Barometer Bali | Denpasar – Lebih dari 50 jurnalis media cetak, online, dan televisi di Bali mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam, Sabtu (4/10/2025), di Quest Hotel San Denpasar. Agenda ini digagas Jawa Pos TV Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendorong lahirnya jurnalisme solutif, bukan sekadar liputan bencana yang menakutkan.
Direktur Jawa Pos TV Bali, Ibnu Yunianto, menegaskan bahwa pers memiliki peran besar dalam menghadirkan informasi yang menenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Jurnalis tidak hanya melaporkan bencana, tapi juga memberi arah solusi, baik bagi korban terdampak, regulator, maupun publik yang ingin menyalurkan bantuan,” ucapnya.
Dalam sesi pemaparan, Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali Made Rentin menekankan pengelolaan sampah sebagai kunci mencegah krisis lingkungan. Ia mencontohkan Pergub Bali No. 47/2019 yang mengatur sampah berbasis sumber.
“Kalau masalah ditangani dari rumah tangga, dengan teba modern misalnya, sampah organik bisa selesai jadi pupuk tanpa keluar halaman,” jelasnya.
Dari BMKG, Kadek Setiya Wati menjelaskan perbedaan cuaca dan iklim yang kerap rancu di pemberitaan. Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman jurnalis soal fenomena cuaca ekstrem, puting beliung, hingga banjir bandang.
Sementara, Desi Purnami dari Stasiun Geofisika Denpasar memberi peringatan tentang potensi gempa di Bali.
“Kerak bumi bergerak 7 milimeter per tahun. Gerakan sekecil itu saja bisa memicu gempa besar bila energinya terlepas,” ungkapnya.
Pelatihan yang berlangsung enam jam ini menghadirkan narasumber dari BPBD Bali, Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, berikutnya Putu Eka Tulistiawan (Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Bali) dan I Made Dwi Wiratmaja (Stasiun Klimatologi Bali).
Para peserta diajak memahami fenomena iklim, pola hujan, potensi banjir, hingga risiko tsunami.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menegaskan tidak ada bencana yang disebabkan oleh satu faktor saja.
“Kuncinya ada pada pertemuan antara kerentanan dan ancaman. Misalnya saat hujan ekstrem 390 mm bertemu gelombang pasang lebih dari 2 meter, maka banjir bandang tak terhindarkan,” paparnya.
Melalui pelatihan ini, para pewarta diharapkan mampu memperkuat reportase mitigasi bencana dan menghadirkan berita yang tidak sekadar heboh, tapi juga mendidik, menyejukkan, dan solutif bagi masyarakat. (red)











