Prof Sucipta Soroti Wacana Perang Dunia III: Risiko Ada, Tapi Bukan Keniscayaan Sejarah

Screenshot_20260303_112342_ChatGPT
Rektor Universitas Bali Dwipa (UBAD) Denpasar, Prof. Nyoman Sucipta, menilai isu Perang Dunia III perlu dilihat secara akademik dan rasional, bukan semata melalui narasi ketakutan kolektif. (barometerbali/ilustrasi/ai)

Barometer Bali | Denpasar – Wacana mengenai potensi Perang Dunia III kembali mengemuka di tengah memanasnya dinamika geopolitik global. Rektor Universitas Bali Dwipa (UBAD) Denpasar, Prof. Nyoman Sucipta, menilai isu tersebut perlu dilihat secara akademik dan rasional, bukan semata melalui narasi ketakutan kolektif.

Menurutnya, istilah “Perang Dunia III” bukan hanya prediksi militer, melainkan juga konstruksi geopolitik dalam kajian hubungan internasional.

“Dalam perspektif akademik, wacana Perang Dunia III harus dibaca sebagai konstruksi geopolitik. Ia bukan sekadar ancaman militer, tetapi bagian dari dinamika kekuasaan dalam sistem internasional yang anarkis,” ujar Prof. Sucipta.

Dibaca dari Teori Hubungan Internasional
Prof. Sucipta menjelaskan, dalam teori realisme seperti yang dikemukakan Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz, konflik merupakan konsekuensi alami dari perebutan kekuasaan antarnegara. Sementara liberalisme menekankan pentingnya kerja sama internasional melalui institusi global seperti PBB untuk meredam konflik besar.

Adapun konstruktivisme melihat identitas, ideologi, dan narasi politik sebagai faktor pembentuk persepsi ancaman.

“Sejarah menunjukkan dua perang dunia dipicu oleh kombinasi nasionalisme ekstrem, aliansi militer, krisis ekonomi, dan perlombaan senjata. Pola ini menjadi referensi dalam membaca situasi global saat ini,” jelasnya.

Berita Terkait:  Waspada! 15 Jenis Makanan Ini Berisiko Mengandung Mikroplastik Tertinggi

Faktor Pemicu Potensial

Ia memaparkan sejumlah faktor yang berpotensi memicu eskalasi global, mulai dari konflik kawasan strategis seperti Timur Tengah, Laut Tiongkok Selatan, hingga Eropa Timur yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

Dalam sistem multipolar saat ini, lanjutnya, risiko salah kalkulasi antar kekuatan besar lebih tinggi dibanding era bipolar Perang Dingin.

Selain itu, polarisasi ideologi antara demokrasi liberal dan otoritarianisme, persaingan teknologi seperti AI dan semikonduktor, serta perebutan sumber daya strategis seperti nikel dan lithium turut memperkuat rivalitas global.

“Perang modern tidak selalu berbentuk konvensional. Ia bisa hadir dalam bentuk perang dagang, sanksi ekonomi, blokade teknologi, hingga perang siber. Inilah yang disebut sebagai geo-ekonomi dan perang hibrida,” tegasnya.

Di sisi lain, keberadaan senjata nuklir dengan doktrin Mutual Assured Destruction (MAD) justru menjadi faktor penangkal perang total antarnegara besar. Namun, ancaman baru muncul dari senjata hipersonik, militerisasi luar angkasa, hingga kecerdasan buatan dalam sistem persenjataan.

Dampak Jika Terjadi

Prof. Sucipta mengingatkan bahwa jika perang global benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat luas. Secara ekonomi, sistem perdagangan internasional bisa runtuh, memicu krisis pangan dan energi, inflasi ekstrem, hingga kolapsnya pasar keuangan.

Berita Terkait:  6 Makanan dan Minuman yang Dikira Sehat Ini Ternyata Bisa Picu Masalah Kesehatan, Jangan Tertipu Label!

Dari sisi lingkungan, potensi nuclear winter dan kerusakan ekosistem menjadi ancaman serius. Sementara secara sosial, dunia akan menghadapi gelombang pengungsi massal, instabilitas politik, dan konflik horizontal.

“Globalisasi membuat ekonomi saling tergantung. Artinya, perang besar akan memicu depresi global yang tidak mengenal batas negara,” tandasnya.

Posisi Strategis Indonesia

Dalam konteks Indonesia, Prof. Sucipta menegaskan bahwa politik luar negeri bebas dan aktif menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas.

Landasan tersebut, katanya, sejalan dengan mandat Pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Indonesia berperan aktif dalam ASEAN sebagai stabilisator kawasan serta Gerakan Non-Blok sebagai simbol netralitas strategis. Meski relatif aman dari konflik langsung, Indonesia tetap rentan terhadap dampak tidak langsung seperti gangguan perdagangan, krisis energi, fluktuasi nilai tukar, dan disrupsi rantai pasok.

“Bagi Bali dan Denpasar yang sangat bergantung pada pariwisata global, setiap eskalasi konflik internasional dapat berdampak langsung pada mobilitas wisatawan dan stabilitas ekonomi daerah,” tambahnya.

Berita Terkait:  Video Viral Sukorejo: Aktivis atau Penggiring Opini?

Tidak Inevitable

Menjawab pertanyaan apakah Perang Dunia III tak terhindarkan, Prof. Sucipta menilai risiko eskalasi memang ada, namun tidak bersifat deterministik.

Ia mengutip teori Thucydides Trap yang menyebut konflik kerap terjadi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kekuatan baru. Namun di sisi lain, globalisasi dan interdependensi ekonomi justru menurunkan kemungkinan perang total.

“Perang besar lebih mungkin hadir dalam bentuk konflik hibrida daripada perang konvensional global. Diplomasi multilateral dan kerja sama regional tetap menjadi instrumen utama pencegahan,” harapnya.

Pentingnya Sikap Rasional

Prof. Sucipta juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi spekulatif yang diperkuat media dan psikologi ketakutan kolektif.

“Secara akademik, kita harus membedakan antara risiko objektif berbasis indikator geopolitik dan narasi yang membesar-besarkan ancaman. Sikap rasional adalah meningkatkan literasi geopolitik, memperkuat ketahanan nasional, dan mendukung diplomasi damai,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa Perang Dunia III adalah kemungkinan teoritis dalam sistem internasional yang kompetitif, tetapi bukan keniscayaan sejarah.

“Kontribusi Indonesia pada perdamaian dunia bukan sekadar pilihan politik, melainkan panggilan historis dan moral bangsa sebagaimana mandat konstitusi,” tutup Prof. Nyoman Sucipta. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI