Barometer Bali | Denpasar – Di panggung Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Sabtu 1 Februari 2026, Gubernur Bali Wayan Koster tidak sekadar membuka Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026. Ia sedang mengirim pesan penting, terkait peradaban Bali tidak boleh tercerabut dari akarnya sendiri.
Bagi Koster, Aksara Bali bukan ornamen budaya, bukan sekadar hiasan di gapura atau baliho seremoni. Ia menyebutnya sebagai pondasi dasar peradaban dan jati diri nak Bali. Pernyataan ini seperti tamparan halus bagi zaman yang kian gemar memuja modernitas tanpa akar.
Di tengah gempuran bahasa global dan budaya instan, aksara Bali ditegaskan sebagai fondasi yang menegakkan ingatan kolektif, etika, dan cara pandang orang Bali terhadap dunia. Hilang aksara, rapuhlah identitas.
Nada yang sama mengeras saat ia menyinggung Bahasa Bali. Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi identitas hidup. Dan identitas itu kini berada di tangan generasi muda. Mereka disebut sebagai penjaga masa depan bahasa Bali bukan dalam arti simbolik, melainkan tanggung jawab nyata.
Generasi muda, kata Koster, harus bangga berbahasa Bali. Sebab di sanalah tersimpan cara berpikir, tata krama, filosofi, hingga rasa hormat orang Bali terhadap sesama dan alam. Jika bahasa ditinggalkan, yang ikut pudar bukan hanya kosakata, tapi watak kebudayaan.
Pidato itu lalu ditarik lebih dalam ke ranah filosofis melalui konsep Sad Kerthi Loka Bali. Enam sumber keseimbangan hidup, Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Enam unsur ini ditegaskan sebagai fondasi harmoni antara manusia, alam, dan semesta. Namun Koster tidak memposisikannya sebagai doktrin kosong. Ia mengaitkannya langsung dengan penguatan aksara dan bahasa Bali.
Logikanya jelas, menguatkan aksara dan bahasa Bali di kalangan generasi muda berarti menghidupkan nilai-nilai Sad Kerthi itu sendiri. Bahasa mengajarkan tata hubungan manusia dengan manusia (Jana Kerthi), dengan alam (Wana, Danu, Segara Kerthi), dengan jiwa dan spiritualitas (Atma Kerthi), hingga keseimbangan semesta (Jagat Kerthi). Tanpa bahasa ibu, nilai-nilai itu kehilangan medium pewarisan paling efektif.
Di titik inilah pidato Koster melampaui seremoni kebahasaan. Ia sedang bicara soal arah peradaban. Bali, dalam pandangannya, tidak cukup hanya kuat di pariwisata dan infrastruktur. Bali harus kokoh dalam jati diri. Aksara dan bahasa Bali ditempatkan sebagai benteng terakhir penjaga kehormatan peradaban yang tak bisa digantikan teknologi, investasi, atau gemerlap globalisasi. Bulan Bahasa Bali tidak saja sebagai agenda rutin tahunan. Namun, ia diposisikan sebagai gerakan kebudayaan, memastikan generasi muda tidak menjadi tamu di tanah budayanya sendiri.***











