Proyek Sukla Mahayuning Loka Bali Olah Sampah di Pura Besakih

Foto: Stakeholder dari Bali Waste Cycle (BWC), Rebricks, dan Yayasan Wastehub Alam Lestari (Wastehub®️) berkolaborasi dalam Sukla Project, di Pura Besakih, Karangasem, Rabu, (8/11/2023). (Sumber: Wan/K2PS).

Denpasar | barometerbali – Masyarakat yang selama ini mengeluhkan sampah di Pura Besakih Karangasem dalam waktu dekat ini akan mendapatkan solusi seperti harapan semua pihak. Hal ini menyusul peluncuran proyek pengolahan sampah yang diberi titel, “Sukla Mahayuning Loka Bali”, di Pura Besakih pada Rabu, (8/11/2023).

Desainnya adalah percontohan pengolahan sampah berbasis sumber bersama konsorsium dari Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) menggandeng penyandang dana GoTo Impact Foundation (GIF) atau organisasi penggerak dampak sampah.
Entri poinnya adalah mengembalikan kelestarian jagat Bali lewat sistem pengelolaan sampah di area Desa Besakih, Bali. Proyek percontohan ini diharapkan bisa diadopsi dengan mudah oleh destinasi wisata lain di seluruh Bali.
Kepala Desa Besakih I Wayan Benya mengatakan, Desa Besakih adalah rumah untuk pura terbesar di Indonesia yaitu Pura Agung Besakih yang berperan sebagai tempat ibadah dan wisata kelas dunia.

Disebutkan, dengan total populasi 7.564 penduduk serta dikunjungi 600 pemedek (peziarah) setiap harinya, area ini diestimasi memproduksi sampah sebesar 7,5 ton/hari dari sampah residensial dan upacara adat di pura.

“Kami menyambut baik proyek Sukla Mahayuning Loka Bali” ini agar sampah di Besakih bisa tertangani dengan baik,” sambut Wayan Benya.

Diakui, dari total jumlah sampah yang diproduksi, hanya 6,78% sampah yang terkelola dan sisanya dibuang ke tempat pembuangan sampah terbuka. Setiap pemangku kepentingan sudah melakukan tugas masing-masing, mulai dari desa dinas sampai pura.

Berita Terkait:  Bali Darurat Narkoba, Koster Serukan Gerakan Masif Berbasis Desa Adat

Namun, usaha tersebut masih dilakukan sendiri-sendiri alias belum dilakukan secara kolaboratif. Termasuk membangun TPS3R (Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dan pengempon (pengelola) pura yang sudah melakukan pengangkutan sampah setiap harinya. Namun, usaha tersebut belum terintegrasi secara sistematis dari hulu sampai hilir.
Head of Program and Strategy GoTo Impact Foundation Nadia Hanim mengatakan, sampah yang bocor menjadi persoalan serius untuk ditangani, apalagi di kawasan destinasi dunia seperti di Pura Besakih ini.

“Memang sudah banyak upaya dilakukan, tetapi semuanya masih berjalan sendiri-sendiri. Semua elemen terkait harus bersatu padu menangani sampah di Besakih ini, karena kawasan suci ini harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa GIF hanya sebagai penggerak awal saja. Diharapkan akan ada banyak pihak yang terlibat dalam penanganan sampah di Pura Besakih.

Hal senada disampaikan Chairperson GIF Monica Oudang. Menurutnya, setelah tiga tahun berjalan, GIF menyadari bahwa upaya yang dilakukan sendiri-sendiri tidak cukup untuk menghasilkan perubahan sistemik jangka panjang.
Sebab itulah GIF menghadirkan CCE yang menggunakan pendekatan innovation ecosystem sebagai cara baru untuk menjawab permasalahan sampah di Desa Besakih.

Bak gayung bersambut, upaya pengolahan sampah di kawasan suci ini disambut baik Penjabat Gubernur Provinsi Bali, Sang Made Mahendra Jaya.
Pihaknya menyambut baik upaya GIF dan changemakers dalam membantu pengolahan sampah di Desa Besakih, area yang sakral bagi masyarakat Bali.
Menurutnya, proyek ini sejalan dengan semangat ngrombo, bergotong royong senyawa semua pihak untuk saling belajar dan berinovasi.

Berita Terkait:  Diduga Sopir Kurang Konsentrasi, Truk Hino Picu Kecelakaan Beruntun di Jalur Denpasar–Gilimanuk

”Saya mengajak seluruh elemen untuk bergotong royong dengan mengedepankan tujuan bersama, sehingga inisiatif ini bisa bergulir dari Besakih ke berbagai kawasan suci maupun destinasi wisata lain di Bali,” harapnya.

Proyek pengolahan sampah ini dikerjakan konsorsium terpilih, yaitu Bali Waste Cycle (BWC), Rebricks, dan Yayasan Wastehub Alam Lestari (Wastehub®️).
Stakeholder ini akan menjalankan proyek percontohan Sukla di Desa Besakih yang merupakan hasil kolaborasi dengan Kemenparekraf, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Bali termasuk Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Karangasem beserta jajaran dinas, Desa Besakih, Balai Pengelola Kawasan Pura Besakih, Universitas Udayana, pengelola sampah organik berizin edar, serta pelibatan masyarakat lokal, peziarah, dan wisatawan.

Perwakilan Project Sukla Mahayuning Loka Bali dari Bali Waste Cycle (BWC) Olivia Anastasia Padang, menekankan tiga penyelesaian pengolahan sampah di Pura Besakih. Yaitu, rekayasa teknologi pengolahan sampah, pengolahan residu menjadi produk turunan yang bermanfaat dan pengolahan sampah berbasis sumber.
“Saat ini sampah yang bisa terolah dari 7,5 ton perbulan tersebut baru mencapai 6,7 persen. Tahun depan kami targetkan 90 persen sampah akan ditangani dengan baik,” tandasnya, dalam sesi diskusi panel.

Selaku perwakilan dari konsorsium changemakers penggagas Sukla Project, Olivia menjelaskan pola ini menggabungkan metode pengelolaan sampah secara konvensional dan non-konvensional melalui tiga solusi utama.
Yaitu, rekayasa teknologi pengolahan sampah dan residu menjadi RDF (Refuse-Derived Fuel).

Menurutnya, teknologi ini bisa meningkatkan efisiensi pemilahan dan mengubah limbah residu secara efektif menjadi bahan bakar co-firing, sehingga menghasilkan solusi energi baru terbarukan yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Minta Etalase Khusus Arak Bali di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Kedua, menciptakan produk ramah lingkungan dari plastik bernilai rendah dan mempromosikan penggunaan produk tersebut ke bisnis HORECA (Hotel, Restoran, dan Kafe), mendorong pariwisata berkelanjutan, dan pertumbuhan ekonomi di Bali.
Ketiga, melakukan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal, peziarah, dan wisatawan pura di Desa Besakih untuk mengelola sampah dari sumber. Sebab tegasnya, mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah menjadi awal yang sangat penting.

“Proyek percontohan yang kami gagas bersama GIF diharapkan dapat menekan potensi terjadinya kebakaran di TPS, mengurangi risiko banjir akibat sumbatan sampah, mencegah kebocoran sampah ke laut saat musim hujan,” sebut Olivia.

Selain itu berkontribusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, serta memberikan nilai ekonomi bagi pihak yang terlibat.
Sementara itu, dalam sesi diskusi panel, akademisi Universitas Udayana, Dr. Ngakan Ketut Achwin Dwijendra mengingatkan pentingnya kolaborasi yang dibarengi dengan konsistensi dan kontinyuitas agar persoalan sampah menjadi tuntas.

Hingga 2024, Sukla menargetkan peningkatan pengelolaan sampah menjadi 90% melalui edukasi dan penerapan hukum adat, penciptaan lapangan kerja baru, dan pemberian tambahan pendapatan bagi pihak yang terlibat. Kami berharap, CCE dan proyek percontohan Sukla dapat menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih, dan indah bagi masyarakat lokal, umat Hindu yang beribadah, maupun wisatawan yang berkunjung, bukan hanya di area Besakih, tapi juga di seluruh jagat Bali. Saya mengundang semua elemen masyarakat untuk Bergerak, Berdampak, Bersama, merevolusi pengelolaan sampah di destinasi wisata di Indonesia,” tutup Monica. (213)

Editor: Ngurah Dibia

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI