Barometer Bali | Badung – PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengungkapkan pertumbuhan konsumsi listrik bagi konsumen di Bali tercatat terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pariwisata di Pulau Dewata.
Manager PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (PLN UP2B Bali) Komang Teddy Indra Kusuma, mengatakan konsumsi listrik paling besar terjadi di sektor pariwisata yang ditopang oleh usaha-usaha akomodasi villa, hotel, restauran dan lainnya. Setidaknya 85 persen listrik di Bali terserap ke industri pariwisata.
Pertumbuhan positif tersebut, kata Indra, menempatkan Bali sebagai daerah tertinggi pertumbuhan konsumen di Indonesia.
“Untuk beban kerja kami di tahun 2024 di 1.186 MW dan tahun ini di Februari kemarin tanggal 5 kami mencapai 1.180 MW berbeda sedikit, namun kalau kita lihat pertumbuhan yang ada di Bali ini di tahun 2024 pertumbuhan konsumen untuk distribusi Bali tertinggi di Indonesia sekitar 16-17 persen,” jelasnya, di Badung, Kamis (26/6/2025)
Dia menjelaskan daya mampu listrik di Bali mencapai 1.388 MW yang berasal dari PLTU Paiton, Jawa Timur maupun pembangkit-pembangkit yang ada di Bali seperti PLTG Pesanggaran, PLTU Celukan Bawang, PLTD Pesanggaran, PLTG Gilimanuk, PLTU Pemaron, PLTD Kutampi serta PLTS yang ada di beberapa lokasi.
Meskipun demikian, Indra Kusuma, katakan, PLN tetap melakukan perbaikan dan penambahan pembangkit agar peristiwa pemadaman listrik atau blackout pada 2 Mei 2025 lalu tidak terulang kembali.
Ia menerangkan, gangguan pada kabel laut menyebabkan lonjakan beban di pembangkit-pembangkit listrik di Bali. Sehingga ketika pembangkit tidak kuat menahan beban tersebut, satu per satu mengalami penurunan hingga seluruh sistem padam. Padahal 30 persen kebutuhan listrik Bali bersumber dari Pulau Jawa.
“Ada penambahan pembangkit-pembangkit sewa yang ada di Bali untuk membantu menstabilkan frekuensi, menstabilkan tegangan maupun stabilitas secara keseluruhan di pulau Bali,” katanya.
Setelah gangguan tersebut, pihaknya mengaku sudah bertemu dengan Gubernur Bali Wayan Koster untuk mempercepat program Bali Mandiri Energi.
Pihaknya sangat mendukung program Bali Mandiri Energi, namun untuk berpisah sepenuhnya dari pembangkit listrik di luar Bali untuk konteks Bali sekarang tidaklah mudah.
“Bali Energi Mandiri ini tidak selamanya mengatakan terpisah dari Jawa, namun akan ada. Dalam kondisi bali sekarang ini kami rasa secara andalan belum masuk, namun dari program Bali Mandiri Energi itu kami juga melihat kabel yang ke Jawa tidak dilepas, namun hanya nol. Jadi, benar-benar Bali itu mandiri secara energi,” paparnya.
Hal lain yang masih dipertimbangkan adalah mayoritas pembangkit yang ada di Bali masih bergantung pada BBM yang tentu dari segi ekonomi lebih mahal dibandingkan pembangkit di Jawa yang menggunakan tenaga uap.
Meskipun begitu, pihaknya berharap dengan dukungan pemerintah dalam program Bali Energi Mandiri bisa menambahkan pembangkit yang banyak sehingga mencukupi untuk kebutuhan Bali.
Apalagi melihat potensi energi di Bali sendiri yang sudah terpetakan di Bali timur dan Bali barat sekitar 1500 MW untuk solar panel. Potensi PLTS juga terdapat di sejumlah wilayah lain di Bali yang jika dioptimalkan mempercepat Bali mandiri energi.
“Kami dari PLN tentunya sangat berkomitmen untuk menjaga kelistrikan di Bali karena Bali ini adalah muka dunia, harapannya Bali ini selalu ada, tidak ada pemadaman,” pungkas Komang Teddy Indra Kusuma. (rian)











