Peternak Ayam Kampung Diminta Manfaatkan Talas jadi Pakan Alternatif

Foto: Pemanfaatan talas sebagai pakan alternatif telah disosialisasikan dan diuji coba pada Kelompok Ternak Manuk Amertha, Dusun Segah, Desa Asahduren, Pekutatan, Jembrana, Senin (8/5/2023). (BB/FP/Unwar)

Jembrana | barometerbali – Tim akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa (FP-Unwar) meminta peternak ayam kampung untuk memanfaatkan talas sebagai pakan alternatif sebagai usaha untuk menjaga ketersediaan pakan.

Tim akademisi yang terdiri dari Dr. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, S.Pt.,MM, Ir. Ni Ketut Etty Suwitari, M.Si dan Ir. I Nyoman, Kaca, M.Si merekomendasikan pemanfaatan talas sebagai pakan alternatif karena cukup banyak tersedia di lingkungan peternak dan belum dimanfaatkan secara optimal. Apalagi pada sisi lain para peternak saat ini sedang menghadapi mahalnya pakan pabrik/komersial.

Berita Terkait:  Penetapan Tersangka Made Daging Dianggap Ngawur, GPS Praperadilankan Polda Bali

“Talas mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi berupa umbi, pelepah daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi, dan kulit umbi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi” terang Gusti Agus Putra Sanjaya yang merupakan Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat FP-Unwar saat dikonfirmasi di Denpasar, Senin (8/5/2023).

Menurut Agus Sanjaya pemanfaatan talas sebagai pakan alternatif telah disosialisasikan dan diuji coba pada Kelompok Ternak Manuk Amertha, Dusun Segah, Desa Asahduren, Pekutatan, Jembrana. Para peternak ayam juga telah dibekali pengetahuan mengenai tata cara pengolahan talas menjadi pakan alternatif.

Berita Terkait:  BRI BO Ubud Toreh Prestasi Gemilang di Bawah Kepemimpinan Ony Wijayanto

Agus Sanjaya berharap melalui pemanfaatan daun talas ini peternak bisa menekan harga pakan yang cukup mahal, selain itu daun talas juga dapat meningkatkan produktivitas telur karena mempunyai nutrisi yang cukup tinggi. Mengingat biaya pakan selama ini merupakan biaya produksi terbesar dengan persentase sebesar 60-70 persen dari total biaya produksi.

Ia mengungkapkan ayam kampung belum dianggap sebagai komoditas usaha peternakan utama yang menopang penghasilan dan kesejahteraan keluarga masyarakat/kelompok ternak.

Masyarakat pedesaan memelihara ayam kampung sebagai sumber pangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan telur dan daging. Peningkatan populasi ayam kampung tidak terlepas dari tingginya permintaan masyarakat terhadap komoditas unggas lokal ini.

Berita Terkait:  Terobos Lampu Merah, Pemotor Terjun ke Saluran Air di Buleleng, Tim SAR Lakukan Pencarian

Peningkatan permintaan masyarakat telah menciptakan peluang usaha dalam budidaya ayam kampung. Ayam kampung memiliki peluang yang besar ditinjau dari agroekosistem dan lingkungan hidup, seiring dengan meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kuantitas dan kualitas bahan pangan yang bergizi dan aman dikonsumsi.

Pemanfaatan ayam kampung di Bali selain sebagai ternak penghasil daging dan telur juga digunakan sebagai sarana upakara keagamaan sebagai ayam caru (upacara kurban suci-red). Beberapa warna yang bisa dikatagorikan kedalam ayam caru di Bali yaitu ayam yang memiliki bulu dengan warna putih, kuning, hitam, merah, dan brumbun.

Editor: Ngurah Dibia

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI