pesimpenan. Hal yang serupa juga dilaksanakan pergantian pakaian dari De Baan Wayan menjadi De Kebayan Nyoman, De Baan Nyoman menjadi De Baan Wayan dan De Bakal menjadi De Baan Nyoman. De Kebayan Wayan berhenti dengan posisi menghadap ke barat dan berjalan menuju “Tangguran” (Kulkul) paci panten.

“De Kebayan Wayan memukul kentongan yang dipandu oleh De Penyarikan Desa yang berdasarkan Pakem yang sudah ada,” ucapnya.

Selesai memukul kentongan ke Kori/Candi Gelung untuk bertanya kepada anggota paduluan desa, sebagai berikut: “Adakah tuak saudaraku? “Di Jawab: “Ada”. De Kebayan Wayan kembali ketempat “Tangguran” (Kulkul), untuk mengakhiri memukul kentongan sebanyak tiga kali lagi.

Selanjutnya De Kebayan dan Paduluan desa menuju Balai Agung dan duduk sesuai ririgan yang ada, diikuti satu persatu prewayah dan prajuru desa dari De Penyarikan Desa, De Sedaan, De Penanga, De Mangku Puseh dan prewayah yang lainnya. Pada pertengahan malam (sekitar pukul 00.00 Wita), penyerahan tugas dan kewajiban kepada De Kebayan yang baru seperti “Parahyangan Pura”, Pepayon, Beji, Pasar, Margi, Palasan, alangan, bulungan, sampatan, biar panas, hujan, angin, petir menggelegar, De Kebayan Wayan harus
menjalankan kewajibannya.

Berita Terkait:  Putri Koster Minta Para Seniman Lukis Terus Ajegkan Gaya Lukisan Bali Asli

De Kebayan Wayan yang baru menjawab, “Saya minta waktu setelah duabelas hari serah terima sudah selesai”. De Kebayan Wayan dan De Kebayan Nyoman mendahului pulang untuk mencari “tengeran” suara cecak agar bisa membuka amustikaranya (puasa).

Prosesi berikutnya melancaran, merupakan pengecekan yang dilakukan oleh De Kebayan Wayan yang baru, sesaat setelah diserahkan tugas-tugasnya, De Kebayan Wayan minta waktu selama 12 hari untuk melakukan pengecekan jalan-jalan, pasar, pura-pura dan melaksanakan tirtayatra ke Pura Besakih. Serah terima tugas dilaksanakan tanggal 17 Oktober 2024 di Pura Besakih.

“Dengan telah selesainya urutan acara dari Nyengker Desa (13/9/2024) sampai Melancaran pada tanggal 17 Oktober 2024, krama desa di Bungaya dapat melaksanakan Upacara Panca Yadnya seperti biasa kembali. Pada Tahun 2024 ini yang menjadi De Kebayan Wayan adalah I Komang Gelis, sebagai De Kebayan Nyoman adalah I Komang Tingkes, sebagai De Baan Wayan adalah I Wayan Subrata dan sebagai De Baan Nyoman adalah I Gede Suardana,” urainya.

Selanjutnya yang ditetapkan sebagai De Kebayan Wayan tahun ini akan ngarep untuk usaba kelod (usaba plapuan bulan Maret 2025, usaba dasa/sumbu Juli 2025).

Pengarepan Dane De Kebayan Wayan sangatlah sakral dan memerlukan pikiran, tenaga, dana yang sangat besar dan ketenangan yang sangat mendukung.

“Dane De Kebayan Wayan sebagai
pemucuk ring Desa Adat sane jage ngastitiang gumi khususnya Desa Adat Bungaya dan seluruh Bali pada umumnya, oleh karenanya pada kesempatan ini mari kita sukseskan dan kita dukung agar Beliau mampu dan tenang dalam menghadapi segala hambatan sekala maupun niskala,” pungkas Sutama. (217)

Editor: Ngurah Dibia

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI